Angkatan 2014 dan Rumah Belajar

Posted on August 21, 2014

0


Tak terasa sudah 7 kali saya menyambut para mahasiswa baru di Universitas Ma Chung. Terhitung sejak angkatan 2008 sampai angkatan 2014, saya selalu menjadi salah satu anggota tim penyambutan. Tahun 2008 menjadi mentor, dan tahun 2009 – 2014 menjadi fasilitator Study Skills. Begitu cepat waktu berlalu. Mentee-mentee saya angkatan 2008 dulu sudah menjadi orang, dan selagi mereka menerjuni berbagai bidang pekerjaan dan merasakan beragam pengalaman, saya tetap disini bak penjaga pintu menyambut tamu-tamu yang baru datang. Selamat datang, adik-adik mahasiswa baru ke kampus Ma Chung. . . .

Kampus Ma Chung bebas dari kekerasan. Tapi bukan itu sebenarnya yang menjadi alasan kenapa kami disini membekali mahasiswa dengan pengenalan kampus dan Study Skills, dan bukannya opspek yang model pelonco2an. Dasarnya sederhana saja: akal sehat. Kalau selama ini kami menjuinjung tinggi nilai kemanusiaan dan nilai-nilai akademis, lha masak mau mengijinkan mahasiswa senior membentak-bentak mahasiswa baru untuk mencari barang-barang dan melakukan kegiatan yang ndak ada justifikasi ilmiahnya sama sekali? Jadi peduli amat kampus lain mau melestarikan kebiasaan buruk dan aneh yang tidak ilmiah sama sekali itu. Kami sih lebih suka membangun budaya cinta kampus dan budaya ilmiah di kalangan maharu melalui kegiatan pengenalan kampus, pengenalan staf dan dosen, pelatihan cara membaca efektif, cara menulis ilmiah, dan strategi belajar bahasa asing.

Tahun ini temanya Ma Chung sebagai Rumah Belajar. Saya diminta oleh pihak panitia memberikan ceramah singkat di depan para maharu tentang apa itu Rumah Belajar. Sekitar 250 an mahasiswa dengan tekun menyimak uraian saya di Balai Pertiwi. Mereka duduk lesehan di lantai sehingga kesannya lebih santai dan lebih mengurangi jarak psikologis dibandingkan dengan duduk di kursi. Begitu selesai, mereka bertepuk tangan meriah sekali. Yah, tumben saya ditepuktangani sampai segitunya. Ya senang juga sih. . .

Kenapa Ma Chung sebagai Rumah Belajar? Pertama, saya ajak mereka memahami bahwa yang namanya rumah selalu berkonotasi dengan kenyamanan dan keamanan. Harapannya, mereka mulai memandang Ma Chung sebagai sebuah rumah, sebuah tempat yang menyediakan bukan hanya fasilitas lengkap tapi juga atmosfir bersahabat dan menyenangkan.

Lalu kenapa belajar? Ya, jelas. Sebagai insan akademik mereka harus mau dan menyukai kegiatan belajar. Belajar tidak melulu terbatas di kelas dari dosen dan buku teks, tapi dari berbagai kegiatan di kampus. Rumah Ma Chung menyediakan semua itu: mulai dari latihan dasar kepemimpinan, berbagai jenis camp, klub minat mahasiswa yang disebut Unit Kegiatan Mahasiswa, sampai menjadi asisten dosen dalam penelitian atau bahkan pengajaran.

Intinya, di Rumah Belajar ini para mahasiswa akan mendapati bahwa setiap pengalaman adalah sumber pengetahuan dan penambah wawasan, dan bahwa setiap orang adalah guru.

Tahun ini juga merupakan tahun istimewa karena untuk pertama kalinya beberapa acara inti dikoordinir oleh mahasiswa sendiri, termasuk Study Skills. Maka para mahasiswa baru akan mendapati para kakak kelasnya melatihkan materi-materi Study Skills sejak tanggal 25 – 28 Agustus nanti. Kita lihat bagaimana mereka menangani tugas ini.

Posted in: Uncategorized