Sanksi vs Kesadaran Diri

Posted on December 16, 2014

8


Jam kerja adalah jam 9 pagi dan pulang jam 7 malam. Kalau telat gimana? Kalau pulang kurang dari jam 7 gimana? Ya diberi sanksi. Sanksinya berupa pengurangan jatah uang nongol, dan kalau sudah berkali-kali dalam waktu 1 bulan maka sanksinya adalah dijemur di tengah lapangan jam 12 malam, atau dipecat.

 

Aturan berpakaian adalah berkerah, bersepatu, rok di bawah dengkul, tidak bertindik, dan tidak memakai pakaian orang miskin (baca: pakaian yang tinggal separo, bolong2, atau sangat ketat). Lha kalau nongol ke pabrik tanpa atribut itu terus bagaimana? Ya dikasih sanksi. Sanksinya berupa diusir dari lingkungan lembaga itu, atau tidak mendapatkan pelayanan dari bagian-bagian lainnya.

 

Aturan di kelas adalah tidak boleh makan dan minum selama pelajaran berlangsung. Kadang-kadang juga tidak boleh membawa laptop. Lha kalau ndak tahan lapar atau kebetulan melihat materi di laptop gimana? Ya itu namanya melanggar. Dan karena kamu melanggar ya harus diberi sanksi. Sanksi berupa pengurangan nilai, atau pengusiran dari kelas.

 

Merencanakan anggaran harus tepat. Kalau menganggarkan 10 juta ternyata hanya bisa menghabiskan 8 juta berarti itu salah, melanggar peraturan. Maka harus disanksi lagi, yaitu tidak boleh membuat anggaran untuk kegiatan yang sama di tahun depan.

 

Sanksi, sanksi, sanksi, dan sanksi.

 

Kenapa hidup kita jadi penuh ancaman sanksi ya? Saya jadi sangsi sama sistem sanksi ini.

 

Saya mengimpikan mempunyai sebuah sistem pemerintahan atau sistem lembaga yang hanya menjatuhkan sanksi untuk beberapa hal yang memang sangat gawat, seperti mencuri, merusak, atau membunuh. Untuk tindakan lainnya, biarlah berpegang pada hati nurani dan kesadaran diri pribadi saja. Jadi jangan berpikir tentang membangun sistem sanksi yang sangat ketat, tapi berpikirlah bagaimana menciptakan lingkungan yang penuh dengan teladan baik, yang ditularkan baik lewat omongan atau perbuatan minim kata. Seandainya ada orang-orang yang melakukan sesuatu yang kurang baik, tindakan kita bukan menjatuhkan sanksi, tapi bertanya kepada mereka: “sudahkah Anda periksa hati nurani Anda ketika melakukan hal tercela itu? Apakah Anda menyukai hal tercela tersebut? Kalau dalam hati kecil Anda merasa salah, ya mbok coba jangan berbuat seperti itu”.

 

Ada nih seorang guru yang sebenarnya males jadi guru. Minatnya lebih ke arah pengusaha. Jadi ketika mengajar dia pun ogah-ogahan dan semua sesi kelasnya diisi dengan ajakan untuk menjadi usahawan. Ketika musim ujian tiba, dasarnya ndak niat, dia pun malas pol memeriksa lembar-lembar jawaban muridnya. Daripada bersusah payah, akhirnya dia putuskan semua murid mendapat nilai 98. Jadi mau jawabannnya ngawur, atau jawabannya benar, atau ndak menjawab sama sekali tetap aja nilainya sama 98.

 

Maka pusinglah sang Kepala Sekolah. Tapi karena dia bijaksana, dia tidak serta merta menjatuhkan sanksi kepada guru itu. Dia lebih memilih memanggilnya dan dengan bijak mengembalikan tindakan tercela itu kepada hati nurani sang guru: “Apakah Bapak lakukan hal itu dengan kesadaran penuh dan hati nurani Bapak tidak terusik? Tahukah Bapak bahwa tindakan itu melecehkan nilai-nilai luhur pendidikan yang susah payah kami rintis di sekolah ini? ”

 

Hidup dengan sistem sanksi yang membelit begitu kuat sangat tidak nyaman. Satu hal yang jelas: semua orang disitu bertindak baik dan rajin karena takut dijatuhi sanksi, dan bukan semata-mata karena kesadaran dirinya untuk senantiasa mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang penuh nilai luhur. Apakah ini ciri masyarakat dewasa dan mandiri dengan kepribadian unggul? Rasanya kok tidak. Kita jadi kayak monyet di sirkus aja: lari-lari guling-guling cengengesan bawa payung kesana kemari karena takut dipukul sabuk sama pemiliknya, atau takut ndak dikasih pisang/kacang.

 

Sebaliknya, sistem yang lebih mengandalkan hati nurani, kesadaran diri,  diiringi teladan baik dari orang-orang sekitarnya mungkin akan lebih nyaman. Orang bertindak baik dan bekerja keras karena merasa nyaman dengan nati nuraninya yang juga menuntutnya untuk demikian.

 

Ayo mikir.

 

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized