Kisah Asal Mula Adam dan Hawa

Posted on August 5, 2014

0


Pada awalnya, sangat sangat awal sebelum alam semesta ini lahir, adalah sebuah entitas bernama Cinta. Cinta ini agung, murah hati, simpatik, rela berkorban, baik hati, lembut, dan sabar.

Tapi celakanya, ada satu masalah besar. Bagaimana Cinta atau Kasih ini tahu bahwa dia adalah Cinta? Bagaimana dia tahu dan sadar bahwa dia adalah Kasih?

Maka pusing dan murunglah sang Cinta karena masalah jati diri tersebut. Lama sekali dia merenung dan bermurung, sampai akhirnya terbukalah mata hatinya. Cling! Untuk mengetahui dan menyadari bahwa dia adalah sang cinta, haruslah ada yang Bukan Cinta.

Maka pada detik itu juga terjadilah si Bukan Cinta. Hanya dengan kehadirannya, maka sang Cinta pun sadar bahwa dia memang benar-benar Cinta, bukan lawannya itu. Sejak saat itu pula jiwa-jiwa yang kemudian tumbuh dan merajai alam semesta ini mempunyai pilihan: cinta, atau bukan cinta. Bukan hanya itu saja: mereka bisa memilih dan menjadi Cinta karena mereka sadar ada yang Bukan Cinta.

Pada awalnya ya hanya sesederhana itu: Dari yang tiada tumbuhlah yang ada; segala yang ada menjadi ada karena selalu ada lawan katanya: cinta ada karena ada yang bukan cinta; “baik” hanya ada kalau ada juga “buruk” sebagai lawan katanya; “banyak” ada karena ada yang “tidak banyak”, “kaya” ada karena ada “miskin” sebagai lawan katanya.

Bukannya selama ini kita juga hidup dalam dualisme itu ya? Bagaimana Anda bisa tahu konsep “baik” kalau di alam ini tidak ada yang namanya “jahat”? Bagaimana Anda tahu bahwa saya ini pendek, kalau Anda tidak sadar bahwa ada konsep tidak pendek yang kita sebut “tinggi”?

Jadi pada saat itulah hidup menjadi utuh. Terjadi pemisahan antara dua konsep yang berlawanan, semata-mata supaya keduanya bisa dialami, atau dipilih.

Nah, mitologi agama melukiskan peristiwa ini dalam kisah Adam dan Hawa. Dikisahkan bahwa Adam dan Hawa dibujuki ular sehingga mau makan buah pengetahuan. Akibatnya, Tuhan murka dan mereka pun jatuh ke alam fana dengan penuh nista dan malu. Tapi itu mitos; itu metafor; itu adalah upaya menyederhanakan konsep terjadinya dualisme yang saya gambarkan di atas tadi supaya mudah diterima oleh pengikut agama.

Mitos lain yang tak kalah menyeramkannya mengatakan bahwa saat itulah tercipta setan. Ketika semua yang berlawanan makna dari yang baik tadi tercipta, maka sebenarnya pada saat itu terciptalah setan. Orang beragama melukiskan ini sebagai kejatuhan Lucifer–yang dulunya adalah pengawal Tuhan yang paling setia–ke lembah dosa.

Padahal yang sebenarnya terjadi tak lain adalah “kejeniusan” Tuhan membuat diriNYa sadar bahwa dia adalah Tuhan.

Posted in: Uncategorized