Happy Sadly Valentine

Posted on February 18, 2015

2


Hari Valentine adalah hari yang tepat untuk putus hubungan kasih sayang antara dua insan. Lha nyatanya ada kok yang putus hanya dua hari sebelum Valentine an. Tragis. Ya memang sudah jalannya. Ndak ada yang mau ngalah.

Itu yang saya dengar dari suatu cerita nyata.

Yang saya baca lebih mengerikan lagi: sebagian orang dengan agama tertentu menghujat hari Valentine dengan alasan itu adalah cerminan budaya Barat yang merusak moral kaum muda. Yang lebih mengerikan, hujatan diarahkan juga ke kelompok agama tertentu karena diyakini ini adalah salah satu ritual tahunan mereka. Lalu segala macam hal yang berbau mesum dilabeli sebagai akibat dari perayaan Valentine. Valentine itu diidentikkan dengan seks bebas dan gaya hidup hedonis.

Padahal Valentine tidak ada kaitannya dengan agama tertentu. Saya Katolik sejak lahir, dari dulu juga tidak pernah merayakan hari itu, karena memang bukan salah satu ritual suci agama Katolik atau pengikut Nasrani. Bahkan saya tidak perduli dengan hari Valentine. Itu hanya semacam tonggak perayaan kasih sayang untuk sesama manusia. Jadi seharusnya ya berlaku universal tanpa memandang sekat agama atau keyakinan. Lebih logis lagi: seharusnya setiap hari adalah hari Valentine karena bukankah kita selalu diajarkan untuk mengasihi sesama oleh apapun agama kita?

Kembali pada penghujatan hari Valentine sebagai perusak moral. Kaum yang merasa gerah membalas: “apa tidak ada kerjaan lain selain mencaci maki hari Valentine yang asal muasalnya juga ndak jelas itu? Korupsi di negara kita apa juga bukan perusak moral? Tayangan sinetron yang membodohkan pemirsa apa tidak menggerus daya pikir dan cara pandang pemirsanya? Selebriti yang kawin cerai dan “pemuka” agama yang tutur katanya menyimpang dari tindakannya apa juga tidak merusak moral? Kenapa ndak mengurusi dan mengkritik mereka saja?”

Bahwa hari Valentine kemudian identik dengan perayaan serba gemebyar, coklat mewah, pesta-pesta, ya itu cerminan keberhasilan para pengusaha aja yang jeli memanfaatkan momen dengan membujuk kaum muda yang memang hedonis. Itu taktik bisnis, gimmick, dan strategi memasarkan produk.

Valentine identik dengan coklat, entah kenapa. Jadi kalau patah hati pas Valentine ya akhirnya mengurung diri di kamar dan makan coklat banyak-banyak. Ha haha! Bagi dooong, pelit amat sih!🙂

Posted in: Agama, humanity