Yang Lucu-Lucu

Posted on August 25, 2014

0


Sepanjang bulan ini saya amati dan catat beberapa percikan pengamatan dan pengalaman yang lucu-lucu tentang tingkah polah manusia di tempat saya bekerja.

Yang pertama adalah tentang para mahasiswa baru. Sepanjang pertengahan bulan Agustus sampai awal September, mereka mengikuti rangkaian acara orientasi kehidupan kampus. Hampir di setiap acara tersebut mereka diharuskan mematikan ponsel atau gadgetnya, atau minimal memasangnya dalam silent mode. Nah, ada cerita bahwa salah satu dari mereka rupanya sudah menjadi “kontraktor kecil-kecilan”. Ketika semua temannya sudah mematikan ponsel mereka, si dia ini masih terus menelpon seseorang di ujung sana. “O ya, mbak, itu pasirnya nanti dikirim ke jalan anu, sama Pak Anu ya. . . . itu nanti semennya gimana” bla bla bla. Ha ha ha! Rupanya dia sudah punya profesi sambilan menjadi pemborong sebuah bangunan sampai harus terus-menerus memberikan komando kepada rekanannya di luar kampus.

Jaman dulu, anak seperti ini bisa langsung dicap ndak bakal sukses di dunia kuliah karena sikap dan gayanya sudah tidak seperti mahasiswa. Tapi jaman sekarang, setidaknya saya dan beberapa orang lain, yakin bahwa dunia perkuliahan hanya salah satu jalan saja menuju masa depan. Ada beberapa orang yang memang tidak ditakdirkan untuk menempuh suksesnya lewat dunia akademis. Mungkin mahasiswa baru yang satu itu termasuk salah satunya. Siapa tahu dia memang sudah merintis profesinya sebagai kontraktor bangunan, lalu DO dari universitas karena lebih sibuk mengurus bisnisnya. Ya, siapa tahu, ya to? Lebih seru lagi kalau ternyata setelah drop out, dia lantas menjadi pengembang real estat besar dan merekrut teman-temannya seusia yang dulu lebih suka meneruskan kuliahnya sampai lulus dan jadi sarjana. Lhaaa…!

Peristiwa lucu kedua terjadi di acara penyambutan tamu-tamu dari sebuah negara yang sedang berjaya karena kekuatan ekonominya. Ndak main-main, yang datang adalah konsulnya sendiri lho ini. Maka acara penyambutan pun dilakukan. Eh, ternyata setelah sang konsul datang dan seorang pimpinan mengemukakan maksudnya untuk mengharapkan bantuan dari lembaganya, sang konsul dengan setengah cengengesan langsung menukas: “ah, what kind of help do you need, he he hee…!”. Yaah, ndak elegan blas gayanya. Itu mah gaya arisan ibu-ibu PKK, bukan sikap elegan, santun, dan diplomatis yang umumnya ditunjukkan oleh seorang oetinggi kedutaan besar. Saya yang menyaksikan hanya bisa tersenyum kecut.

Sang konsul disertai rombongan para tetua dari negeri tersebut. Anehnya, sekalipun sudah berusia lanjut, ternyata mereka masih perlu mendapatkan pembinaan karakter, atau setidaknya pembinaan etiket. Lha masak ketika ada seorang rekan sedang berpidato di depan, mereka sibuk ngomong sendiri di mejanya. Suaranya yang tidak diredam membuat interferensi yang sangat mengganggu kekhidmatan pidato tersebut. Saya hanya memandang mereka dan membatin: “masya allah rek orang-orang ini? Usianya sudah tua-tua, kelakuannya ngalah-ngalahi remaja tanggung yang masih suka ngobrol sendiri di kelas atau waktu pertemuan.” Kata orang sekarang, saya gagal paham mengapa sikap seperti ini bisa terjadi.

Itu sepercik pengalaman kecil-kecil yang saya alami dan amati. Cukuplah untuk mengisi blog ini selepas jam makan siang.

Posted in: Uncategorized