Genesis

Posted on November 28, 2014

0


Genesis. Di Kitab Suci ini adalah Kitab Kejadian yang menceritakan asal muasal alam semesta yang maha misterius sekaligus sialan ini. Namun ini bukan masalah Kitab Suci. Ini adalah salah satu band favorit saya dari Inggris Raya.

 

Genesis. Saya mengenal nama itu sejak masih bocah. Waktu itu di garasi tetangga yang anak-anaknya sudah SMA sering tertulis nama “Genesis”. Saya pikir itu pasti nama band, dan memang benar. Saya mulai mengenalnya lebih dekat ketika kelas 1 SMA. Itu tahun 1983, dan lagu-lagu Genesis yang sering saya dengarkan waktu itu adalah “Mama”, “Home by The Sea”, “Second Home by the Sea”, “That’s All”, kemudian ada satu lagu reggae “This is Love” yang mengingatkan saya akan gebetan saya waktu itu, ha ha haaa! Aneh juga ya, begitu mendengar lagu ini barusan, saya langsung terlempar ke jaman tahun 83 di sebuah pesta perpisahan kelas di Batu, dimana cewek yang saya suka itu menari2 diiringi lagu “This is Love”. Itu berpuluh2 tahun yang lalu, sehingga kenangan dan perasaannya sudah hilang, tapi lagu itu masih saja terdengar enak di telinga saya.

 

Genesis adalah band art rock. Itu artinya lagunya berbahan baku rock dengan lengkingan gitar dan drum yang khas, namun warna art atau bahkan klasiknya sangat kental. Berdiri sejak awal tahun 1960an dengan lagu-lagu yang surealis. Surealis itu maksudnya lagu-lagu alam mimpi, atau lagu-lagu yang nadanya dekat dengan perasaan ketika kita nglangut entah karena sedang sedih atau karena mabuk ganja. Tidak semua orang bisa menikmati lagu-lagu seperti ini. Saya ndak bisa membayangkan memutarkan lagu-lagu Genesis jaman dulu kepada generasi millenium jaman 2014 yang sukanya lagu Jason Mraz, hip hop, Rihanna, atau Justin Bieber. Mereka bisa semaput. Saya sudah menuai getahnya ketika memutarkan lagu Genesis yang amat sangat terkenal karena harmonisasi instrumen dan warna klasiknya yang sangat mencekam, yaitu “Firth of Fifth”.  Salah satu mahasiswi saya, cewek cantik sexy tinggi sintal, langsung berkomentar:: “Ini lagu apaaan sih? Kok kayak lagu kemerdekaan!” dan dia bersungut-sungut. Jedhieeerrrr! Ha haha!

 

Cover albumnya pun aneh. Ini adalah salah satu cover mereka akhir tahun 1960 an.

 

20120722211244!Foxtrot72

 

Melihat gambarnya saya serasa masuk ke alam mimpi, ke alam yang tidak lumrah dijumpai di alam nyata. Kalau Anda bisa merasakan sensasi itu berarti Anda juga bisa melihat ke sana.

 

Ini satu lagi:

51Z9YHZa2PL

 

 

Jaman 1960an sampai akhir 70 an Genesis melahirkan lagu-lagu yang surealis dahsyat seperti itu. Beberapa yang jadi fave saya adalah “Supper’s Ready”, “Cinema Show”, “Firth of Fifth” dan masih banyak lagi. Komposisi musiknya rumit dan liriknya dalam.  Sekali lagi, kalau Anda bukan pencinta musik art rock, jangan mencoba mendengarkan karena akan heran setengah mati. Yah, sudahlah, lebih baik ikuti saja tulisan saya ini🙂

 

Namun sayang, seiring dengan bergesernya waktu , rupanya band itu mulai kehilangan pasar. Makin banyak orang yang lebih suka mendengarkan musik yang simpel, dangkal, hangat tapi cepat basi, tidak usah rumit-rumit. Celakanya, musik kayak gini juga cenderung menye2. Nah, Genesis rupanya memutuskan untuk mengikuti selera rendahan itu. Jadilah warna musik mereka bergeser menjadi lebih pop.  Hilang sudah permainan gitar solo atau denting piano setengah klasik, atau lengkingan lembut flute di tengah-tengah harmonisasi musik yang surealis mengantar ke alam serba aneh namun menghanyutkan. Genesis mulai menye. Dengarkan lagu “Invisible Touch” yang dirilis tahun 86. Itu Genesis yang sudah berubah jadi menye, walaupun secara keseluruhan musiknya masih enak didengarkan.

 

 

Tahu Phil Collins? Ya semoga masih tahu (ini saya mengasumsikan Anda lahir tahun 1995 ke atas jadi mungkin nama itu agak asing). Dia adalah vokalis Genesis. Tapi sebelum itu pada awalnya vokalisnya adalah Peter Gabriel, dan orang ini nih yang memberikan sentuhan classic rock ke lagu-lagu Genesis tahuna 1970 an dulu. Gabriel lebih memilih bersolo karir, dan orang akan mengenangnya sebagai  penyanyi jenius yang menyanyi dengan bedak dan make-up tebal di panggung, mbawa kencrengan, makai kostum bunga matahari, dan melantunkan lagu “The Lamb Lies Down on Broadway”.

“And the laaamb. . .  lies down on Brooadwaayyy….”

Tagged: , , ,
Posted in: Uncategorized