Nampang di Youtube

Posted on October 22, 2014

2


Beberapa hari yang lalu saya didatangi dua orang mahasiswa dari prodi lain. Mereka meminta saya sudi diwawancara tentang suatu topik yang ditugaskan dosennya dan direkam video, lalu nanti diunggah ke Youtube. Saya terus terang merasa agak keberatan dengan permintaan ini. Tapi dasarnya saya gak tega menolak orang, apalagi kalau itu mahasiswa yang sedang menjalankan tugasnya, akhirnya saya ijinkan. Itupun dengan peringatan “Sebentar aja lho ya. Saya sedang sibuk nih.”

Eh, selesai dengan pasangan yang itu, ndak lama kemudian muncul lagi dua orang temannya meminta hal yang sama. Yaah, gimana, mau saya tolak tapi ndak tega, mau diterima kok makin mengganggu. Nah, jadilah saya melayani permintaan wawancara sangat mendadak itu.

Selesai dengan yang ini, e alah, masih ada lagi pasangan ketiga yang muncul lima belas menit kemudian dengan permintaan yang sama. Saya akhirnya sampai hati untuk bertanya: “apa sudah meminta dosen-dosen Sastra yang lain?”. Mereka jawab: “ndak ada yang mau, Pak. Jadi tolong, Bapak mau yaa..?

Tega bener teman-teman saya menolak, batin saya. Tapi ya memang bisa dimengerti kalau mereka keberatan. Wawancara itu sangat mendadak sehingga saya dan rekan-rekan yang lain pasti tidak siap. Bisa dibayangkan sulitnya berbicara tentang suatu topik yang belum kita siapkan. Setelah itu, yang sebenarnya membuat saya sangat keberatan adalah video klip saya itu nantinya akan diunggah ke Youtube.

Saya sendiri tidak tahu mengapa, tapi yang pasti semakin lama saya hidup semakin malass dan malu menampilkan foto dan video di media sosial. Ya, masih beberapa kali mengunggah foto pribadi sih tapi itupun saya seleksi benar. Saya hanya mau menampilkan yang terbaik setidaknya dari kaca mata saya. Lha ini kalau untuk tugas mahasiswa itu pastilah saya tidak sedang dalam penampilan terbaik: muka kucel karena sedang di tengah kesibukan, ruang kantor tidak rapi, jawaban terkesan kurang kaya karena memang tidak ada persiapan sebelumnya. Sudah pasti akan jelek hasilnya, dan saya tidak suka saya dalam keadaan kocar kacir seperti itu ditonton orang banyak di Youtube.

Saya tidak tahu apakah rekan-rekan yang lain juga merasakan hal yang sama. Mungkin kalau mereka sih malah senang karena sebagian dari rekan kerja saya memang masih narsis sekalipun usia sudah 40 ke atas dan dus itu membuat wajahnya tidak lagi fotogenik mau diapakan kayak gimana pun, hahaha!

Jadi ingat seseorang yang pernah saya kenal. Setelah putus dengan kekasihnya, karena tidak mau dikuntit di sosial media daring (online), dia menghindari semua foto bareng dimanapun dan kapanpun. Jadinya aneh sekali dan dia dianggap menderita asosial parah karena benar-benar ngotot tidak mau foto bareng. Dia takut nanti fotonya akan diunggah ke media daring dan ketahuan oleh mantan kekasihnya yang masih terus menguntitnya itu.

Seorang rekan bule dari Amerika yang juga pernah jadi tentara di Amrik sana juga menceritakan bahwa seorang tentara Amerika, apalagi yang sedang mengemban misi rahasia, tidak akan mau sembarangan berpose bareng. Mereka akan sangat menghindari acara-acara berfoto bareng, apalagi membiarkan dirinya direkam video kemudian diunggah ke Youtube. Alasannya jelas: supaya tidak dideteksi oleh pihak lawan. Jaman sekarang itu semua bisa dengan mudah dilakukan; bahkan Google pun menyediakan fitur yang bisa melacak seseorang hanya dari fotonya.

Nah, kembali ke saya. Saya malas dipaksa-paksa foto atau tampil di media sosial daring bukan karena saya agen CIA atau agen Zionis, tapi karena ya saya males aja melihat diri saya sendiri di tayangan Youtube.

Males aja, sih, ndak tahu juga persisnya kenapa. Males aja, ndak terasa bagusnya sama sekali.

Tagged: ,
Posted in: Uncategorized