Liburan Kemana?

Posted on October 27, 2014

0


Setiap menjelang dan sesudah liburan panjang seperti Tahun Baru atau Hari Raya Lebaran pertanyaan basa-basi yang umumnya dilontarkan adalah: “liburan kemana aja?”

Pertanyaan ini tentu saja tidak salah. Namanya juga basa-basi. Tapi beberapa waktu terakhir ini setidaknya saya mulai lebih peka terhadap kondisi sosial ekonomi kenalan dan rekan yang mungkin tidak memungkinkannya untuk menjawab pertanyaan itu dengan mata berbinar2: “Oh, kami pergi ke Perancis selama seminggu!” Singkat kata, pertanyaan itu jadi urung saya lontarkan karena takut dianggap tidak peka terhadap mereka yang memang tidak bisa kemana-mana karena memang tidak punya duit.

Sebenarnya sudah tiga empat tahun terakhir ini saya juga bernasib sama. Setiap kali ditanya kenalan: “liburan kemana aja, Pak?”, saya melontarkan satu jawaban yang mulai terdengar klise karena seringnya saya ucapkan: “Oh, ndak kemana-mana. Paling ya ke Batu aja beli susu, terus ke rumah orang tua.” Gituu aja jawaban saya dari tahun ke tahun. Suatu ketika akhirnya kena juga urat malu saya dan mulai terpikir untuk memberikan jawaban yang lebih bergengsi: “oh, saya jalan-jalan ke Eropa” atau “kami keliling Asia”. Tapi sebentar, lha wong nyatanya saya memang ndak cukup mampu untuk kesana, kok, lha masak mau njawab gitu?

Akhirnya pertanyaan liburan kemana menjadi pertanyaan sensitif yang harus diucapkan hati-hati. Tidak kepada setiap orang bisa kita lontarkan pertanyaan seperti itu. Kalau dia hanya karyawan kecil yang gajinya paling berapalah masih sedikit di atas UKM ya masa kita mengharapkan jawaban “ke Eropa” atau ke “Raja Ampat”?

Ada cerita yang cukup membuat terenyuh. Seorang anak baru pulang dari liburan di Malaysia dan dengan senangnya membawa foto-foto liburannya ke sekolah untuk ditunjukkan ke teman-temannya. Baru juga bercerita sebentar tentang foto-foto itu, salah seorang temannya yang kebetulan memang dari keluarga sangat kaya memotong ceritanya: “Oh, ini ke Petronas kah? Aku lho sudah pernah kesana sama papa mamaku; dua kali malah.” Eh, temannya yang mendengar itu tidak mau kalah: “Aku lho sudah pernah ke Korea, ke Pulau Nami. Terus habis itu ke Guangzhou, terus lanjut ke Shenzen naik kereta.” “Oh, lha aku malah waktu liburan yang lalu pergi ke Eropa,” temannya yang lain ndak mau kalah. “Ini fotonya,” dia mengeluarkan gadgetnya dan menunjukkan sebuah foto dia sedang berpose di pilar-pilar besar di Roma. “Akhir tahun ini aku ke Hong Kong sama ceceku,” katanya.

Sang anak yang memang baru pertama kali liburan ke luar negeri itu lalu terdiam. Dia tidak menyangka ternyata teman-temannya jauh serba lebih daripada dia. Dalam pikirannya yang masih polos, dia pikir pergi ke Malaysia itu sudah sangat istimewa.

Maka dia pun lalu diam dan menyimpan kembali semua foto yang hendak ditunjukkannya. Setelah pulang sekolah, dia bertanya kepada ayahnya, “Pa, libur Natal tahun ini kita mau kemana? Ke Eropa tah? Atau ke Hong Kong lanjut Guangzhou lanjut Shenzen? Atau ke Roma dan ke Korea?”

Papanya terdiam. Pikirnya, ini anak pasti sudah kena pengaruh teman-temannya yang ortunya memang super duper kaya.

“Ndak usah kemana-mana, Nak,” katanya kemudian. “Kita ke Taman aja–”

“Oh, Everland ya Pa?” sahut anaknya “Katanya teman2 itu taman yang buagus di Korea sana”.

Bukan, Nak,” jawab ayahnya, kali ini dengan suara agak lemes. “Ke Taman Senaputra yang di Klojen itu lho, Nak. Murah meriah”.

O alah, Pa….

Posted in: Uncategorized