Lihat Kebunku

Posted on December 1, 2014

4


Kebun tidak pernah menjadi sesuatu yang menarik buat saya. Ketika kecil, hobi saya layangan dan main bola. Peduli amat mainnya di kebun rumah orang tua atau bahkan merusak jajaran tanaman di kebun tetangga karena saya menerabasnya ketika ngejar layangan putus. Nah, setelah tuwek kayak sekarang dan membaca serta menyaksikan sendiri betapa yang dulunya lahan hijau dan segar berganti menjadi beton, mall, hotel, perumahan mewah, dan ruko, saya baru bisa menyadari betapa indahnya tanah berselimutkan rerumputan hijau dan berhiaskan bunga-bunga atau pepohonan rindang.

 

Setelah mampu membeli rumah sendiri di bilangan daerah Purwantoro sana, ingin juga punya kebun. Tapi sayang, desain rumah itu praktis tidak menyisakan lahan untuk memelihara kebun. Ya ada sih tapi cumak sak ipet (bahasa Jawa, artinya “kuecil soro”). Ada sih gambarnya tapi karena sak ipet tadi jadi malah malu-maluin kalau saya pasang disini.  Beda dengan rumah orang tua saya di jalan Salatiga (kompleks dosen IKIP Malang). Rumah tipe sederhana itu ternyata dianugerahi lahan luas di depannya, sehingga ketika anak-anak orang tua saya sudah dewasa dan tidak lagi main layangan atau main bola di lahan itu, mereka menjadikannya sebuah kebun yang nyaman.

KEBUN BAPAK

KEBUN BAPAK2

 

Nah, ternyata berkat kemurahan Tuhan dan juga berkat dukungan saudara-saudara sekalian yang rajin membaca blog ini, saya punya cukup rejeki untuk mempunyai satu lagi rumah di bilangan situ tuh (masih rahasia karena kabarnya  atasan saya sendiri ingin menstalk saya, ha ha ha, katanya dia takut jangan2 saya masukin cewek ke rumah baru itu). Dengan bangunan tipe 70 dan lahan 160 meter persegi, masih ada lahan cukup kecil tapi tidak kecil soro di belakang rumah.

 

Kebun sederhana itu saya tanami pohon pepaya, mangga, dan ketela. Nah, ini fotonya, saya ambil waktu hujan gerimis pagi kemarin.

KEBUN VPT BASAH

 

Becek ya? Ya iyalah, habis ujan. Lha itu karena hujan jadi tanaman hamanya tumbuh subur dan harus dibersihkan setiap sebulan sekali. Pohon pepayanya sudah berbuah banyak. Ada satu di gambar itu yang sudah hampir habis dimakan kelelawar, tergolek ditanah. Pohon mangganya juga sudah lumayan berbuah banyak dan sebentar lagi pasti bisa dipetik. Ketelanya yang sebesar bayi baru lahir tersembunyi di tanah, siap meledak bak ranjau darat kalau diinjak, ha ha haa! Di latar depan itu sebenarnya juga ada tanaman lombok tapi sayangnya habis meranggas karena lupa saya sirami waktu kemarau yang lalu.

 

Salah seorang teman berkomentar: “kebunmu kok kacau balau gitu?”. Iya, sih, memang tidak indah. Tapi itu karena rumah baru itu belum sepenuhnya ditinggali. Saya hanya kesana untuk menghabiskan akhir pekan, ya pura-pura bergaya punya villa padahal mana ada villa cuma ukuran 70 m2. Jadi ya memang begitulah penampilan kebun kecil saya. Nanti kalau saya sudah punya banyak waktu akan saya perindah dengan rerumputan dan tanaman yang lebih bervariasi.

 

O, ya, kebun kayak gini juga bisa dijadikan lahan TOGA (Tanaman Obat Untuk Keluarga). Jadi multifungsilah perannya.

Saya senang menghabiskan waktu disitu. Biasanya antara jam 12 sampai hampir jam 1 siang saya mampir dari kantor ke situ, merokok di kebun itu, ditemani sepi, lalu kembali lagi ke kantor.  Kalau malam, saya masih bisa melihat kelelawar beterbangan menyambar-nyambar pepaya yang mau masak. Di pagi hari, masih bisa saya dengarkan kicau beberapa jenis burung.

 

Ada yang menyarankan kebun itu dijadikan bangunan aja sekalian. Minimal bisa memuat dua kamar lagi atau apalah. Konsekuensinya jelas: duit. Maksud saya, setelah membangun kamar yang memakan duit, tempat itu juga bisa menghasilkan duit karena orang yang menyarankan tadi itu pintar  dapat uang (bukan “cari uang”). Tapi saya tidak mau. Saya tolak ide untuk menjadikan kebun kecil itu beton dan lantai. Saya ingin masih bisa merasakan sentuhan bumi yang alami, lengkap dengan tetumbuhan di atas tanah basah, dengan segala kadal, kodok, dan insya allah ular naga pembawa hoki disitu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tagged: ,
Posted in: Uncategorized