Kepingan – Kepingan Pengalaman per Juni 2014

Posted on June 13, 2014

0


Mendadak sudah pertengahan Juni 2014. Waktu terbang. Rasanya seperti dilontarkan dari satu fragmen kehidupan ke fragmen yang lainnya. Setelah petualangan “tak terduga” ke Guangzhou dan Jinan Da Xue, adegan demi adegan kehidupan pun susul menyusul. Setelah pulang dari Tiongkok, saya memberi pelatihan penulisan karya ilmiah untuk beberapa mahasiswa Universitas Ma Chung. Itu langsung disusul pelatihan di Al Falah Islamic Course di Sidoarjo bersama rekan-rekan dari LPPM dan DKA. Lalu beberapa pekan setelah itu saya menekan tombol “pause” sebagai karyawan Ma Chung, alias cuti panjang, dan terbang berjalan-jalan gemblung-gemblungan di Seoul, Korea. Pulang dari sana, istirahat hanya sehari lalu melesat ke Universitas Petra, Surabaya, untuk menyajikan makalah saya di ranah online dan offline learning. Pulang, hanya dalam waktu semingguan saya dan rekan-rekan keluar lagi dari kampus untuk kongkow-kongkow di Biara Pasionis di daerah Bandulan. Rapat kerja? Ya endak lah, masa dari dulu ceritanya kerjaaa melulu. Kami kesana makan-makan gorengan, kacang ijo, nyeruput kopi panas, sambil ngerokok-ngerokok menikmati hawa segar daerah Bandulan. Nah, di sela-selanya kami membahas masalah-masalah aktual pengembangan kemahasiswaan, plus masalah-masalah yang selama ini mengganjal.

 

Piala Dunia sudah mulai lagi. Tak terasa 4 tahun sudah berlalu sejak Piala Dunia th 2010, dimana waktu itu saya nonton pertandingan-pertandingannya sambil textingan sama seorang mentee yang ternyata adalah “gibol” (gila bola). Nonton Jerman sambil ngerasani pemainnya. “Pelatihnya Jerman itu sudah tua tapi kok ganteng ya, Pak?” katanya. Kali lain dia curcol soal Gonzalo Higuain yang katanya “tinggi besar dan kueren pol”. Kali lain dia misuhi Podolski: “Podolski lonthong! Penalti gak masuk!”. Saya ketawa ketawa aja membaca textingnya.

 

Piala Dunia tahun ini terasa lebih ramai dan heboh karena tuan rumahnya, Brasil, tak henti-hentinya dirundung masalah selama persiapannya. Mulai dari atap stadiun yang roboh sampai pemogokan massal karyawan kereta api. Tapi yang paling celaka adalah jam pertandingannya: kebanyakan waktu subuh di Indonesia bagian barat. Jadilah saya kemarin sengaja nginsom supaya bisa tetap melek jam 12 sampai jam 3.30. Lihat Brasil main sama Kroasia seolah tak percaya mereka begitu dogolnya: kebobolan pertama kali, dan itupun bunuh diri pula. Pertahanannya Brasil memang saya akui salah satu yang paling buruk.

 

Lalu setelah hampir setengah jam Brasil belum bisa membalas, saya pun mulai putus asa dan mematikan TV, berpikir bahwa Brasil pasti kalah. Eh, tapi begitulah hidup ini, suka mempermainkan orang lugu kayak saya. Saya mematikan TV 25 menit setelah kick off, dan ternyata pada menit ke 27 Brasil membalas 1 – 1. Lalu akhirnya menang 3 – 1. Biyuh biyuh! Untung saya masih bisa melihat adegan-adegan golnya di siaran ulangnya pagi harinya jam 6. Untung, jadi bisa ngocol di socmed seolah-olah saya menonton pertandingan itu sampai penuh.

 

LOL.🙂

 

Posted in: Uncategorized