Bakso Malang

Posted on November 17, 2014

0


Malang terkenal sebagai kota apel. Tapi itu dulu. Sekarang, dengan semakin menjamurnya tempat makan di kota ini, Malang nampaknya sedang mengukuhkan jati dirinya atau setidaknya sedang mencari identitas baru sebagai kota kuliner. Lihat aja deretan tempat makan di sepanjang jalan Ciliwung. Mulai dari Haji Goreng Bebek Slamet, Steak Shake, sampai Bu Kris ada disitu menggarap perut dan lidah orang-orang Malang. Agak ke Barat sedikit sekitar 5 km dari situ ada jalan Pahlawan Trip. Jalan yang dulunya adalah tempat barak tentara dan rumah-rumah peninggalan jaman Belanda itu sekarang sudah menjadi pusat mbadhok (bhs Jawa, artinya “mangan”) yang baru. Ada Bakso Bakar di ujung sendiri, lalu berturut-turut ada the Harvest, Malibu Steak, Greenleaf, dan Dumami. Dulu disitu sempat juga ada resto Vietnam tapi terus tutup. Begitulah, persaingan di dunia kuliner juga sengit rupanya.

Tapi panganan paling populer di Malang ya tetap aja bakso. Bakso Malang itu sudah terkenal sampai ke Jakarta sana. Ada tiga lokasi bakso yang saya tau dan saya paling sukai: Bakso Bakar di jl. Kartini, Bakso Kota Cak Man di jl. Diponegoro depan patung kuda, dan Bakso Gun di Kawi.

Bakso Bakar itu yang paling ganas karena pedasnya dahsyat. Kalau makan disitu keringat mesti bercucuran karena selain tempatnya juga ndak besar, pedasnya sangat merontokkan sukma. Tapi enak. Sengsara membawa nikmat. Baksonya besar, kuahnya keruh kecoklatan dan bumbunya sangat terasa. Wis enak pokoknya.

Bakso Kota Cak Man punya tempat yang lebih lapang. Menunya bermacam-macam, jadi satu mangkok bisa diisi apa saja yang bisa dimakan dan cocok bergaul sama bakso.

Bakso Gun punya ciri yang khas: ada ijo-ijonya, plus udang-udangan. Enak? Ya pasti lah.

Nah, beberapa minggu belakangan ini santer terdengar ada bakso jalan Salatiga yang juga uenak soro. Sedemikian enkanya sampai kalau menjelang jam 11 siang banyak mobil parkir berderet-deret memuntahkan pengendaranya dan penumpangnya untuk menikmati bakso tersebut. Saya tentu saja penasaran karena jalan Salatiga adalah tempat orang tua saya bermukim sejak tahun 1971 tapi kok bisa saya ndak tahu bahwa ada bakso sialan itu??

Hari Minggu kemarin setelah mengunjungi ayah saya yang agak sakit barulah saya melihat dengan mata kepala sendiri bakso tersebut. Ternyata bukan depot atau warung, tapi gerobak dorongan. Gila, dengan hanya bekal sesederhana itu penjualnya bisa meracik bakso yang menyihir banyak orang untuk datang dan membelinya. Lho lha ini lho tampangnya:

BAKSO SALATIGA DODOL1

BAKSO SALATIGA DODOL2

Hebat ya UMKM sejenis ini. Mereka sukses meracik bakso sehingga banyak yang membeli. Sekilas terlintas pertanyaan yang makin lama makin keras: “kayak apa sih enaknya sampai banyak orang tertarik membelinya??”.

Maka saya pun pergi membeli delapan biji plus tahu plus ubo rampenya yaitu sayur dan kecambah. Baru kali ini saya melihat ada bakso dicampur kecambah. Ternyata itu gaya Bakso Solo. Nah ini lho tampangnya:

BAKSO SALATIGA

Ternyata setelah kami makan, hmm. . . . mmmm….. biasa aja tuh. Ya, masih tergolong enak sih, tapi ternyata juga ndak sedahsyat yang saya bayangkan. Bayangan saya sebelum itu adalah betapa nikmatnya bakso ini sehingga orang rela pergi ke jalan Salatiga yang kecil itu untuk ngantri beli bakso. Ternyata. . . . . yaah, biasa aja sih.

Hahahah, anti klimaks. Ternyata bakso di jl. Salatiga yaa . . . . lumayan lah. . . . 🙂

Maka dengan demikian makin keraslah pertanyaan yang terlintas tadi: “apa istimewanya ya bakso ini?”.

Yang jelas harganya termasuk sesuai kelas pembelinya. Tahu 5 biji harganya 20 ribu. Mantaaap!!

Posted in: Uncategorized