Orang Amerika Ngomel tentang Seragam

Posted on November 6, 2014

2


Barusan saja saya ketemu dengan kolega dari Amerika di pantry waktu sama-sama mencuci gelas kopi. Seperti biasa, setiap ketemu dengan orang ini selalu ada hal menarik yang kami perbincangkan dan kemudian bisa dipikirkan, utamanya yang berhubungan dengan pemahaman antar budaya. Pagi ini dia cerita bahwa dia baru saja protes keras ke sekolah anaknya (salah satu sekolah berstandar internasional di kawasan Permata Jingga, tempat anak gue juga sekolah). Pasalnya, kemarin pihak sekolah “menjemur” si anak dan teman-temannya di halaman di bawah panas sinar matahari selama 3 jam untuk menonton lomba dan pengumuman pemenangnya. Si anak kepanasan dan sempat mengalami “heat stroke” sehingga rekan saya ini harus membawanya ke dokter. Pihak sekolah bahkan tidak memberi minum untuk murid-muridnya, padahal ada sih Aqua gelas tapi katanya itu hanya untuk para guru.

“Hari ini katanya anak saya disuruh pakai seragam atasan putih celana panjang putih dan sepatu hitam” lanjut dia. “Kalau ndak punya, disuruh pinjam punya saudaranya. Ini apa-apaan? Saya ndak punya celana putih; ibunya pun ndak punya celana putih. Kalaupun punya masa iya anak saya mau memakai celana ibunya?? Karena merasa itu ndak masuk akal, ya udah, anak gue bolos hari ini”.

Saya bilang bahwa kadang-kadang memang sekolah-sekolah di Indonesia itu ndak sensitif. Murid dijemur panas-panas, nggak dikasih minum. Ada lho beberapa sekolah bahkan kampus yang sering bikin acara-acara seperti ini. Ndak peka, iya kan? Apakah alasannya untuk menempa murid? Well, ini sekolah, bung, bukan tempat pelatihan tentara.

Nah, soal seragam, menarik untuk dicermati bahwa kita di Indonesia suka sekali berseragam. Pasti masih ingat bahwa kita sejak sekolah TK sampai bahkan universitas pun masih diharuskan berseragam. Alasannya jelas dan masuk akal: untuk menghindari sekolah menjadi ajang pameran pakaian oleh anak-anak yang memang dari kaum mampu dan kebetulan sok pamer dan narsis pula. Tapi di mata rekan saya yang orang Amerika itu ini menjadi aneh. Dia menceritakan pengalamannya waktu pertama kali kerja di kampus ini juga demikian. Ada hari dimana dia tahu-tahu disuruh memakai seragam tertentu, atau bahkan batik yang dia bilang ” aku ora nduwe batik!”.

Saya bilang : “Iya, kita di Indonesia memang biasa berseragam. Kadang-kadang ya banyak yang ngomel, tapi ya akhirnya nurut juga. Nampaknya berseragam sudah jadi kebiasaan atau bahkan kebudayaan kita di Indonesia.”

“Kalau di negaraku lain,” dia bilang. “Disana kami mengatakan kepada murid apa yang mereka TIDAK BOLEH pakai ke sekolah, bukan apa yang HARUS MEREKA PAKAI. Misalnya, kami melarang murid mengenakan atribut keagamaan tertentu, atau aksesoris tertentu. Murid gak boleh pakai gelang dengan bentuk dan warna tertentu karena itu simbol dari komunitas gay atau rasis, dan sebagainya.”

Jadi begitulah perbedaan budaya Amerika dengan Indonesia. Mereka nampaknya lebih kritis menyikapi semua kebijakan, sementara kita cenderung manut saja.

Hihiihi! Menarik!

Posted in: Uncategorized