Kenangan Masa Bocah

Posted on July 16, 2014

0


Posting ini adalah posting nostalgik. Isinya kisah-kisah dramatik yang saya gali dari kenangan ketika masih duduk di bangku sekolah. Sekolah itu artinya bukan kuliah, jadi maksudnya jaman-jaman saya SD sampai SMA.

Saya dulunya bersekolah di SD PPSP dekat kampus IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang). Karena ayah saya merasa tidak suka putranya tidak diberi pelajaran agama yang layak dan sepantasnya, saya dipindah ke sebuah SD Katolik di Jl. Panderman. Teman-teman disitu secara fisik berbeda jauh dengan teman-teman saya di SD sebelumnya. Hampir semua berkulit kuning langsat dan bermata tidak lebar. Bahkan guru saya pun namanya Ibu Bie Hok. Tapi ya hanya itu batas kesadaran saya tentang perbedaan; selanjutnya saya sudah mendapat teman bermain-main dan kenangan tentang sekolah itu dipenuhi dengan kenakalan masa kecil bersama teman-teman disana.

Bu Bie Hok termasuk guru yang sayang sekali sama saya. Suatu ketika, ada ujian praktek dan semua murid diharuskan membawa penggaris plastik 30 cm. Dasarnya saya waktu itu lagi bengal-bengalnya, saya datang tanpa membawa barang sialan itu. Sampailah saya di kelas dengan pucat pasi karena ada pengumuman bahwa yang tidak membawa penggaris tidak boleh ikut ujian. Di tengah-tengah saya sudah pasrah, Bu Bie Hok diam-diam datang ke saya dan menyodorkan sebuah penggaris plastik. “Ini, pakai,” bisiknya, sambil tak lupa diiringi dengan omelan seorang ibu yang perhatian sama anaknya: “makanya, lain kali kalau disuruh bawa penggaris itu ya bawa!”

Suatu ketika kami di kelas ramai luar biasa pada waktu guru sedang keluar sebentar. Pasalnya, ada seorang teman usil membuat roket-roketan dari kertas kemudian diluncurkan ke temannya yang sedang menulis di papan. Kontan semua ikut-ikutan dan kelas pun ambyar ndak karuan karena kami berteriak-teriak dan lari kesana-kemari. Karena saking ributnya, guru di kelas sebelah mendengar dan datang ke tempat kami untuk menegur kami. Celaka, tegurannya itu bahkan disampaikan juga ke Bu Bie Hok.

Keesokan harinya, Bu Bie Hok datang dengan wajah masam. Kami dimarahi habis-habisan. Tapi yang membuat kami terkejut adalah di akhir marahnya itu tiba-tiba beliau menangis sesenggukan di meja guru. Kontan kami terdiam mematung dan langsung rasanya nyueseeel banget sudah bertingkah polah nakal kayak gitu. Bu Bie Hok menangis cukup lama sehingga kami tambah tersayat-sayat melihat ulah kami membuat guru sampai menangis.

Setelah beliau mampu meredakan tangisnya, tiba-tiba beliau mengambil sebuah botol di mejanya yang berisi buah pepaya dan ada lalat-lalat buahnya mengelilingnya. Itu adalah sampel untuk pelajaran IPA. Disodorkannya botol itu kepada saya yang duduk paling dekat dengan dia, sambil berkata: “Patris, ini tolong hitungkan lalat yang ada didalamnya.”

Saya tidak merasa sedang dihukum atau apa, karena memang beliau mengatakan itu dengan lembut. Cuma yang bikin saya heran bahkan sampai sekarang adalah kenapa kok saya disuruh menghitung lalat buah ya? Mungkin beliau hanya ingin mengatasi kecanggungan dirinya sendiri setelah menumpahkan emosi di depan puluhan muridnya. Nah, sayapun mulai menghitung, walaupun ternyata sulit sekali menghitung jumlah lalat yang terbang muter-muter itu. Percaya tidak, saya sampai saat ini tidak pernah tahu berapa jumlah persisnya lalat-lalat itu. Bu Bie Hok kemudian mengambil kembali botol itu dan meneruskan pelajaran seperti biasa.

Nah, tanpa sadar ternyata peristiwa itu cukup membekas di sanubari saya. Sekarang, kalau Anda melihat saya sering duduk di baris depan di suatu acara dan dengan super serius mendengarkan ceramah seorang tamu atau rekan lain, percayalah, itu karena saya terpengaruh oleh peristiwa membuat guru menangis dan disuruh menghitung lalat buah ketika saya kelas 5 SD dulu! Seolah-olah saya tidak mau peristiwa mengharukan itu terulang lagi.🙂

Suatu ketika saya sedang bermain kejar-kejaran bersama teman-teman. Teman yang saya kejar kencang-kencang berlari zig-zag, dan tiba-tiba di depan saya sudah berdiri seorang anak dari kelas 6. Saya tidak sempat mengerem sama sekali dan bruakkk kami pun bertabrakan keras sekali. Detik berikutnya setelah saya sadar apa yang terjadi, saya melihat anak itu memegangi mulutnya yang sudah penuh dengan darah. Saya sendiri tidak merasa terlalu sakit, sehingga ketika berjalan ke UKS malah saya yang kawatir akan nasib anak itu, karena darahnya sudah kemana-mana sampai bagian atas seragamnya merah semua. Ternyata sampai di UKS para guru setengah berteriak menunjuk ke saya dan mengatakan: “adduhh, aduuh, jangan tutup matamu! Aduuh, lha kok sampe begini??!!”

Barulah saya sadar bahwa luka saya jauh lebih parah. Dahi tepat di atas alis sebelah kanan cowak cukup dalam dan darah mengalir ke dahi dan wajah tanpa saya sendiri sadar. Belakangan diketahui bahwa tabrakan itu mengakibatkan satu gigi depan si teman yang malang itu masuk ke dahi saya. Biyuh, biyuuh….! Sampai sekarang pun kalau Anda lihat dengan teliti alis sebelah kanan saya (saya yakin Anda tidak akan berani melakukannya, ha ha ha ), ada bekas luka disitu. Yah itulah kenangan dari masa kecil saya di kelas 5.

Sekalipun tergolong nakal, saya bukan anak yang suka ikut-ikutan teman. Suatu ketika, saya diajak teman-teman ke atap Museum Brawijaya. Sampai disana mereka mengeluarkan rokok dan mulai merokok. Wih, kalau sampai ketahuan pihak sekolah bisa diskors bener tuh. Maka saya diam saja memandangi teman-teman merokok klepas klepus. Mereka tertawa melihat tampang saya yang naif, dan salah satu di antaranya membujuk-bujuk: “ayolah, Tris, sekali-sekali anaknya dosen mesti nyoba rasanya rokok.” Saya bergeming tetap tidak mau mencoba. Apakah saya teguh? Ah, ndak juga. Suatu pagi buta, saya pamit mau ke gereja untuk menjadi misdinar. Sampai disana, saya keluarkan satu batang rokok yang dikasih teman-teman itu, dan mencoba rokok untuk pertama kalinya. Blah, rasanya pahit! Baru juga tiga hisapan saya buang rokok sialan itu di taman dekat sakristi gereja.

Ironisnya, posting ini saya buat setelah selesai merokok di Villa Puncak Tidar pada jam makan siang. Itu berarti setelah 37 tahun berlalu dari masa-masa penuh kenangan nakal nan menyenangkan di masa saya bocah itu🙂

Posted in: Uncategorized