Morbid Fascination (Kagum pada Kematian)

Posted on December 10, 2014

0


Saya tidak yakin apakah banyak orang yang dihinggap gejala yang sama: morbid fascination. Itu artinya kurang lebih adalah “heran, atau bahkan kagum pada momen-momen kematian yang disaksikan di media atau dengan mata kepala sendiri.” Saya tidak tega mengatakannya “kagum”, mungkin kata “terpana” adalah lebih tepat. Gejalanya mungkin mirip seperti yang saya alami sendiri beberapa kali di bawah ini:

 

Yang pertama adalah ketika saya masih bekerja di Surabaya. Setelah keluyuran di Youtube, tanpa sengaja saya menemukan rekaman peristiwa  tabrakan di sirkuit Kyalami Afrika Selatan yang menewaskan pembalap Tom Pryce. Itu tahun 1977. Di klip tersebut, ada seorang pembalap namanya Renzo Zorzi yang mobilnya mendadak terbakar di tepi sirkuit. Begitu melihat api memercik dari knalpotnya, dia teriak2 minta tolong ke petugas pemadam dari seberang trek. Kedua petugas itu lantas berlari menyeberangi trek yang masih dilewati beberapa pembalap dengan kecepatan 300 km perjam. Nekat memang. Nah, pada saat salah seorang pemadam masih di tengah trek, sebuah mobil yang dikendarai Tom Pryce melesat menabraknya. Sang petugas terpental, tubuhnya berputar2 seperti baling-baling sebelum akhirnya nyungsep ke pagar pengaman, tewas seketika. Tangki pemadam yang dibawanya menghancurkan wajah sang pembalap, tentunya  dengan kecepatan 300 km perjam juga. Tom Pryce pun tewas seketika.  Si pembalap yang mobilnya kebakaran tadi dan pemadam satunya hanya terpaku sesaat melihat ceceran tubuh manusia berhamburan hanya sekian meter di depannya.

 

Adegan itu sungguh absurd. Saya terpana menyaksikan wajah sang pembalap dan tubuh sang pemadam ketika dievakuasi dari lokasi. Rusak tak berbentuk, hanya seperti daging cacah dengan warna merah darah melekat disana-sini . . .

 

Saya merasa mual dan entah gimana bisa sedih. Yah, normal. Artinya saya masih manusia.

Anehnya, beberapa hari setelah itu, saya mengunjungi kembali situs itu dan melihat kembali adegan yang sama. Tak cukup sekali, tapi beberapa kali. Selain perasaan ngeri yang mencekam, saat itu yang saya rasakan adalah rasa ingin tahu dan sedikit kepenasaran. Apa yang mereka rasakan di detik-detik maut menjemput itu? Kemana mereka setelah tabrakan itu? Apakah mereka merasa hidup dan mungkin duduk-duduk di tepi sirkuit sambil mengatakan: “duh, nyaris saja aku nabrak”? (beberapa orang mengatakan bahwa si mati kadang-kadang tidak sadar bahwa dirinya sudah mati).  Apakah  arti kematian? Demikianlah, pikiran-pikiran seperti itu berkelebat di kepala sementara saya menyaksikan adegan itu lagi dan lagi . . . .

 

Morbid fascination. I was fascinated by others’  moment of death. . . .

 

Peristiwa kedua juga saya lihat lewat Youtube. Ini terjadi ketika perang Vietnam dan Vietnam Selatan sedang berjuang melawan pengaruh komunis. Seorang reporter sedang merekam kejadian dimana seorang agen komunis tertangkap oleh pasukan Vietnam. Dia digiring di jalan oleh beberapa tentara. Lalu datang seorang kapten yang rupanya menjadi atasan mereka. Nampaknya dia menyuruh mereka minggir. Lalu dicabutnya pistol, didekatkannya ke pelipis sang tawanan dan dor! Tubuh sang tawanan rebah ke tanah, darah muncrat membasahi aspal.  . . . .  Semuanya berlangsung sangat cepat, tak lebih dari 2 detik.

 

Saya tutup video klip itu karena tak tahan melihat betapa brutalnya adegan itu. Sampai di rumah saya  masih terbayang-bayang adegan itu. Hati bisa seperti ikut tersayat-sayat memikirkan bagaimana perasaan keluarga si tawanan itu melihat adegan itu; apa yang ada di pikiran sang kapten dan pikiran sang tawanan. Sang tawanan mungkin tidak mengira sang kapten akan menghabisi nyawanya secepat itu. . . . .

 

Anehnya, hari ini saya gerakkan kembali kursor ke Youtube dan saya lihat kembali adegan brutal itu. Saya merenungi  momen itu dengan pertanyaan yang kurang lebih sama: apa yang dia  rasakan ketika peluru menembus otak? Kemana dia setelah peristiwa itu?

 

Morbid fascination. Bahwa istilah ini ada adalah fakta bahwa banyak orang pernah mengalami hal yang sama dengan apa yang saya alami.

 

Foto kapten menembak komunis di jalanan Vietnam itu menjadi salah satu foto jurnalisme perang terbaik. Sang reporter pun bahkan tidak menyangka dia akan mengabadikan adegan yang mengiris2 rasa kemanusiaan itu. Foto dibuatnya pas pada detik yang sama ketika peluru menembus pelipis sang tawanan  . . . Lekukan di pelipis ketika peluru menghantam dan ekspresi wajah sang tawanan pada momen itu benar-benar luar biasa.

 

Tapi saya tidak memasangnya di sini. Cukup lah sudah morbid fascination itu berhenti sampai disini.

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized