Prihatin dengan Mahasiswa Masa Kini (1)

Posted on November 21, 2014

0


Diskusi saya dengan beberapa rekan di Direktorat Kemahasiswaan tadi pagi menghadapkan kami pada beberapa isu menarik dan menantang:

Pertama, mengapa banyak mahasiswa yang membolos sesi Study Skills yang sebenarnya ditujukan untuk mengasah kemampuan membaca, berpikir sistematis, dan menulis ilmiah?

“Mungkin mereka tidak tertarik dan merasa tanpa itu pun mereka bisa dapat IPK bagus” kata seorang rekan.

“Mungkin mereka merasa capek dengan tugas-tugas mata kuliah yang sudah banyak” saran seorang yang lain.

“Mereka usul bagaimana kalau Study Skills ini dihapuskan saja karena membosankan. Materinya sama saja dari satu sesi ke sesi lainnya”.

Untuk yang merasa tidak tertarik, ya gimana ya? Kami juga tidak bisa memaksa Anda untuk menjadi tertarik. Satu hal yang jelas: kami tetap akan terus dengan program ini karena kami mempunyai alasan yang sangat kuat: dunia akademis itu lekat erat, kuyup, dan sangat membutuhkan kemampuan membaca, berpikir runtut, dan menulis secara baik dan benar secara ilmiah. Ibaratnya masakan nasi goreng, ini adalah nasinya. Tanpa nasi, tidak akan pernah ada masakan yang namanya nasi goreng itu. Ibarat mobil, ini adalah seperti bahan bakar atau sumber tenaganya. Jadi kami akan tetap memaksakan setiap mahasiswa untuk mengikuti program itu.

Nah, kalau untuk yang merasa capek, saya kira memang ada baiknya tim Study Skills ini meninjau secara keseluruhan beban yang maksimal bisa ditanggung oleh mahasiswa. Kami juga tidak ingin memberikan beban yang terlampau berat kepada mereka. Menurut Standar Pendidikan Nasional terbaru no 49/2014, beban belajar mahasiswa adalah maksimal 8 – 9 jam sehari atau setara 54 jam perminggu. Sudahkah kami mengikuti standar tersebut? Jangan-jangan beban belajar yang harus dikerjakan mahasiswa ternyata jauh melebihinya. Kalau itu yang terjadi, memang harus ada upaya untuk menguranginya, atau melakukan distribusi beban belajar ke sepanjang semester.

Sudah sejak beberapa bulan terakhir ini saya melamunkan adanya kurikulum di setiap program studi dan Fakultas yang mewajibkan mahasiswa untuk menulis paper ilmiah di beberapa mata kuliah. Kalau ini terjadi, upaya pembentukan di Study Skills akan menemukan kelanjutannya di kuliah-kuliah utama di semester berikutnya. Dengan demikian upaya bagus itu tidak akan terhenti di program Study Skills. Pada saat yang sama, beban di Study Skills bisa sedikit dikurangi karena sudah ada jaminan bahwa di kurikulum para mahasiswa kemampuan-kemampuan membaca dan menulis ilmiah itu akan terus dilatihkan.

Nah, tentang yang mengusulkan penghapusan Study Skills karena materinya sama saja, saya berpraduga bahwa mahasiwa-mahasiswa ini adalah orang-orang vokal yang impulsif. Insan seperti ini berbahaya karena mereka cenderung langsung angkat suara untuk mengkritik atau mengeluh tanpa mau merenung, introspeksi, atau berkontemplasi sejenak. Siapapun bisa melihat bahwa materi/topik di Study Skills itu senantiasa berubah dari satu periode ke periode lainnya. Kalau semula membahas rokok, minggu ini membahas tentang LGBT, dan sejenisnya. Jadi klaim bahwa materinya sama saja itu sungguh dilontarkan dengan ceroboh. Materinya pasti bervariasi; yang sama adalah teknik penyampaiannya. Ya, kalau itu memang harus demikian. Pengulangan latihan dari waktu ke waktu itu adalah hukum besi belajar apapun. Anda bisa menguasai serangkaian jurus karate hanya dengan latihan lima menit? Ndak bisa. Anda perlu latihan beribu-ribu kali, beratus-ratus jam dengan mengulang-ulangnya sampai Anda bisa mahir melakukannya. Ciaaattt!!

Posted in: Uncategorized