Berbohong

Posted on August 28, 2014

0


Anda bohong. Kamu bohong. Dia bohong. Mereka bohong. Semua bohong. Oong. . . .oong.. . . oongng!

Tak ada seorang pun yang suka dibohongi. Dalam skala kecil atau bahkan yang disebut “bohong putih” sampai skala masif yang melibatkan nyawa atau uang milyaran, tak ada manusia normal yang suka dibohongi. Kebanyakan kita akan merasa geram kalau dibohongi, walaupun kadang-kadang kita terpaksa melakukannya (karena kepepet, atau karena ingin mempertahankan hubungan baik) atau bahkan sengaja melakukannya.

Dari dulu para ahli psikologi gemar mengutak-atik bagaimana mendeteksi kebohongan. Menurut mereka, ada bahasa tubuh yang tak bisa tidak akan mencuat ketika seseorang berbohong. Saya sudah agak lupa apa saja bahasa tubuh tersebut. Yang jelas, yang saya postingkan ini adalah pengalaman pribadi yang berkaitan dengan kebohongan. Jadi apa yang saya tulis bukan sekedar teori, tapi memang berpijak pada pengalaman nyata.

    Kontak mata

Teori mengatakan bahwa orang yang sedang berbohong cenderung menghindari kontak mata karena pada matanyalah tersembur sirat bahwa dia sedang berbohong. Ini ada benarnya. Kalau seorang anak berbohong pada orang tuanya, dia akan menjawab pertanyaan sambil menunduk atau melihat ke arah lain. Saya pernah mengalaminya sendiri. Ketika ada seorang rekan yang saya “interogasi” karena suatu peristiwa yang akhirnya menyangkut nasib saya, teman itu menjawab “tidak, saya jelas ndak tahu apa-apa soal itu” sambil matanya beralih dari wajah saya langsung menatap lantai. Jadi pandangan mata yang mendadak beralih dari wajah ke arah lain itu menandakan bahwa seseorang tidak nyaman dengan apa yang dikatakannya, karena sebenarnya dia sedang berbohong.

    Pengalihan

Satu yang saya tandai dari seorang yang sedang berbohong adalah caranya dia mengalihkan topik secepat kilat. “Kamu kok memotret-motret? Kamu belajar motret dari mana? Dari dosenmu?” tanya saya setengah mencecar. Yang saya tanya menjawab setengah menggumam sehingga tidak jelas perkataannya. Ketika saya mengulangi lagi pertanyaan itu, dengan cepat dia meraih selembar kertas di meja dan mengatakan: “Ini soal apa sih?”. Langsung saya tepuk kertas sialan itu kembali tertelungkup di atas meja, sambil berkata: “Ini bukan urusanmu”.

Tidak diperlukan seorang psikolog handal untuk mengatakan bahwa dia sedang berbohong tentang apa yang dikatakannya. Mengalihkan topik dengan tiba-tiba merupakan taktik seorang pembohong untuk mengurangi tekanan tidak nyaman pada topik berbohongnya. Celakanya, untuk seorang yang tidak biasa berbohong, hal ini akan kelihatan jelas sekali. Kalau Anda suatu ketika melihat saya melakukan itu, itu artinya saya memang tidak biasa berbohong. Pembohong amatiran, istilahnya, belum sekelas profesor. LOL.

    Bohong ndak masuk akal

Cara ini paling mudah dideteksi dan umumnya karena si orang yang sedang bohong itu sudah kehabisan akal sehingga ucapannya terasa ndak masuk akal. Ya iyalah, kalau akal sudah habis gimana bisa masuk? Hihihi!

“Saya hanya melihat gambar si wanita, bukan si pria,” kata seseorang ketika dikonfrontir bahwa dia melihat foto seorang pria setengah telanjang persis di sebelah foto seorang wanita berpakaian senam. Lhaa, ya ndak mungkin melihat satu dari dua gambar yang jaraknya hanya sekian milimeter disebelahnya, ya ndak? Jadi, itu yang dinamakan bohong ndak masuk akal, karena langsung ketahuan ucapannya ndak logis sama sekali.

Lalu, bagaimana caranya berbohong supaya tidak ketahuan? Bagaimana caranya supaya bisa berbohong a la “lying with a straight face?”

Ternyata sulit sekali. Coba deh, Anda bisa endak? Saya sudah mencoba dan ternyata gatot (gagal total). Sekalipun kontak mata sudah dipertahankan dan topik diusahakan mati-matian agar tidak berubah, tetap saja kita akan menunjukkan sedikit ketegangan di wajah atau di urat leher atau di pundak ketika mengatakan bagian yang bohong. Memang sedikit saja, tetapi itu sudah cukup untuk seorang yang awas untuk tahu bahwa kita sedang BERBOHOOOOOONGNG!

Hihihihii! Menarik!

Posted in: Uncategorized