Saking Kepinginnya Jadi Rektor Sampe Berdarah-Darah

Posted on February 25, 2015

0


Manusia itu lahir, lalu hidup, dan hidup terus karena punya ambisi. Demikianlah sahibul hikayat ada 8 orang di usia yang sudah tidak lagi muda membara masih menyimpan ambisi untuk menjadi Rektor. Rektor UBI (Universitas Bangsa Indonesia). Saya termasuk salah satu di antaranya.

Setelah menjalani serangkaian tes psikologi kemarin seharian suntuk, hari ini adalah jadwal pemeriksaan kesehatan. Inilah momen terberat dalam perjalanan saya menjadi Carek itu. Saya bisa dengan mudah menyiapkan program kerja untuk 4 tahun ke depan, menulis jawaban berlembar-lembar di angket psikotes, memikirkan jawaban soal-soal intelegensi, tapi ketika tiba giliran tes kesehatan, dengkul pun mendadak lemas . . .

Sudah bukan rahasia lagi bahwa saya takut melihat darah, apalagi ketika momen menjelang ditusuk nadinya untuk mengeluarkan darah ke tabung lab. Cerita bahwa saya pernah jatuh gedebuk di Ubaya ketika mau donor darah rasanya sudah tersebar kemana-mana di kampus UBI ini.

Sekilas terlepas keluhan dalam hati: “Mau jadi Rektor aja kok sampe segitunya to ya? Tahu gini saya ndak mencalonkan diri. Mending jadi anak buah teko jam wolu mulih jam limo mari ngono dodol kates dari kebun sendiri. Halah!”.

Lho, beneran lho, dulu tuh ya tahun 2003 saya mencalonkan diri menjadi Dekan Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Indonesia. Tes kesehatan yang disyaratkan hanya surat keterangan dokter tetangga sebelah saja; gak ada tuh yang sampai tes darah segala.

Tahun 2008 jadi Direktur Penjaminan Mutu ya langsung mak byur nyemplung gitu aja, ndak ada tuh tes darah segala. Jadi Dekan apalagi. Mak gubraak, tahu-tahu sudah berkantor di kantor Dekan, wis gak kathik tes-tes an darah barang . . .

Sekarang saya tidak bisa menghindar. Mau jadi Rektor, ya harus berani mengikuti semua persyaratannya, termasuk tes kesehatan yang “mengerikan” itu.

Malam kemarin saya tidak nyenyak tidur. Tengah malam terbangun, dan tiba-tiba saja badan lemas seperti mau semaput karena bayangan suasana pengambilan darah menyerbu begitu saja di kepala. Hadeeh.. . . tamatlah sudah riwayat calon luput ini. Di benak saya langsung terbayang skenario yang menggelikan tapi juga mengenaskan: ada calon Rektor semaput setelah pengambilan darah di lab untuk tes kesehatan.

Sekilas sempat terpikir saya mundur dari tes kesehatan itu, namun tetap maju di sesi presentasinya. “Hahahaha! Enak aja loe” tiba-tiba terbayang seorang anggota panitia pemilihan Rektor (Papilrek) berkata demikian. “Kalau ndak ikut tes kesehatan ya Anda akan kami nyatakan gugur sebagai calon!”. Yaah, bayangan jadi dosen biasa dan nyambi jualan kates itu pun makin menguat . . .

Akhirnya saya tidak bisa tidak tetap harus pergi ke lab diagnostik Bromo. Saya pilih jadwal yang jam 6 pagi supaya kalaupun nanti semaput tidak di depan calon-calon lain dan dus bisa mengurangi kadar malunya. Dari rumah saya bawa bekal yang luar biasa kuat dan manjur yang sudah terbukti mendampingi saya dalam susah maupun senang, dalam keadaan waras ataupun gemblung seperti pagi itu karena sudah tahu mau jadi Rektor tetap aja takut ngeliat darah.

Sampai disana, bahkan saya datang lebih awal dari pegawai-pegawainya. Saya duduk di sofa dan langsung melakukan strategi jitu: saya bayangkan saya sedang duduk di warung pecel, menunggu datangnya sepiring nasi pecel yang hangat dan kopi panas; para perawat yang bersliweran saya bayangkan sebagai pelayan yang sedang menyiapkan nasi pecel itu . . . .

Ternyata taktik yang entah dari mana datangnya itu terbukti manjur. Saya jadi lebih tenang, lebih cuek, lebih santai, bahkan ketika sudah duduk di kursi dan perawat menyiapkan jarum untuk menembus lengan saya. Saya mendengar dia berkata “Sakit sedikit ya Pak”. Di telinga saya, saya ubah itu menjadi: “ini pecelnya, Pak”.

Selesai! Yess! Dan saya tetap kokoh berdiri. Satu, dua tiga, . . . . ah, selamat, tidak pucat! Tidak nggeblak! Yihuuuu!!

Tapi mungkin karena tegang, tes berikutnya yaitu uji urine menjadi agak lambat. Cairan seni sialan itu ndak kunjung keluar juga, sampai jimat saya mau menggedor pintu WC karena kawatir saya nggeblak di WC. Yah, akhirnya keluar juga sekian puluh cc.

Tes berikutnya tes kesehatan paru-paru dan jantung yang sudah terasa sangat ringan karena hanya berdiri di depan alat X-ray dan diperiksa tensinya. Perjuangan selesai? Beluuum! Dua jam kemudian saya berada di klinik itu lagi bersama beberapa rekan lain. Kali ini untuk diambil lagi sampel darahnya setelah makan pagi.

“Cress!” kembali jarum itu menancap di nadi lengan kanan. Bayangan nasi pecel dan kopi panas itu pun tampil lagi di kepala saya. Setelah itu, perawat mengatakan, “sudah selesai, Pak!”.

Yeaahhh! I survived! Saya selamat sehat walafiat setelah dua kali diambil darahnya. Wew! Lega bukan main!

Haduuh, gini rasanya berjuang menjadi Rektor. Sampai berdarah-darah sungguhan. Namun saya senang karena saya sudah jauh lebih kuat daripada yang dulu.

Posted in: Uncategorized