Kelas Kepemimpinan dan Festival Kampung Pecinan

Posted on March 19, 2015

0


Siang ini jam 1 saya sit in di kelas seorang rekan yang mengajar mata kuliah Kepemimpinan. Ya, ingin tahu aja lebih banyak tentang kepemimpinan dan bagaimana mahaiswa-mahasiswa saya berproses dalam kuliah yang bukan bidangnya. Kebetulan rekan saya ini masih muda tapi wawasan dan pengetahuannya luas, sehingga saya sudah ndak sungkan-sungkan lagi belajar dari dia. Emang kenapa? Kan tidak selalu yang muda belajar dari yang lebih tua? Jaman sekarang, malah ada kecenderungan terbalik.

 

Mahasiswa-mahasiswa saya cukup aktif diajar dengan pendekatan presentasi dan diskusi kelas. Setelah satu kelompok menyajikan hasil rangkumannya tentang pola kepemimpinan Martin Luther King dan Abe Lincoln, kelompok yang lain menanggapi, bertanya, atau bahkan mendebat. Kalau sudah begini ada hal-hal yang kemudian menjadi pertanyaan umum: apa itu nilai? apa itu sifat? apa itu karakter?

 

Lalu setelah diskusi selesai, rekan saya tadi menguraikan jawabannya. Ya, disinilah letak peran seorang dosen sebagai sumber pengetahuan: pada titik tertentu memang dia lah yang kemudian menjawab beberapa pertanyaan yang masih belum jelas jawabannya untuk para mahasiswanya.

 

Hasil diskusi kelas mencuatkan dua hal yang menarik: kepemimpinan informal, dan kepemimpinan formal. Menurut rekan saya itu, yang pertama bisa berlanjut menjadi yang kedua.  Kepemimpinan informal itu tanpa SK atau bahkan keribetan PAPILREK, tapi diakui oleh banyak orang. Kepemimpinan formal itu hanya sebatas legitimasi SK formal, dan tidak selalu diakui oleh kalangan bawahnya. Memang beruntunglah kalian yang diakui sebagai pemimpin informal kemudian berlanjut menjadi pemimpin formal; dan celakalah kalian yang diangkat  sebagai pemimpin formal namun sebenarnya tidak pernah mendapat dukungan atau pengakuan sebagai pemimpin yang dirindukan oleh kalangan bawah.

 

Festival Kampung Pecinan. Nah, ini adalah kerjaan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni menggelar acara di Jl. Wiromargo, Malang, tanggal 19 April 2015. Datang ya!

 

Berlanjut ke menguji proposal mahasiswa semester 7. Selesai dia presentasi, saya bertanya: “Kamu tahu konsep validitas dan reliabilitas tes?”. Dia berusaha menjawab tapi salah kabeh. “Ok,” saya bilang. “Saya tentu tahu jawabannya, tapi ndak akan saya beritahukan langsung ke kamu. Gini aja. Kamu baca lagi buku teks tentang Tes Bahasa yang saya gunakan dulu. Baca konsep validitas dan reliabilitas, lalu perbaiki bagian itu di proposal skripsimu itu”.

 

Lalu saya mengucapkan satu kalimat yang akan saya kenang sampai kiamat dan bahkan setelahnya:

” Saya tahu jawabannya, tapi bukan tipe saya sebagai seorang guru untuk langsung memberitahu kamu. Kamu cari dulu sendiri. Mahasiswa saya harus bisa secara mandiri meningkatkan kualitasnya”.

 

 

 

 

 

 

 

Posted in: humanity