Yang Sukses dan Yang Gagal Move On

Posted on October 31, 2014

0


Beberapa anak muda sedang mengalami kegalauan setelah terpaksa putus dengan pacarnya. Menurut survey yang saya lakukan diam-diam, mereka ini mengaku paling sakiiiit kalau terpaksa harus berpisah padahal masih mencintai.

Sekian banyak yang sedang mengalami nasib buruk itu pasti hanya ingin satu hal: Move On. Ini bahasa gaul yang artinya kurang lebih “melupakan si dia dan melanjutkan hidup, dankalau perlu mempunyai kekasih baru.” Nah, mereka pun tergolong menjadi dua: yang sukses untuk move on, dan yang gagal move on.

Yang sukses bercerita bahwa salah satu kuncinya adalah menghentikan semua komunikasi dengan si dia. Yang dulunya rajin menyapa di Facebook atau saling komen di Tweet langsung membisu. Chat juga begitu. Aktivitas chat di Whatssapp, YM, sampai Line dan email langsung dihentikan.

“Apakah berarti memblokirnya?” tanya saya.

Oh, tidak, jawab mereka. Kalau diblokir malah akan terasa sakitnya. Jadi sudah biarkan saja begitu. Yah, sekali-sekali distalk ndak papalah; biasa kan manusia sebenarnya masih kangen dan ndak rela harus berpisah dengan kekasihnya jadi sesekali ingin tahu si dia sedang ngapain atau sudah bersama siapa. Tapi setelah itu harus dihentikan. Tugel del del del, putus tus tus tus.

Akhirnya mereka pun sukses move on, dan sekarang bahkan sudah punya anak dua dari hasilnya membina hubungan dengan orang lain.

Nah, tapi ada juga yang ternyata menderita berkepanjangan karena gagal move on. Segala petuah sudah dijalankannya. Nasihat yang di atas itu dari mereka yang sukses juga sudah dijalankannya sampai berbulan-bulan, tapi eh, masih saja terbayang si dia dan rasanya hidup makin sekarat karena merindukan terus-menerus si mantan itu.

Sampai akhirnya terbacalah satu tweet pagi ini: “Kalau salah satu bagian tubuhmu masih disimpan oleh si mantanmu, jangan harap kamu bisa move on.”

Hmm, dia pun mikir: emang aku pernah ninggal bagian tubuh yang mana di mantanku itu? Kalau ciuman dengan penuh nafsu dan saling peluk saling remas masa iya sampai meninggalkan salah satu bagian tubuh?

Sambil berpikir-pikir, dia menatap bayangannya di cermin. Berjam-jam begitu, tanpa ada jawaban sama sekali atas pertanyaannya itu: bagian tubuh yang mana?

Karena capek, dia mengacak-acak rambutnya yang panjang terurai dengan penuh rasa kesal dan frustrasi. Rambutnya jadi berantakan, dan ada dua helai yang tersangkut di jemari tangannya.

Dia melihat ke jemari tangannya dan bagian tubuh itu, dan “Aaaaaaarggghhhhhhhh!!!!!!” . . . . .

Posted in: Uncategorized