Menulis di Hari Valentine

Posted on February 15, 2015

2


Karena hari Valentine sudah tidak bermakna apa-apa buat saya, maka saya akan menulis tentang sesuatu yang bukan Valentine.

 

Tidak semua orang dikaruniai bakat dan kemauan untuk menulis. Celakanya, hampir setiap orang kepingin jadi profesor. Yah, setidaknya kalau Anda seorang dosen, pastilah terbersit keinginan untuk menjadi profesor. Enak lho jadi profesor karena disegani, dapat tunjangan lumayan gedhe dari pemerintah, dan bisa dijago-jagokan kalau sedang ada pemilihan rektor atau dirjen atau bahkan menteri, hahaha!

Nah, celakanya tidak semua yang ingin jadi profesor itu suka menulis. Padahal mustahil bisa menjadi profesor kalau tidak rajin menulis. Maka ya sudah benarlah kebijakan untuk hanya memberikan gelar itu kepada segelintir orang yang memang tekun meneliti dan menulis. Kalau syaratnya gampang, makin banyak yang bisa jadi profesor dan dus biasanya makin banyak jumlahnya makin turun kualitasnya.

 

Okelah lepas dari profesor-profesoran, menulis memang tidak mudah. Diperlukan kristalisasi pengalaman plus perenungan yang panjang untuk bisa hamil dengan ide-ide inspiratif yang lantas siap dituangkan sebagai buku atau artikel. Buku saya yang pertama, Strategi Membaca Bahasa Inggris (Gramedia, 2001), saya tulis setelah sekian lama membaca dan merenungkan strategi-strategi membaca, plus penelitian yang akhirnya jadi tesis S2 saya.

 

Kalaupun punya ide, orang yang tidak biasa menulis memerlukan bimbingan untuk bisa menata buah pikirannya sehingga layak menjadi sebuah buku yang enak dibaca. Seperti kemarin, saya memberi arahan ke adik saya yang juga ingin menerbitkan sebuah buku. Gagasannya bagus-bagus, namun perlu ditata sehingga runtut dan mudah dipahami pembaca. Sudah itu, dagingnya harus banyak. Dia bilang nanti naskahnya 75 halaman ketik satu setengah spasi. Lhadalah saya bilang kalau segitu ya kurang. Minimal naskah tuh harus 120 halaman sehinnga ketika terbit menjadi sekitar 100 halaman. Itu sudah tergolong buku tipis tapi ya lumayanlah.

 

Mau nulis novel pun harus diawali dengan kontemplasi tentang satu warna dalam hidup sehingga bisa menelurkan karya yang laris. Pokoknya, menulis bukan urusan sak det sak nyet: hari ini dapat ide, minggu depan  langsung jadi buku.

 

Saya sedang hamil tua. Rencananya bulan Juli ini insya Allah terbit satu lagi buku saya dengan topik penelitian kebahasaan. Untuk bisa mencapai target itu, saya tetapkan setiap akhir minggu harus bisa menulis setidaknya 5 halaman. Itu berat, man. Dengan kesibukan saya sebagai dosen dan dekan, saya berjuang keras untuk bisa menemukan ide lewat refleksi pengalaman mengajar dan meneliti sehingga bisa menelurkan 5 halaman per minggu.

 

Nah, lalu apa hubungannya dengan judul posting ini yang mengandung kata Valentine? Yah, ya ndak ada, wong itu kan cuman tipu2 saya supaya Anda tertarik membaca posting ini, huahahaha! Eh, sek sek, jangan gusar dulu: ada hubungannya kok. Waktu saya membantu adik saya itu, kami ngafe di Open Space Cafe di Plaza Araya. Enak suasananya. Ada sofa lapang plus buku2 di rak kaca, plus French Fries, Fish n Chips dan es krim vanila, stroberi, dan coklat yang diapit biskuit wafer. Di atas bergantungan aksesori Valentine dan lampion warna merah muda dan merah menyala.

Posted in: Nyantai