Mood Naik Turun di Wajur

Posted on February 13, 2015

0


Minggu ini persis seperti yang dikatakan oleh seorang rekan bule: “What a horrible week!”

Itu juga yang membuat saya menulis judul ini: mood naik turun. Lho lha Wajur itu apa? Yo sek talah, ini saya uraikan ceritanya.

 

Di awal minggu sudah dikejutkan dengan berita meninggalnya seorang rekan dosen di Prodi yang lain. Memang sudah sekian lama kami membatin ada apa dengan rekan yang satu ini, kok badannya makin lama makin kurus dan kelihatan sekali sedang sakit. Seorang rekan mengatakan dia tidak mau berterus terang sedang sakit apa, sampai akhirnya terbetik berita bahwa dia sedang dirawat di Tangerang sampai wafatnya.

Seperti yang dulu-dulu, meninggalnya seorang rekan kerja dengan cara seperti itu membuat mau tidak mau saya jadi moody. Memang masih bisa guyon-guyon waktu berbincang-bincang dengan beberapa rekan dari kantor yang lama, tapi dalam hati saya sebenarnya moody. Saya sampai harus keluar dari kantor dan mencoba mencari semangat yang lebih cerah di villa kecil saya di sekitar situ.

 

Nah, moodbosternya adalah rapat pembaruan kurikulum dengan rekan-rekan seprodi. Asik aja sih duduk dalam suasana rapat yang serius namun santai itu.  Lagipula rekan saya yang jadi Wakil Dekan pintar memilihkan menu makan siang kami dan snacknya pun kelas Dunkin Donut. Jadi ingat dulu ada mahasiswi yang memberikan Dunkin Donuts waktu seminar proposal tesisnya. Dunkin Donuts memang selalu enak. Apalagi ada kopi putih.

 

Alah, sayang sekali baru juga selesai rapatnya, sehari kemudian rekan seprodi jatuh dari sepeda motor dalam perjalanan ke kantor dan mengalami patah tulang tungkai kanannya. Kasihan sekali, mana putranya masih kecil dan di Malang tinggal praktis sendirian dengan keluarga intinya tidak ada kerabat.

 

Itu masih  ditambah dengan kecelakaan kecil yang menimpa rekan senior (the other professor) yang salah meneteskan obat sariawan ke matanya. Haduh, bisa dibayangkan perihnya kayak apa😦. Untung menantunya sigap membawanya ke rumah sakit untuk segera dirawat. Nah, celakanya, ketika sore harinya saya berkunjung ke rumahnya, tidak ada satu pun yang muncul membukakan pintu. Saya pun pulang dengan hati patah berkeping-keping hahaha….😦

 

Hari ini saya dengan dua rekan lain menjenguk rekan yang patah tulang kaki tadi di RST Soepraoen. Maunya mampir juga ke jalan Ternate, tapi entah gimana setir mobil tidak saya belokkan dan sampailah akhirnya kami ke bunderan Ma Chung. Entah ada ide dari mana tiba-tiba saya mengajak mereka mampir ke Wajur di sebuah jalan turunan disitu. Ini adalah warung dekat jurang, makanya namanya Wajur. Kealsnya benar-benar kelas rakyat. Beratapkan seng dengan bangku-bangku kayu. Makanannya pun khas rakyat : soto, rawon, pecel, lodeh, kopi. Yang kebanyakan datang kesitu adalah pekerja bangunan yang ada di sekitar Tidar, plus dosen-dosen kampus saya yang memang suka nongkrong dan ngobrol seru tentang macam-macam isu. Pas di depannya memang jurang, dan disampingnya adalah bangunan biara tempat romo-romo berkontemplasi. Ini jan kombinasi yang sungguh nyentrik di salah satu pojok kota Malang.

 

Lodehnya enak lho. Plus krupuk dan sambel, terus ditutup dengan kopi panas, dan plus benda itu. Lha iki sing gak enak karena salah satu rekan yang saya bawa adalah seorang ibu usia 55 an tahun yang tentu saja tidak pernah menyentuh benda yang membunuhmu itu. Yaah, setelah minta permisi, saya pun membatin: “Yo salahmu dewe melok aku nang kene!” Hahaha, kaboorr!

 

 

 

 

 

 

 

Posted in: Nyantai