Suasana Akademik

Posted on July 8, 2014

0


Salah satu pertanyaan reflektif yang sempat saya tangkap waktu Dies Natalis ke 7 Ma Chung kemarin adalah: “bagaimanakah suasana akademis di kampus? Kalau para dosen ketemu di kantin, di hall, di perpustakaan, atau di parkiran mobil/motor, apakah yang mereka bicarakan?’

Sontak para hadirin, termasuk saya, membayangkan suasana itu. Celaka, baru juga sekian detik merenung, saya tiba-tiba terpaksa pringisan dewe.

Apa pasal?

Lha ya gimana ndak pringisan, wong yang terbayang adalah rekan-rekan dosen bertemu ditempat-tempat yang disebutkan tadi. Apakah mereka akan berdiskusi tentang hal-hal akademis, bahsantara, teori kuantum, pendidikan karakter, uji beda Kolmogorov atau semacamnya?

Ternyata bukan. Sejauh yang bisa saya kenang, inilah yang kami bicarakan kalau bertemu di kantin, perpustakaan atau tempat-tempat lain di kampus:

“Mobil keluaran terbaru apa ya? Kalau sekelas SUV tapi harganya di kisaran 170 – 180 juta ada nggak ya? Ada fasilitas kredit buat karyawan?”

atau ini:

“Perumahan disitu enak ndak, Bu? Aman? Dulu belinya lewat KPR Bank mana?”

atau ini:

“Kamera saya baru laku kemarin. Lumayan harganya, masih bisa untuk beli lensa yang buaguss”.

atau ini yang paling sering:

“Makan apa rek? Ayo ke Wajur aja, ngopi sambil rokokan.”

Jadi nyaris ndak ada topik akademik yang kami bahas kalau ketemu di suasana informal seperti itu. Yang kami omongkan malah masalah sehari-hari seperti mobil, cuaca, harga barang-barang, atau keluarga, atau diskon yang besar sekarang sedang di mall yang mana, dan hal-hal tetek bengek seperti itu.

Jadi suasana akademis itu ternyata ya hanya sebatas di kelas, di sesi Forkomil Universitas (yang sekarang juga hidup segan matipun ogah karena yang datang hanya beberapa gelintir yang umumnya kasihan sama pembicaranya) atau ketika menerbitkan buku Anthology saja. Selain daripada itu ya suasana akan gayeng dan jauh lebih menyenangkan dengan topik-topik seperti yang saya sebutkan di atas itu.

Ha ha haa!

Atau malah seharusnya “hu hu hu!” yaaa? Soalnya kan ini gejala menyedihkan, kok malah diguyu? Harusnya ya nangis hu hu hu, doong!

Agak lama saya merenungkan hal ini. Begitu buang air kecil di WC, mendadak saya menemukan jawabannya (entahlah apakah ada hubungan antara kemampuan mengucurkan air seni dan kemampuan berpikir): suasana akademis memang seharusnya ya dibatasi pada hal-hal formal akademis saja. Janganlah suasana itu dipaksakan untuk masuk juga ke ranah-ranah santai dan yang lebih sarat dengan sentuhan manusiawi. Kita semua manusia. Manusia memerlukan keseimbangan dalam hidupnya. Kalau sudah bertekun dengan perihal ilmu dan topik-topik akademis selama 3 atau 4 jam nonstop, ya sudah saatnya bertemu untuk melepas ketegangan dan membicarakan hal-hal non akademis yang membuat hidup menjadi lebih hidup.

Jadi si pembicara di acara Dies Natalis tadi itu salah. Jawaban yang benar untuk pertanyaannya adalah topik-topik sehari-hari dan non-akademis, dan itu tidak usah lantas dianggap sebagai masalah. Itu sangat manusiawi. Saya yakin bahwa karyawan-karyawan di perusahaan sekelas Google pun akan lebih memilih topik-topik ringan ketika sedang berada di fitness center, kolam renang, sauna atau parkiran kendaraan.

Dan siapa bilang topik-topik non-akademis itu tidak ada gunanya? Setidaknya saya sudah beberapa kali mendapatkan ide untuk masalah-masalah akademis yang sedang saya hadapi ketika ngobrol atau bercanda dengan rekan-rekan di luar jam kuliah dan seminar.

Posted in: Uncategorized