Peran Teknologi dalam Pembelajaran

Posted on October 17, 2014

2


Beberapa minggu terakhir ini saya bergulat dengan isu tentang peran teknologi dalam pembelajaran. Sebenarnya ini juga dipicu oleh diskusi atau komentar rekan-rekan di berbagai socmed tentang bagaimana sudah berubahnya kebiasaan anak muda jaman sekarang dalam belajar karena pengaruh yang begitu masif dari gadget-gadget mereka. Juga oleh pengalaman sendiri ketika mengajar dan mendapati bahwa LCD byar pet sehingga saya harus menggunakan papan tulis dan spidol untuk mengajar. Lalu saya jadi bertanya-tanya seberapa besar peran teknologi dalam pembelajaran? Apakah teknologi akan menggantikan cara belajar konvensional, membantu efisiensinya, atau bahkan menghambatnya?

Setelah melakukan perenungan sebentar selama dua tiga hari, saya sampai pada kesimpulan bahwa peran teknologi dalam pembelajaran adalah seperti ini:

Penyampai ceramah satu arah

Di jaman konvensional, dosen atau guru berceramah di depan kelas, dan murid-muridnya menyimak dengan tekun supaya tidak kehilangan poin-poin yang penting. Ceramah ini terjadi satu kali saja, dan tidak bisa diulang, dilambatkan, atau dicepatkan. Agak sulit kan untuk menyuruh dosen mengulangi ceramahnya yang panjang lebar karena sang murid belum paham bagian-bagian tertentu? Namun teknologi maju seperti handy cam, kamera CCTV, ditambah lagi dengan Youtube memungkinkan keluwesan itu. Seperti sudah saya alami sendiri, ceramah dosen bisa direkam, kemudian rekamannya diputar ulang untuk para murid. Nah sekarang sang murid bisa melambatkan, mengulang-ulang, atau mempercepat siaran ceramah itu tergantung pada kecepatannya memahami materi.

Penambah wawasan

Teknologi Internet yang sudah praktis digenggam telapak tangan memungkinkan murid untuk menambah wawasannya tentang suatu bidang ilmu atau suatu topik. Setelah mendengarkan uraian dari dosen, atau bahkan sebelum ceramah pertama dimulai, sang murid bisa membuka gadgetnya dan mengakses seribu satu sumber penambah wawasan di dunia maya: Wikipedia, glossary, Google Scholar, Youtube, dan banyak lagi.

Ketika dosen sedang menerangkan materi pada ceramah pertamanya, sang mahasiswa yang sudah sedikit tercerahkan tadi bisa mengikutinya dengan lebih lancar karena wawasannya sudah bertambah lewat teknologi maju.

Kalau dilihat dari perspektif Taksonomi Bloom, kedua hal yang saya ungkapkan di atas masih bersumbu pada kegiatan kognitif Mengingat dan Memahami. Nah, yang berikutnya adalah untuk yang selangkah lebih maju, yakni Menerapkan:

Melatih

Materi pelajaran yang sudah diserap (diingat dan dipahami) dari ceramah dosen sekarang harus dipraktekkan. Salah satu bentuk praktek adalah melakukan latihan, dan latihan inipun bisa berupa ragam. Salah satunya adalah tanya jawab dengan dosen atau dengan teman sekelas. Kali ini teknologi Internet menyediakan platform seperti Coursesites untuk melakukan diskusi secara online. Dosen melemparkan satu atau dua pertanyaan atau bahan diskusi, dan para mahasiswanya menanggapi entah secara individu atau berkelompok. Dengan demikian terjadi pembelajaran antar mereka. Penelitian saya setahun yang lalu menunjukkan bahwa murid-murid yang tergolong lemah di kelas mendapatkan manfaat dari diskusi online dengan teman-temannya yang lebih pintar. Bukan hanya itu. Mereka yang di kelas tergolong pasif karena mengalami “tekanan psikologis” oleh kecemerlangan (dan kadang-kadang juga dominasi) teman-temannya yang lebih pintar ternyata lebih mau aktif ketika diskusi online. Ini karena faktor penghambat psikologis itu praktis lenyap ketika hanya mereka sendirian atau hanya dengan teman baiknya.

Untuk mata kuliah yang mengharuskan pengingatan akan konsep-konsep utama, Power Point bisa dimanipulasi sedemikian rupa sehingga menjadi flashcards: satu konsep ditampilkan, mahasiswa diminta mengingat dan mengatakan definisinya, kemudian definisi tersebut ditampilkan di slide melalui pengaturan “Animations” sehingga mahasiswa bisa mencocokkan jawabannya.

Blog juga bisa dimanfaatkan sebagai alat belajar dalam kegiatan melatih ini. Blog yang saya buat di katamachungers.wordpress.com memuat teks-teks pilihan para mahasiswa saya lengkap dengan kata-kata baru yang telah mereka pelajari dari teks-teks tersebut. Blog bisa memuat uraian jawaban atau karya tulis atau proposal mahasiswa yang kemudian terbuka untuk rekan dan/atau dosennya mengomentarinya.

Merancang

Merancang adalah kegiatan kognitif paling tinggi yang diperoleh setelah mengikuti suatu mata kuliah atau suatu pelajaran selama beberapa bulan. Dalam ranah inipun yang namanya Google, blog, Youtube, Vimeo dan coursesites tadi bisa makin menjadi-jadi perannya untuk membantu mahasiswa merancang sesuatu. Selain bisa mempelajari model dari Google dan sumber-sumber lain yang Google sarankan, sang mahasiswa bisa memamerkan model atau karya buatannnya di blog atau coursesite dan menantikan komentar dari dosen dan teman-temannya.

Demikianlah secara singkat uraian tentang peran teknologi Internet dan komunikasi informasi dalam pembelajaran. Sudahkah kita menyadari hal ini?

Sekedar tahu saja, “gudang senjata” saya dalam memainkan peran menjadi dosen dan sarjana selain situs-situs di atas adalah ini: Scribd, docstoc, Academia Edu, dan Power Slides. Itu masih ditambah dengan jurnal-jurnal online.

O, ya, satu pesan penting: secanggih-canggihnya dan sekaya-kayanya teknologi informasi dan komunikasi, sulit untuk bisa menggantikan 2 kunci keberhasilan pembalajaran: motivasi tinggi dari sang murid, dan gairah mengajar dari guru atau dosennya.

Posted in: Uncategorized