Guyonan Fisik

Posted on March 23, 2015

0


Posting saya yang sebelum ini adalah tentang Mr Bean dan bagaimana dia membuat kita tertawa. Tertawa itu sehat. Melucu juga sehat dan pantas diapresiasi. Namun, dalam ilmu Luculogi (ilmu tentang lucu-lucuan) ada satu jenis lelucon yang digolongkan “dry jokes” atau bahkan “sick jokes”. Ini adalah jenis lelucon yang umumnya menertawakan kemalangan orang lain, atau bahkan kecacatan orang lain. Makanya ia disebut “dry” karena lelucon jenis ini memicu tawa yang garing atau bahkan kecut.

 

Saya suka tertawa kalau ada beberapa rekan yang membanyol di panggung ketika acara gathering. Tapi terus terang saja saya merasa tidak nyaman kalau guyonan mereka sudah menyangkut keterbatasan fisik rekan lainnya. Bayangkan, Anda seorang yang kebetulan bertubuh subur, dan berat tubuh Anda melebihi batas normal. Apa Anda bisa tertawa lepas kalau ada rekan yang menjadikannya lelucon? “Wah, Pak A ini benar-benar berat!” Ya, mungkin untuk mereka yang merasa “ah gitu aja tersinggung” atau “anggap angin ajalah, kan hanya guyon”, lelucon macam begitu terasa bisa saja.  Tapi saya   tetap aja merasa bahwa lelucon seperti ini tidak seharusnya dilontarkan.

 

Suatu ketika saya memilih beberapa video klip untuk selingan di sela perkuliahan. Ada satu video klip lucu pol tentang bagaimana seorang yang bertubuh gemuk sedang belajar naik sepeda. Hanya lima menit sebelum kelas dimulai, saya mendadak menghapus klip itu dari USB saya. Saya tiba-tiba teringat bahwa ada seorang mahasiswa saya yang bertubuh sangat gemuk, pantas dikatakan sebagai penderita  obesitas kronis.  Saya tidak mau klip itu menyinggung perasaannya. Lebih baik kuliah biasa saja daripada ada selingan yang maksudnya mau melucu tapi malah menyinggung perasaan orang lain.

 

Bahkan dalam komunitas sekecil kampus ini ada beberapa di antara kita yang tidak dianugerahi fisik sempurna: ada yang pendek, ada yang gemuk, ada yang pincang, ada yang botak, ada yang pelat, dan wah, banyak lagi. Kalau Anda bertubuh tinggi besar bak kuda Sumatra kemudian ada seorang guru 5 feet 1 inch (alias 155 cm) lewat di depan Anda dan Anda mengatatakan: “wih, orang itu cek pendeknya!”, mungkin dia tidak mendengarnya tapi percaya lah teman Anda yang kebetulan juga tidak tinggi pasti merasa sedikit sriing! teriris perasaannya.

 

Lalu bagaimana sebaiknya membalas orang tidak peka seperti ini? Ya diacuhkan saja. Kalau saya melihat ada salah satu komen di status saya yang isinya menyinggung ke keterbatasan fisik, biasanya saya diamkan saja komen itu. Komen yang lainnnya saya “like” atau saya balas, yang kurang peka itu saya diamkan aja.

 

 

 

 

 

 

 

Tagged: , ,
Posted in: humanity