Gado-Gado

Posted on March 12, 2015

0


Gado-gado adalah nama sejenis makanan. Tapi saat ini saya bukan mau ngomong tentang makanan, tapi hanya mau ngoceh ngalor ngidul tentang segala macam topik. Makanya saya juduli saja posting ini “gado-gado”.

Gelar

Karena sudah beberapa hari terakhir ini saya mengerjakan Borang Prodi SasIng, saya jadi harus tahu menulis nama lengkap rekan-rekan lengkap dengan gelarnya. Nah, soal gelar ini yang bikin geli sekaligus agak sebal. Gelar tuh ya, kalau udah dapat yang tertinggi, gelar yang lebih rendah seharusnya ditinggalkan, kecuali kalau gelar itu dari bidang ilmu yang lain. Jadi ada nih rekan se Prodi yang sudah bergelar Doktor. Nah, seharusnya namanya adalah “Dr. Kuntilanak Gentong” saja. Tapi ini ndak. Di data email maupun di dokumen-dokumen kampus gelarnya seperti ini nih: “Dr. Kuntilanak Gentong, S.Pd, M.Pd”. Karena gelar S.Pd, M.Pd dan Dr yang dia peroleh itu dari satu bidang ilmu, yaitu pendidikan bahasa, maka seharusnya dia tahu kalau namanya cukup bergelar “Dr” saja di depan.

Kayak saya nih. Lulus S1, S2, dapat Diploma, lalu S3 di bidang yang sama. Jadinya gimana? Ya sudah, saya tulis aja “Dr. Gombal Gambul”, dan bukan “Dr. Gombal Gambul, S.Pd., M.Pd, DipTESL”. Lho, tapi kok ada gelar “Prof” di depan “Dr”? Lho iyaaa, “Prof” itu kan gelar profesi, bukan gelar akademik seperti Dr dsb itu, jadi ya bisa dong ikut dipasang.

Doktor itu lain dengan dokter. Suatu ketika saya menerima sms berbunyi seperti ini: “Dokter, selamat sore. Barangkali dokter ada waktu untuk menerima berita tentang obat kesehatan bla bla bla ..”. Astaga, tolol sekali kau, bangsat! Aku ini Doktor, bukan dokter, hahaha!

Memasak

Perempuan seharusnya memang bisa dan pandai memasak. Iya, makin lama saya makin sadar betapa pentingnya manfaat memasak untuk seorang wanita. Untuk yang sudah bersuami, kemampuan itu membuat suami betah dan tidak akan berpikir macam-macam kecuali cari nafkah. Untuk yang belum bersuami, tahukah Anda bahwa ada banyak pria rela meninggalkan pacarnya yang bohay untuk wanita lain yang tidak begitu bohay tapi pintar memasak?? Peribahasa yang mengatakan “cinta datang lewat perut” adalah sangat benar. Well, tepatnya: “cinta datang dan bertahan lama lewat lidah dan perut”. Ya, karena bukankah masakan itu dinikmati oleh lidah baru kemudian mengenyangkan perut?

Adakah wanita bohay yang pintar memasak? Ya, ada, tapi jarang. Lho, apakah saya pernah melakukan survey untuk hal ini? Ah, ya endak juga. Saya hanya berpikir logis saja: seorang wanita bohay pasti harus menghabiskan tenaga, waktu, dan duitnya untuk tetap merawat penampilannya supaya bohay, sehingga tidak akan punya banyak waktu dan tenaga tersisa untuk belajar resep-resep masakan.

Dimasakkan kekasih itu tidak ada duanya nikmatnya. Ya, bahkan jauh lebih nikmat daripada sebatang Djarum Super, hahaha! Di meja saya saat ini nih tergolek piring berisi tiga buah pisang goreng yang ditaburi keju di atasnya. Hmmmm . . . . .

Menjual Rumah Bonus Istri

Ini saya lihat rame dibahas di socmed. Ada seorang gila menjual rumah dengan bonus istri sang pemilik rumah. Saya tidak membaca isinya, hanya judulnya saja. Saya ndak suka hal-hal yang sangat melecehkan wanita seperti itu. Mungkin juga itu berita hoax, atau mungkin hanya sekedar tipu-tipu sang penulis supaya tulisannya dibaca (persis seperti yang saya lakukan dengan beberapa posting saya). Ya endak tahu. Tapi yang jelas berita itu mengusik saya sehingga mentweetkannya: “Jual rumah beserta istri sebagai bonus. Mana ada yang mau barang second? Hahaha!”

Perhatian Orang Tua Mahasiswa

Barusan ada seorang wanita menelpon kantor saya. Ternyata orang tua mahasiswa. Dia mengucapkan terima kasih karena sudah menerima Kartu Hasil Studi anaknya, yang tak lain adalah salah satu mahasiswi saya. “Terima kasih ya, Pak. Tuhan memberkati”.

Tuhan memberkati! Iyaaah, besok jam 10 pagi pasti Tuhan memberkati saya dalam presentasi saya sebagai calon Rektor kampus ini di depan anggota Senat Universitas.

Hahahahahahaha!

Posted in: Uncategorized