Menara Gading Horeg

Posted on December 19, 2014

0


“Horeg” itu bahasa Jawa,  artinya “goyah; bergoyang2 diterpa angin keras atau badai sekalian”. Menara Gading sendiri adalah idiom sinis untuk menyebut perguruan tinggi yang megah, penuh dengan mahasiswa kaya, dan mungkin juga pintar, tapi tidak mau tahu problematika masyarakat sekitarnya. Nah, menara gading horeg artinya ya begitulah: kampus yang jati dirinya adalah sebuah tempat eksklusif yang cuek terhadap masyarakat sekitar namun yang mulai mempertanyakan eksistensinya. Sebagian dari anggota klub eksklusif tadi mulai gerah dan bertanya-tanya apakah mereka akan terus begitu, ataukah mulai membaur ke masyarakat dan menyumbangkan kepandaiannya kepada masyarakat untuk membantu memecahkan masalah-masalahnya.

 

Saya kira tidak ada yang salah dengan aspirasi tersebut. Mahasiswa-mahasiswa yang belajar di kampus itu pun juga ogah kok dibilang mereka adalah anggota masyarakat yang eksklusif, yang belajar ilmu-ilmu modern tapi abai terhadap persoalan masyarakat sekitarnya. Sebagian besar di antaranya malah senang terjun ke komunitas-komunitas masyarakat dan menyumbangkan ketrampilannya, entah itu berupa kemampuan komputer, kemampuan bahasa asing, kemampuan membangun alat-alat industri yang efisien dan efektif, dan sebagainya.  Maka menara gading yang semula megah nan angkuh itu pun mulai berangsur-angsur menjadi sebuah rumah yang lapang dan ramah. Karena merasa sudah berada di jalur yang benar, sekolah itu pun membuat program turun ke masyarakat itu makin deras. Mahasiswa yang semula hanya berkunjung ke kelompok-kelompok masyarakat makin diminta untuk tinggal lebih lama, bahkan berhari-hari. Programnya yang semula hanya mengkaji masalah masyarakat menjadi lebih jauh memberdayakan masyarakat bahkan sampai ke mendukung aksi-aksi mereka dalam gerakannya terhadap kebijakan pemerintah.

 

Segala sesuatu itu ada batasnya. Manakala sesuatu yang semula baik tapi terus didorong sampai melebihi kepantasannya pastilah akan terjadi sedikit gejolak. Bagaimanapun perlu diingat bahwa para orang tua mahasiswa itu mengirim anak-anaknya belajar di kampus supaya mereka bisa mendapatkan berbagai kemampuan yang memungkinkannya menjadi fungsional dan cakap dalam pembangunan modern global setelah lulus. Untuk ini, mereka pastilah lebih suka melihat anak-anak itu belajar di kelas, menerima banyak ilmu dari dosen-dosennya, praktikum di lab, belajar komputer, belajar bahasa asing, dan lain sebagainya. Menurut mereka, inilah kecakapan yang diperlukan supaya bisa segera menjadi anggota masyarakat yang produktif (baca: cepat mendapat kerja, dus bisa cepat mendapat penghasilan sendiri, tidak membebani oang tuanya). Ketika mendapati bahwa ternyata anak-anaknya mendapat banyak tugas turun ke masyarakat sampai kelelahan ketika harus mempelajari bidang studi utamanya sendiri, merasa kecewalah para orang tua tersebut.

 

“Saya menyekolahkan anak saya ke situ supaya dia belajar jadi ahli keuangan, bukan belasukan sampai ke desa-desa ketemu preman-preman sampai kesasar-sasar, terus kecapekan dan gak bisa belajar mata kuliahnya sendiri”, semprot seorang wali murid ke pengelola sekolah itu.

 

Ternyata tidak sampai disitu. Sebagian besar murid  yang kecewa dengan beratnya tuntutan harus terjun ke masyarakat itu akhirnya secara mulut ke mulut menyebarkan ajakan kepada adik-adik kelasnya untuk tidak masuk ke lembaga pendidikan itu. “Berat disini,” kata mereka. “Mending cari yang lain aja yang membuat elu elu pade siap kerja.”

 

Beberapa anggota sekolah itu akhirnya merasa bahwa kampus itu makin lama makin dijauhi calon murid. Penyebabnya ndak jelas. Diskusi tanpa ujung tidak membuahkan apa-apa kecuali ketidaktahuan dan bahkan sedikit konflik di antara anggotanya sendiri. Salah seorang mencoba membela program masyarakat itu dengan mengatakan “ada juga kok mahasiswa yang senang dengan program turun ke masyarakat itu.” Tapi ini sungguh argumen yang lemah, karena orang lain bisa dengan mudah mengatakan: “tapi banyak juga kok yang mengeluh karena merasa studi disini terlalu berat gara-gara program ke masyarakat yang kebablasan itu”.

 

Demikianlah, menara gading itu pun horeg. . . .

 

 

Posted in: Uncategorized