Jadi EO dan Studi Lanjut

Posted on March 4, 2015

0


EO adalah singkatan untuk Event Organizer. Saya tidak tahu banyak tentang yang ini. Yang saya tahu, kalau ada gelaran-gelaran besar di hotel-hotel mewah, pasti ada EO nya. Ya, EO ini adalah pihak yang mengurusi semua tetek bengek sebuah hajatan. Kayaknya kalau gelaran itu adalah pesta pernikahan ya artinya mereka mengurusi tempat duduk para tamu, susunan acara, penayangan video, dan sebagainya lah.

Saya menulis ini karena dipicu oleh beberapa orang lulusan yang sudah saya didik dengan susah payah. Ketika ditanya mereka kerja sebagai apa, saya tuh paling patah hati kalau mereka menjawab: “oh, saya sekarang ikut EO di XYZ”.

Ya, saya tahu saya harus menghargai setiap profesi. Tapi ya yak apa ya? Saya ndak bisa menyangkal bahwa perasaan saya terus langsung maysgul ketika jawaban itu diberikan oleh seorang muda yang notabene dulu pernah menjadi mahasiswa saya. “Dulu susah payah aku ajari vocabulary, transformational generative grammar, linguistics, Grice’s 5 maxims, validity, reliability of the test, discourse analysis, dan segala macam teori luhur lainnya, lha kok bareng metu dadi EO to naakk??” Hahahaha! Jahat ya! Gak boleh seharusnya seorang dosen menulis seperti ini.

Lho, iya, saya tahu ini sikap yang jelek, tapi ya yak apa ya? EO itu ya pasti mikirlah, pasti make otak juga lah, cumak mikirnya itu ndak dalam-dalam amat gituuuuu! Hadeeeh! Lha lapa dulu aku ajari semua teori linguistik dan pemerolehan bahasa kalau tau bahwa setelah lulus “hanya” jadi EO???

Hahahaha! Jelek ah, jahat amat nih saya. . . . .

Ah, biarin.

Tak terusno yo, hahaha!

Ya, seorang EO ya pasti mikirlah. Soal sajian acaranya, urutannya, variasinya, suasananya kayak apa kan harus dipikirkan juga toh. Tapi lha kalau “hanya” mikiri kayak gitu, lha lapa dulu kuliah tinggi-tinggi belajar semua teori penelitian dan linguistik itu? Anak lulusan SMA bisa kok jadi EO yang baik.

Seolah tahu hati saya yang sedang gundah, datanglah seorang lulusan. “Pak, saya mau minta surat rekomendasi”. “O, ya, buat apa, dul?” “Ini, Pak, saya mau melanjutkan studi ke S2”. “Wah, hebat! Di bidang apa, dul?”. “Di bidang pendidikan bahasa Inggris, Pak”.

Saya terpana. Sekian detik saya memandangi wajahnya. Duuh, kantor sedang sepi, ndak ada siapa-siapa, rasanya mau deh saat itu saya cium dia. Tapi sayang seribu sayang, lulusan itu adalah seorang pria.

Bwa ha haaa!

Ati ini rasanya jadi sueneeeeng gitu melihat ada mantan anak didik saya ternyata terpanggil untuk menjalani profesi yang dijalani oleh mantan dosennya: sebagai pendidik, lebih khususnya, sebagai pendidik di bidang bahasa asing. Mmmuachh!!

Seingat saya, dari sekian ratus mantan mahasiswa, ada 4 atau 5 orang yang datang lagi ke saya mengutarakan minatnya untuk studi lanjut ke S2 mengambil gelar Master di bidang pendidikan bahasa. Itu jumlah yang sangat sedikit. Sisanya ya menjalani berbagai macam profesi, salah satunya EO tadi itu.

Yah, semua profesi adalah mulia. Tapi tetap saja profesi yang paling mulia adalah sebagai guru dan pendidik.

🙂

Posted in: Uncategorized