Power Point dan Kita

Posted on June 23, 2014

0


“Halah, pak, ya ndak usah sampe segitunya”.

Itulah komentar spontan saya ketika membaca sebuah ulasan (sok) filosofis di Kompas kemarin tentang Power Point. Sang penulis dengan sinis menyindir penggunaan Power Point untuk presentasi. Kurang lebihnya, dia katakan betapa semua ide besar dikemas jadi poin-poin yang kemudian disajikan secara elektronis berupa tampilan slide-slide Power Point (atau biasanya disingkat “PPT”).

Apakah kecenderungan ber Power Point mengubah cara pikir dan bahkan kebudayaan manusia pemakainya? Halah, dul, yo ndak usah sampe segitunya. Buat saya, PPT itu sebenarnya hal sederhana saja: meringkas gagasan yang banyak dan panjang itu menjadi poin-poin yang bisa dilihat para hadirin. Itu sebabnya dia dinamakan “Power Point”, yang kalau menurut hemat saya adalah poin-poin yang mempunyai daya (power) berupa gagasan-gagasan di baliknya. Bisa juga dia diartikan sebagai poin-poin yang penampilannya membuat seorang penyaji merasa percaya diri dalam presentasinya.

Jadi PPT ya hanya sekedar tampilan pendukung presentasi. Itu saja. Ndak usahlah dikaitkan dengan mental instan, serba berbau kemasan kosong dan aneka rupa label nyinyir lainnya.

Nah, tapi begitu ditelisik lebih dalam, menarik juga membahas PPT ini di tangan para pemakainya. Tipe pertama yang saya sempat kenali adalah redundansi. Redundant dalam bahasa Inggris artinya “berlebihan”. Tipe penyaji seperti ini cenderung memenuhi slides PPT nya dengan kalimat-kalimat panjang dari sumber aslinya (misalnya textbook). Setelah itu, dia membaca satu persatu semua kata di slides tersebut, sehingga forum seminar jadi terasa seperti pelajaran membaca lantang. Lha wong sudah ditayangkan di slide kok masih dibaca? Berlebihan, bukan? Tapi ada kemungkinan bahwa penyaji seperti ini tidak pe-de dengan gaya bicaranya, sehingga alih-alih berbicara spontan dia memilih menghadap layar untuk membaca semua slidesnya.

Power Point. Namanya aja poin, mestinya yang ditampilkan ya cukup satu dua penggal frasa yang mewakili keseluruhan ide. Nah, idenya sendiri harusnya diucapkan secara spontan dengan menghadap ke hadirin. Dengan gaya seperti ini, sang penyaji benar-benar menyajikan gagasannya, tidak melulu membaca dari slides. Adik saya punya gaya seperti ini dan sebagai akibatnya penyajiannya terasa enak diikuti.

Satu hal yang sebaiknya dicermati dalam gaya kedua itu adalah keselarasan antara isi slidesnya dengan omongannya. Kalau tidak nyambung, hadirin pun bisa bingung karena apa yang diomongkan tidak sama atau setidaknya bukan merupakan penjabaran dari poin di slidesnya.

Power Point ternyata juga lebih dari sekedar peringkas gagasan. Efek visual dan ragam tampilannya makin lama makin kaya sehingga kadang-kadang hal ini terkesan lebih penting daripada isinya. Sekarang sudah ada Prezi, apps pemercantik tampilan PPT yang memang keren betul dari segi visual dan perpindahan antar slidesnya. Beberapa rekan saya membuat saya iri karena mereka pintar sekali menggunakan Prezi untuk mempercantik penyajiannya. Tapi hal ini mengingatkan saya pada satu kisah: seorang dosen senior yang termasuk generasi jadul suatu ketika dicalonkan menjadi pimpinan sebuah unit strategis. Sang dosen senior ini harus bersaing dengan beberapa koleganya yang 30 an tahun lebih muda dan lebih techno-savvy. Ketika tiba giliran presentasi, para dosen muda ini menyajikan slidesnya dengan visualisasi PPT yang fantastis, sementara sang dosen senior hanya mampu menyajikan PPT sederhana yang isinya hanya slide warna putih polos terus ada tulisan-tulisannya. Bwa ha ha haa! Lho sik, ceritane durung mari: saat pengumuman pemenang pun tiba, dan sang terpilih ternyata adalah dosen jadul tadi.

“Isi lebih meyakinkan daripada tampilan PPT,” gumam saya.

Saya sendiri termasuk gendul (generasi jadul) yang tamnpilan PPT nya juga kuno. Untung saya punya mantan mentee yang pintar membuat tampilan PPT. Beberapa hari sebelum presentasi, saya kirim slidesnya ke dia, dan dia ubah tampilannya menjadi lebih berkesan mistis atau romantis atau sadis, tergantung pada suasana acara dimana saya tampil nanti. Keren jadinya!

Jadi ingat pada pelatihan tentang pengajaran beberapa tahun yang lalu. Fasilitatornya seorang bule dari Jerman yang usianya juga sudah termasuk generasi jadul. Dia menyarankan untuk tidak usah membuat gaya tampilan PPT yang aneh-aneh. “Kalau Anda mau tutup sesi pelajaran, ya sudah, katakan saja “That’s all! Good bye,” dan ndak usah pake slides yang muter-muter wer wer werr jedheerr!”

Ini berlawanan dengan workshop tentang presentasi yang saya ikuti beberapa bulan setelahnya. Yang menjadi fasilitator adalah seorang muda sekitar 28 an tahun dan ya pantaslah dia berpesan bahwa PPT adalah “bagian dari daya tarik presentasi Anda. Oleh karena itu, buatlah PPT yang mencengkeram perhatian dan menghibur mata yang memandang.”

Nah, dalam ranah perkuliahan, ternyata PPT punya fungsi tambahan untuk mahasiswa: meringkas poin-poin penting perkuliahan, terutama definisi dan contoh. Itu sebabnya kalau Anda melihat PPT saya untuk mengajar, Anda akan mendapati banyak definisi dan kalimat-kalimat inti yang saya taruh utuh di beberapa slidesnya. Namun kecenderungan ini belakangan mulai saya kurangi karena saya merasa jadi menyuapi mahasiswa yang seharusnya sudah bisa belajar mandiri. Maka, alih-alih memakai PPT, saya di semester yang lalu mengajar nyaris tanpa PPT. Materi perkuliahan saya sodorkan lewat pertanyaan pembuka, lalu diskusi dan tanya jawab dengan acuan ke materi cetak yang sudah dipegang mahasiswa. Prinsip saya, saya tidak mau larut begitu saja dalam tren penyajian via PPT. Kalau cara jadul ternyata masih efektif untuk menempa kebiasaan membaca, kemandirian, dan daya kritis mahasiswa, ya akan tetap saya lakukan.

Begitu.

Posted in: Uncategorized