Asuransi

Posted on November 13, 2014

0


Sekarang setiap Kamis saya bisa agak senggang kerja sampai malam di kantor karena tidak harus mengantar pulang si sulung. Dia sudah pulang sejak jam 3.

Karena berpikir bahwa nanti saya masih bisa bekerja sampai jam 7, saya agak mengendorkan gas. Eh, tanpa diundang masuklah seorang rekan pria. Amat jarang terjadi yang seperti ini. Tampang dan aura saya senantiasa menyiratkan “saya sibuk!” kepada semua orang sehingga hanya sedikit sekali yang punya nyali untuk masuk ke kantor saya.

Rekan pria itu mengatakan ingin sharing barang 10 menit saja tentang tunjangan kinerja dosen. Saya kira dia mau memprovokasi untuk mengajak saya berdemo meminta kenaikan tunjangan, ha ha ha! Ternyata setelah dia berbicara sekitar 3 menit baru saya paham bahwa dia sedang menawarkan asuransi.

Sudah sejak lama sekali sejak saya mulai berpenghasilan, agen asuransi menjadi figur yang saya takuti. Bukan karena serem, tapi biasanya mereka akan membuat saya kewalahan mendengarkan uraiannya yang panjang lebar tentang benefit, manfaat segala macam dan kewalahan pula menerima desakannya untuk mengambil salah satu paket asuransi.

Memang saya sadari bahwa asuransi itu penting, apalagi untuk yang jadi breadwinner (pencari nafkah utama) seperti saya. Saya kan udah pernah cerita ya bahwa saya akhirnya memutuskan untuk ikut SL? Itu sudah berakhir setelah 10 tahun membayar preminya. Jadi meurut istilah asuransi saya sudah “terproteksi” alias kalau pun mati tidak membuat sengsara yang ditinggal mati, hihihihi!

Nah, ketika saya masih bekerja di Surabaya, ada seorang mahaiswa yang gigih sekali menawarkan asuransi padahal saya sudah ikut yang produk SL itu. Sedemikian gencarnya dia bicara sampai saya tidak punya kesempatan satu detikpun utnuk menyela dan menerangkan bahwa saya sudah punya paket asuransi. Tak terasa hampir dua jam dia nggedabrus terus. Akhirnya, capek juga dia nggedabrus, terus dia berhenti sebentar. Nah, pada saat itulah dengan tenangnya saya mengatakan :”saya sudah ikut paket SL sejak 5 tahun yang lalu.”

Kontan raut wajah dan nada bicara sang agen yang masih muda itu berubah menjadi ambruk. “Oh, ternyata sudah ikut yang itu to, Pak?” katanya. Lalu dia bangkit, mengemasi map-mapnya, kemudian menyalami saya “Baik, Pak, terima kasih waktunya. Tuhan memberkati”, dan dia pun pergi. Saya pun termangu-mangu setengahnya kasihan setengahnya lega . . . .

Teman saya punya kebiasaan buruk menjatuhkan mental agen asuransi yang sedang menawarkan produknya dengan mengatakan bahwa dia juga agen dari perusahaan saingannya. Jahat. kalau saya ya ndak sampai setega itu lah.

Tapi jadi agen asuransi memang harus ulet dan tahan malu, serta pintar omong. Tidak semua orang dikaruniai bakat seperti itu. Yang jelas saya pasti lah ndak berbakat wong omong saja hemat bin irit kok, hihihihii! Menarik!

Bisnis asuransi mah katanya sedang berkembang pesat. Makin banyak orang yang sadar asuransi. Jadi siap-siap aja kedatangan agen asuransi.

Tagged: ,
Posted in: Uncategorized