Pembelajaran One Size Fits All

Posted on July 29, 2014

0


Pendidikan one size (must) fit all adalah pendidikan yang berprinsip bahwa satu ukuran, satu standar dan satu jenis penilaian haruslah bisa diterapkan kepada semua peserta didik. Contoh gamblangnya tidak terlalu sulit ditemukan karena hampir semua dari kita adalah produk dari pendidikan serupa itu: setiap kali kita mengikuti satu pelajaran atau kuliah, kita akan dipacu untuk mencapai beberapa tujuan tertentu, belajar dalam setting dan konteks tertentu (umumnya di kelas, di perpustakaan, atau di tempat-tempat yang sudah digariskan oleh guru), dengan materi tertentu, dan silabus tertentu pula. Cara belajar kita pun dibuat mengikuti gaya guru mengajar, yang sebagian besar masih berupa ceramah satu arah di depan kelas. Tidak hanya berhenti sampai disini. Ketika musim ujian tiba, kita dituntut untuk menjawab soal ujian sesuai dengan kunci jawaban, atau setidaknya jawaban yang sudah ditentukan oleh guru sebagai jawaban yang benar. Ini ditambah dengan batasan waktu dalam menguasai satu materi atau menjawab soal ujian: ujian paling lama 90 menit, lalu setelah itu selesai tidak selesai dikumpulkan. Lamanya belajar pun ditentukan, yaitu 16 kali atau 32 pertemuan (di universitas). Setelah pertemuan terakhir, kita diharapkan sudah bisa menguasai semua materi yang diajarkan; kalau kita ternyata belum menguasai 70 persen darinya, maka nilai kita adalah D alias tidak lulus dan harus mengulang pelajaran itu lagi tahun depan.

Maka di dunia pembelajaran yang serupa itu, dikenal adagium time is held constant, while learning is variable. Artinya, waktu belajarnya tetap, yaitu 16 kali atau 32 kali pertemuan dalam satu semester, plus mungkin beberapa jam di rumah atau praktikum. Kegiatan belajarnya bervariasi, tapi pokoknya tidak boleh melampaui batasan waktu tadi. Kalau ada murid yang kecepatan belajarnya lambat, ya sudah, ditinggal. Kepadanya bisa diberikan label seperti “malas”, “kurang berusaha”, atau “memang kurang pintar”.

Itu sebabnya pembelajaran seperti ini disebut one size fits all, yang bermakna “satu ukuran, satu batasan waktu, satu gaya mengajar, diterapkan untuk semua murid”.

Jadi pendekatan seperti itu mengabaikan beberapa murid yang mungkin kecepatan pemahamannya kurang daripada teman-temannya, murid-murid yang kehilangan gairah belajar atau tidak melihat apa manfaat dari pelajaran itu, murid-murid yang berpikiran kreatif atau lebih suka terjun langsung ke medan, dan murid-murid yang reflektif dan introvert sehingga kelihatan pasif (padahal mereka sebenarnya bisa berpikir baik, tapi kadang-kadang “kalah suara” oleh mereka yang lebih impulsif dan lebih vokal).

Dalam konteks pembelajaran one-size-fits all, dampak yang sangat terasa dahsyat ditimbulkan oleh ujian. Di dunia pengukuran, ini disebut “washback effect”. Efek ini berupa pengerahan semua tenaga dan sumber daya murid untuk bisa mendapatkan nilai bagus dalam ujian tersebut. Karena nilai itu hanya diberikan untuk satu jawaban tepat yang kurang lebih sudah digariskan oleh gurunya, para muridpun berupaya supaya bisa mendapatkan jawaban yang sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh guru atau dosennya. Dalam banyak hal memang yang seperti ini tak terhindarkan (seperti misalnya di mata kuliah Akuntansi atau tata bahasa yang menuntut jawaban tunggal), namun dalam beberapa ranah tertentu yang menghendaki ketrampilan analisis, kreativitas dan pemecahan masalah, prinsip jawaban tunggal menjadi sangat mematikan untuk daya pikir kreatif, penalaran kritis, dan solusi alternatif yang sebenarnya punya potensi kuat di benak para peserta didik. Kalau Anda sekolah sejak SD sampai S3 dengan pola pembelajaran yang mengagungkan jawaban tunggal, Anda tidak bisa melihat hal ini karena sudah saking terbiasanya cara pikir Anda ditentukan oleh jawaban tunggal yang notabene bisa bersumber dari guru, buku teks, atau pakar-pakar Barat (yang sebenarnya juga kurang paham konteks aktual yang Anda hadapi di lingkungan Anda). Kalau Anda sudah menjadi Doktor atau pakar di bidang Anda, Anda akan cenderung memecahkan masalah dengan membuka-buka buku referensi terbitan terbaru, kemudian mengutip kata-kata para penulisnya untuk dijadikan dasar argumen Anda di forum debat, atau dalam karya ilmiah yang sedang Anda tulis. Kadang-kadang hal ini diamplifikasi oleh beberapa persyaratan penerbitan karya ilmiah di jurnal-jurnal dengan kata-kata: “memuat setidaknya 10 acuan, yang seyogyanya dari jurnal atau buku teks terbaru”. Semuanya dilakukan sedemikian otomatis, tanpa Anda sadar bahwa sebenarnya Anda juga punya kekuatan pikir dan penalaran sendiri yang mungkin malah lebih jitu dibandingkan dengan ahli-ahli tersebut.

Nah, lawan dari model pembelajaran one-size-fits-all disebut experiential learning,matau pendekatan humanistik, atau pendekatan konstruktivisme. Dia mempunyai ciri-ciri yang lebih manusiawi. Alih-alih meletakkan guru pada posisi yang serba tahu, model seperti ini berangkat dari keyakinan bahwa tugas utama guru adalah menciptakan suasana dan situasi belajar. Belajar dimengertikan sebagai kegiatan menambah wawasan pengetahuan dan meningkatkan ketrampilan bukan hanya lewat ujaran guru, tapi lewat pencarian informasi dari berbagai sumber yang berbeda, kerja sama antar murid, mencoba dan menemukan sendiri, dan meniru model atau teladan yang sudah lebih pandai. Guru hanya berceramah singkat tentang prinsip-prinsip dasar dari suatu gugus ilmu atau topik, kemudian selebihnya dia menjadi fasilitator, penasehat, dan pemacu semangat para muridnya untuk menggali sendiri ilmu tersebut lebih jauh.

Satu hal yang sangat dimungkinkan dalam pendekatan ini adalah peniadaan ujian dengan jawaban tunggal. Murid bebas belajar dengan gaya belajarnya sendiri, dengan pemikirannya sendiri (selama tidak menyimpang terlalu jauh sehingga menjadi “nyeleneh”), dan dengan laju (pace) nya sendiri. Yang terakhir ini membuat tidak ada lagi batasan waktu dalam suatu kegiatan belajar. Murid bisa belajar sesuai dengan kemampuannya sendiri; tidak jadi soal apakah dia bisa menguasai satu topik dalam waktu tiga hari, atau dalam waktu dua bulan.

Maka pendekatan serupa ini mengenal adagium “time is variable, while learning is constant”. Waktu belajarnya beragam tergantung kemampuan sang murid, sementara belajarnya tetap dan berkesinambungan.

Semua ciri diatas, terutama peniadaan ujian, akan menghapuskan label “lulus” dan “tidak lulus”. Tidak ada istilah “tidak lulus”, karena yang penting memang bukan hasilnya, namun proses belajarnya. Murid ditegur bukan karena dia mendapat hasil/nilai jelek, tapi kalau dia bermalas-malasan tidak mau berupaya mencari informasi, malas atau sulit bekerja sama, atau mengganggu teman-temannya. Proses, dan bukan semata-mata hasil, itulah yang ditekankan dalam pendekatan alternatif ini. Proses itupun bukan sekedar proses, karena didalamnya terkandung kerja sama dengan manusia lain, kemauan berbagi pengetahuan, kemauan untuk bertanya, dan ketekunan yang konsisten untuk mempertinggi kemampuan atau meningkatkan pengetahuan.

Demikianlah, sudah saya ungkapkan inti sari pikiran saya tentang pembelajaran. Kalau ada komentar, sila mengetuk keyboard di laptop dan menuliskan komentar atau saran; kalau tidak ada ya tidak menjadi apa. Apapun reaksi Anda, semoga tulisan ini bermanfaat.

Posted in: Uncategorized