Topik Forkomil November 2014: Problem Based Learning

Posted on October 27, 2014

0


Waktu itu seingat saya Bu Melany datang ke saya meminta kesediaan saya untuk menjadi pembicara dalam Forkomil (Forum Komunikasi Ilmiah) di Universitas Ma Chung dan saya menjawab sekenanya. Kalau ndak salah saya menjawab: “ok, entar awal November aja ya”. Ndak taunya sekarang sudah hampir November dan email koordinator Forkomil itu membuat saya terhenyak: “Mohon kirimkan topik Forkomil Bapak”.

Yiaa….!

Ok, sekarang mikir mau presentasi apa ya? Heran, saya sudah banyak menulis di berbagai media tentang beberapa topik tapi lha kok sekarang malah bingung mau ngomong apa di Forkomil. Karena yang diundang adalah dosen-dosen dari berbagai prodi di Universitas Ma Chung, saya harus menyajikan topik yang bisa menarik perhatian mereka semua.

Akhirnya setelah berpikir beberapa lama diselingi makan bakpia, terlintas satu ide di benak saya: saya akan menyajikan tentang Problem-Based Learning (PBL), suatu pendekatan pembelajaran yang bertolak dari masalah konkrit di dunia nyata, dan dipecahkan bersama-sama oleh orang-orang dari disiplin ilmu yang berbeda-beda.

Ide saya itu akan berkelindan erat dengan ide saya yang lain, yaitu tentang perkuliahan tanpa tes. Dalam skema PBL itu, yang dipentingkan memang bukan semata-mata hasil akhir kinerja masing-masing individu, tapi lebih pada proses kerja sama dan upaya untuk menelurkan suatu solusi. Alasan lain yang mendasarinya adalah bahwa selama ini tes cenderung membuat mahasiswa berupaya mengejar nilai dengan segala cara baik yang terpuji maupun yang terkutuk, dan nilai akhir ternyata kurang sekali mencerminkan proses yang ditempuh mahasiswa. Skema kuliah tanpa tes akan membuat mahasiswa mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk perbaikan kualitas dirinya dan kualitas hubungan sosialnya dengan yang lain, tidak semata-mata pada nilai.

PBL. Ok, masalah apa yang ada di sekitar kita saat ini? Wah, banyak. Kalau sudah bicara masalah mana ada habisnya?

Dari sesi Study Skills yang saya ikuti, saya bisa mendaftarkan banyak sekali masalah yang ada di realita sana. Tapi supaya menjadikan posting ini lebih singkat, saya hanya akan menuliskan beberapa saja diantaranya. Inilah beberapa itu:

– Masalah polusi lingkungan
– Perundungan di sekolah
– Pengubahan lahan konservasi menjadi lahan industri
– Membanjirnya merek-merek asing di Indonesia
– Mencegah virus Ebola

Itu masalah-masalah masyarakat yang memang nampak nyata di luar dinding kampus. Tapi tunggu, mungkin kita harus melihat lebih cermat bagaimana mahasiswa memandang semua itu. Apa iya itu masalah bagi mereka? Jangan-jangan hanya dosennya yang memandangnya sebagai masalah namun mahasiswanya memandangnya sebagai bukan masalah. Masalah ketiga itu, misalnya, lha apa iya semua mahasiswa memandangnya sebagai masalah? Jangan-jangan mereka merasa bahwa itu malah merupakan sesuatu berkah, ha ha ha!

Nah, jadi disini kita sampai pada titik belajar yang terpusat pada murid, atau CBSA. Dalam CBSA, murid sedikit banyak dilibatkan dalam proses menentukan apa yang menjadi masalah utama.

Jadi setelah masalah ditentukan, dosen dan mahasiswa membahas bagaimana beberapa bidang ilmu yang berbeda harus disinergikan untuk bisa memecahkan masalah. Masalah polusi bisa didekati dengan pengetahuan kondisi psiko sosial masyarakat setempat (bidang sosiologi dan psikologi), himbauan untuk mencegah polusi (ilmu promosi yang berkaitan dengan penggunaan bahasa), kalkulasi manfaat ekonomis dari lingkungan yang bersih dan bebas polusi (bidang akuntansi). Ternyata kalau kita jeli, kita bisa mendekati satu masalah dari berbagai disiplin ilmu. Untuk membuat semua pendekatan itu berdampak, diperlukan kerja sama antar mahasiswa dari berbagai bidang ilmu. Lebih persisnya, mereka harus mau dan mampu membagikan ilmu nya secara praktis kepada teman-temannya sehingga secara bersama-sama mereka bisa mengajukan suatu solusi yang dibangun melalui penalaran ilmiah dan analisis yang komprehensif.

Manfaat dari PBL seperti ini adalah terpacunya kerja sama antar peserta, dan terasahnya kepekaan mereka akan masalah-masalah sosial sehingga kampus tidak lagi menjadi menara gading yang asing atau bahkan abai terhadap realitas masyarakat tempatnya berdiam.

Secara garis besar, itulah yang akan saya paparkan di Forkomil nanti. Tunggu tanggal mainnya, 4 November 2014 jam 3 sore di Theater Room Universitas Ma Chung.

Posted in: Uncategorized