Pesta Rakyat Ngalam 2015

Posted on March 9, 2015

0


Pesta Rakyat Ngalam adalah trade marknya Universitas MaChung, dulu, sekarang, dan selamanya.

Sementara kampus lain mencoba menarik minat masyarakat (baca: maharu) dengan mendatangkan artis atau band kelas atas, MaChung lepas dari mainstream gak jelas itu dan mengukuhkan jatidirinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia dengan menggelar rangkaian orientasi maharu yang menekankan pada kecakapan akademis. Puncaknya adalah gelaran besar kolosal yang diberi nama Pesta Rakyat Ngalam, yang tujuan utamanya adalah mengajak mahasiswa berkolaborasi dengan potensi usaha kecil menengah dan para pegiat budaya Malang.

Tahun ini Pesta Rakyat Ngalam (PRN) itu digelar di Taman Krida Budaya. Sudah sejak jauh hari saya menyanggupi untuk memberikan sesi pelatihan singkat bagi UMKM di acara itu. Materi yang saya bawakan adalah penulisan proposal dan penulisan surat bisnis bahasa Inggris. Jam 830 pagi di Sabtu itu saya sudah siap di lokasi. Langsung muncul pula rekan saya seprodi dari Amerika, Ron Keeler. Dasar orang Sastra Inggris, datangnya selalu tepat waktu yeaaahhh! Ya, ini sebenarnya sindiran halus untuk rekan-rekan dari Prodi lain karena ternyata mereka telat dan kami berdua harus menunggu beberapa menit molor dari jadwal.

Acara pelatihan pun digelar. Ada 4 kelompok dosen pemberi training. Beberapa puluh para pemilik UMKM secara bergiliran mendapatkan materi training dari setiap kelompok dosen. Karena waktunya hanya 30 menit, saya harus pandai-pandai membagi waktu sehingga materi saya (penulisan proposal) dan materinya Ron (business letters) bisa disajikan penuh.

Saya agak kaget mendapati bahwa ternyata para pemilik UMKM itu mengerti apa yang diomongkan Ron. Memang bahasa Inggrisnya sengaja dilambatkan supaya bisa dipahami. Ada satu dua orang yang memberanikan diri bertanya dalam bahasa Inggris yang bolehlah bisa dimengerti walaupun grammarnya agak ancur dikit. Beberapa yang lain meminta bantuan saya menerjemahkan pertanyaannya dalam bahasa Indonesia.

Ron ini orangnya lucu dan pandai menyampaikan materi. Dia ini mantan perwira polisi di jaman mudanya dulu. Sudah belajar bahasa Indonesia bertahun-tahun tapi kayaknya belum berani berbicara dengan saya dan rekan-rekan dalam bahasa itu. Sebagai seorang bule di lingkungan orang berambut hitam dan berkulit sawo matang, dia pernah bilang bahwa dia sering rindu curhat ke orang yang bisa memahami bahasanya. Makanya sekarang saya maklum kenapa sejak datang sampai seusai acara training itu, dia terus menerus bercerita banyak hal kepada saya, seolah-olah dia menemukan oase untuk diajaknya cerita. Dasarnya saya juga orangnya termasuk telaten mendengarkan.

Dari Ron saya tahu tempat menjual bir dan minuman keras yang enak di Malang. Ya gak jauh-jauh dari situ juga sih. Dia bilang Alfamart tuh njual bir juga lho, tapi hanya yang di wilayah Kabupaten. Kalau ke supermarket kita harus tahu bahwa di bagian obat-obatan itu biasanya ada minuman kerasnya berbotol-botol. “Saya suka minum bir,” katanya tanpa tedeng aling-aling. “tapi kalau kamu ngajak saya makan-makan, saya harus yang bayar birnya sendiri.” “Bir fave mu apa?” tanya saya. “Bir Bintang”‘ jawabnya cepat. “Kenapa?” “Karena rasanya ndak berubah walaupun dingin atau panas.” “Oh, gitu. Kalau Budweiser itu gimana?” “Budweiser? Hahaha! Itu mah untuk rakyat jelata!” “Oh, really? Kalau Red Bull?” “Hah? Mana ada bir Red Bull?”, “Lho, ada kok” dan demikianlah pembicaraan mengalir tak henti-hentinya bahkan sampai pendapa itu agak sepi karena acara training sudah bubar.

Usai makan siang, Ron pulang, dan saya pun sendirian. Biasa, kan emang sudah saya ceritakan saya tipe orang yang dijauhi orang dan makanya jadi terbiasa luntang-lantung dewean di acara apapun. Saya menyapa kedua mahasiswa saya di stan Informasi. Mahasiswa saya ini unik. Sukanya musik rock jaman dulu. Yang satunya pakai tindik di bibir dan lidahnya; satunya lagi berambut gondrong awut-awutan. Mereka bercerita tentang usahanya merintis band indie; masuk studio rekaman beberapa kali, ikut kompetisi tapi belum menang, dan sebagainya.

Lalu datang adik saya, suaminya, dan adik saya satunya lagi. Saya ajak jalan-jalan melihat-lihat berbagai UMKM yang menggelar dagangannya hari itu di sekitar pendapa. Ada kaos, makanan, topi pet (salah satunya bertuliskan “Kapan Lulus?”. Pingin saya beli, tapi akhirnya batal karena takut dikira menyindir beberapa mahasiswa saya yang memang belum lulus-lulus), pernak-pernik aksesori aneka rupa, es krim, makanan Jepang, macem-macem wis.

Nah, sampailah kami di stan penjual es krim. Namanya es krim Chimps. Logonya gambar simpanse. Yang punya namanya pak Sonny. Dengan cekatan dia langsung menguraikan panjang lebar jenis usahanya dan keunggulannya. Es krimnya tuh kreatif; dibuat dari berbagai sayur dan buah seperti apel, mentimun, durian, jadi tanpa essens (bahan buatan yang menciptakan rasa tertentu). Berbagai jenis es krim itu dijajakan di kendaraan semi mobil yang biasa dipakai orang ngangkut galon Aqua, yang mereknya Viar itu lho. Ternyata usahanya itu diwaralabakan. Panjang lebarlah dia menceritakan manfaat dan keuntungan berwaralaba dengannya. Memang seorang wirausahawan harus pintar omong kayak dia, pikir saya. Kalau wirausahanya pendiam dan serius pol kayak saya, dijamin sak minggu dagangan langsung gulung tikar, hahahaha! Yah, gak papa. Tuhan memberikan talenta berbeda-beda buat setiap orang.

Nah, kembali ke Chimps ice cream itu. “Saya buat logonya simpanse supaya anak-anak langsung ingat,” katanya. O, ternyata segmen pasarnya anak-anak. Ya, anak mana yang ndak gemar ice cream. Kami mencoba beberapa cup es krimnya. Saya kebagian yang rasa mentimun. Jiambu! Rasa mentimunnya terasa samar-samar, esnya tidak terasa terlalu manis, dan segar. Wah, adik ipar saya kelihatannya langsung tertarik dan pembicaraanpun makin gayeng karena dia ingin menggali potensi usaha seperti ini.

Lalu mereka pun pulang dan saya sendirian lagi, luntang-lantung kesana kemari. Ada seorang menyapa. Oh, ternyata mantan mahasiswa Ma Chung. “Saya jual corn dog di belakang sana,” katanya ramah. Nah, itulah kekuatan magis sapaan ramah seorang lulusan ke mantan dosennya. Begitu perut terasa lapar (lagi), saya pun tanpa ragu melangkah ke stan anak itu dan membeli corn dog. Corn dog ini sejenis roti yang dibakar kemudian diisi dengan saus mayones aneka rasa. Enak lho. Rotinya hangat, renyah, dan mayonaissenya memberi rasa lezat.

Menjelang sore, ada teman lama datang. Ini adalah pemilik Al Falah Islamic Course di Sidoarjo yang dulu pernah saya kunjungi untuk memberikan ceramah tentang kedaulatan berbahasa. Dengan hangat dia menyalami dan memeluk saya. Memang gayanya begitu, pakai memeluk. Lalu kami duduk di depan pendapa dan terlibat pembicaraan panjang lebar tentang pendidikan untuk anak-anak dari kaum marjinal. Dia bercerita betapa ingin sebenarnya dia studi lanjut ke luar negeri. “Tapi ibu saya belum merestui, mas,” katanya, “padahal saya sungguh sangat ingin”. Yah, mungkin belum saatnya, mas, kata saya. Nanti pasti akan datang saat yang tepat. Lagipula kehendak baik orang berhati baik itu pasti didengarkan dan dikabulkan Tuhan.

Cukup lama kami berbicara, sampai kelewatan acara pembukaannya di pendapa utama. Senjapun turun dan saya mulai merasa sudah saatnya pulang. Waktu mau pulang, eh, ketemu Dekan FEB lagi makan sama keluarganya di meja depan pendapa. “Saya ndak makan bebek dan babi” katanya. “Soalnya pasti langsung pusing”. “Wah, lha kalau saya ndak makan bebek dan babi malah langsung pusing,” sahut saya sambil tertawa. Lalu kamipun berbincang-bincang sejenak. Soal pawang hujan. “Ini pasti ada pawangnya,” kata saya. “Kan biasanya setiap sore hujan, lah sekarang ndak hujan blas.” “Iya, emang bisa itu,” katanya. “Caranya adalah dengan menancapkan beberapa lombok di ujung lidi, kemudian berdoa”. Lalu dia cerita bahwa dia pernah mempawang hujan supaya anaknya bisa main basket. “Doanya apa tuh?” tanya saya. “Ya, karena saya Katolik ya doa Bapa Kami dan Salam Maria, terus minta supaya hujan jangan turun dulu.” “Bisa?” “Iya, bisa kok, buktinya anak saya ndak kehujanan dan hujannya turun setelah dia selesai main basket”.

Salut untuk para mahasiswa panitia Pesta Rakyat Ngalam tahun ini. Selamat atas kerja kerasnya dan kerja samanya. Kalian sudah membuat nama Ma Chung mulai terkenal dan yang lebih penting kalian telah merasakan buah dari kolaborasi dengan berbagai komunitas di kota Malang.

Posted in: Uncategorized