Mobil dan Macem-Macem Wis

Posted on October 2, 2014

0


Minggu ini saya cuti dua hari sejak Senin. Lho kok tumben? Ndilalah alasannya ngglethek: supaya saya bisa mengurus perpanjangan STNK mobil saya. Karena sudah 5 tahun sejak saya beli tahun 2009, maka saya harus ke Samsat di daerah Sukun sana untuk mendaftarkan mobil itu. Kalau di bawah 5 tahun kan cukup pergi ke MOG sana di lantai 2 untuk mendaftar ulang, tapi karena ini sudah 5 tahun jadi ya harus ke Sukun.

Tapi saya masih sempat masuk kampus sebentar untuk memberikan Kuis Besar di kelas Research Technique. Dasar dosen, walau cuti, masih aja suka menyiksa mental mahasiswanya lewat Kuis Besar, hahaha!

Jam 10 saya ke Sukun. Perasaan kantor Samsat itu dulu jauuuh sekali dari kuburan Nasrani itu; tapi ternyata saya nyaris kebablas karena tau-tau sudah nongol di kanan jalan. Mobil pun dicek fisik. Halah, yang namanya cek fisik itu saya kira diapakan, ternyata cuma diesrek-esrek aja nomer mesin dan nomer sasisnya.

Dua juta tiga ratus melayang untuk mendaftar ulang Livina 1498 cc itu. Saya bilang “melayang” karena ketika duit itu saya berikan, terbayang untuk apa seharusnya duit rakyat itu. Kan ya mestinya untuk perbaikan dan penambahan sarana jalan di Malang yang semakin macet ini. Ya, semoga begitulah, supaya tidak sia-sia saya merelakan uang yang menurut saya lumayan itu tapi menurut seseorang “halah, sak gitu yo wis muraah itu; hare gene, dua juta buat registrasi ulang mobil, ya wis murah!”

Kalau mobil sudah 5 tahun begini, selalu saja ada pembisik-pembisik untuk menggantinya dengan yang lebih baru. Padahal saya ndak berahi mobil. Dasarnya saya juga sangat ndak suka nyetir. Jadi asalkan masih ada roda dan mesinnya dan masih bisa jalan ya buat saya ndak masalah. Tapi terus pembisik-pembisik itu mengatakan “gak malu a? Masak guru besar dan Dekan kok mobilnya keluaran tahun 2009? Ndak mau ganti CRV a? Ndak mau ganti Ford Ecosport a?”. Halah, iki maneh, semakin saya digelontor penalaran yang ndak masuk nalar itu semakin saya bergeming.

O, ya, Samsat itu sudah jauh lebih baik lho sekarang. Ya masih ada saja bagian yang kurang rapi dan kurang efisien, seperti misalnya alur pengurusan yang kurang jelas dan membuat saya harus naik turun lantai satu dan dua hanya untuk beli map. Tapi selain daripada itu, pelayanannya jauh lebih ramah daripada dulu. Bapak-Bapak polisi itu cukup sabar menghadapi antrian yang panjang mulai pagi sampai siang.

Selesai menikmati cuti dua hari, tiba di kantor saya disambut dengan tumpukan KHS untuk ditandatangani. Mungkin jumlahnya mendekati ratusan. Yah, saya tanda tangan erek-erek sampai seratus kali. Yah, salah sendiri juga kenapa tanda tangan saya panjang sekali. Bayangkan, tanda tangan saya tuh memuat nama depan dan nama akhir saya secara lengkap: Patrisius Djiwandono, gitu. Saya lihat orang lain kok ndak selengkap itu ya. Berarti saya aja yang bodoh kenapa tidak membuatnya menjadi efisien. Berarti saya rugi waktu sekian detik kalau bersama-sama kolega menerima honor, karena dia hanya butuh satu detik, sementara saya butuh dua setengah detik untuk tandatangan, padahal jumlah honornya sama, hahaha.

Beralih ke soal dosen baru. Banyak dosen baru di kampus sekarang ini. Sebagaimana sopan santunnya orang baru, sudah selayaknya mereka yang datang ke dosen-dosen lama untuk memperkenalkan diri. Dulu saya di WM Surabaya ya begitu kok. Tapi ada satu yang kelihatannya entah kurang santun atau mungkin pemalunya sedikit berlebay sehingga dia jalan aja tuh ndak menyapa kiri kanan, padahal di sekitarnya dosen-dosen lama termasuk saya yang sudah mulai senior. Setan.

Posted in: Uncategorized