Charlie Hebdo vs Islam

Posted on January 11, 2015

5


Charlie Hebdo vs Islam

Penembakan di media Charlie Hebdo di Paris tanggal 8 Des menyisakan satu dampak luar biasa mengerikan, yaitu saya berdebat dengan beberapa kolega di fesbuk. Hahaha. Sialan.

Singkatnya, saya menyayangkan tingkah polah keempat karikaturis Charlie Hebdo yang terus menerus melecehkan Nabi Muhammad dengan kartun2nya. Mereka bahkan terkesan menantang komunitas Muslim dengan mengatakan ‘sampai saat ini tidak ada ancaman yang mewujud ke pihak kami’, dan ‘kami hidup di bawah Hukum Perancis, bukan Hukum AlQuran’. Jangankan komunitas Muslim saja yang merasa marah dengan tindakan itu, pemerintah Perancis pun mulai gerah dengan tindakan seperti itu.

Beberapa kolega saya mengutuk penembakan itu dan mengatakan bahwa itu sama saja dengan membunuh seni dan satirisme. Satirisme diperlukan untuk mengkritik, dan yang dikritik seharusnya mawas diri tanpa usah berang, apalagi sampai menembak mati senimannya. Saya setuju dengan ini. Pembunuhan, apalagi kalau itu atas nama Tuhan, sangat pantas dikutuk.

Tapi terlepas dari itu, tidak bisa dong kebebasan berekspresi dibiarkan mutlak sebebas-bebasnya sehingga menyinggung perasaan umat lain dan menimbulkan gejolak sosial. Yang lebih gawat lagi adalah kebebasan satir yang menyinggung agama. Tahu aja betapa gawatnya masalah kalau sudah sampai ke masalah agama. Itu tidak sesuai dengan prinsip ‘learning to live together’ yang digaungkan oleh UNESCO. Wong sudah tahu tetangganya beragama Islam kok bikin karikatur konyol-konyolan Nabinya di tembok dengan ungkapan melecehkan. Kan ndak bener yang kayak gitu.

Menurut saya, seni dan satir itu tetap bisa hidup tanpa senimannya menjelek-jelekkan agama lain. Apa kalau ndak boleh menyatiri Nabi Muhammad terus senimannya mati gitu kah? Kan endak juga to.

Lawan debat saya mengatakan dekonstruksi lewat satir itu tetap perlu untuk membongkar ideologi atau paradigma keliru. Itu sama dengan Galileo dulu yang mendekonstruksi paham bahwa Bumi adalah pusat tata surya, atau Martin Luther King yang memperjuangkan kesamaan ras di Amrik. Saya pikir, keempat karikaturis Charlie Hebdo yang atheis itu sudah sebijak apa sih kok sampai mau mendekonstruksi keyakinan umat lain? Apa masuk akal? Saya menolak untuk menyamakan keempat karikaturis itu dengan tokoh-tokoh yang tersebut di atas, karena menurut saya apa yang mereka perjuangkan, dan caranya memperjuangkan, sama sekali tidak ada seujung kukunya gagasan-gagasan besar Galileo, Martin dan sebagainya itu.

Lawan debat mengatakan: ‘yah, suatu ketika kelak akan ketahuan apa yang mereka perjuangkan dan suatu ketika mereka akan dihormati juga sebagaimana kita menghormati Galileo dan sebangsanya itu’. Maka jawaban saya adalah hahahahahaha! Karya besar apa yang bisa didapat dari 4 orang bigot yang tak henti mencerca nabi suatu agama? Mau sampai kapanpun mereka akan tetap diingat sebagai orang2 konyol yang coretan ngawurnya dan ketidakpekaan sosialnya membawa peluru AK 47 menerjang jantung dan kepalanya.

Ada media Barat yang menganggapnya sebagai martir kebebasan berekspresi. Walah, iki maneh. Enak sekali caranya jadi martir: menghina agama lain terus2an, mati karena dibunuh pengikutnya, lalu jadilah martir. Biyuh, gampang banget!

Akhirnya saya tetap yakin pada satu hal: kebebasan berekspresi tetap harus dihargai dan dipelihara, tapi tetap harus tahu batasnya. Kepekaan, hati nurani, dan kesalehan sosial lah yang memberi tahu batasan tersebut.

Sent from my iPad

Tagged: , , ,
Posted in: Agama