Jalan-Jalan ke Korea

Posted on June 5, 2014

16


“Anyong haseo!”

 

Itu adalah jawaban seorang pria Korea bernama Chang Min, karyawan di Mago Guest House di Seoul, Korea, ketika saya tanya apa yang harus saya katakan sebagai salam kepada orang Korea.

 

Korea menjadi tujuan wisata saya dan keluarga di tahun Kuda ini, setelah tahun lalu ke Malaysia. Dengan budget sekitar 30 an juta lebih dikit, kami berempat naik kapal mabur murah meriah Air Asia (tiket satu orang sekitar 3 juta rupiah pp dari Surabaya ke Malaysia, terus dari situ ke Seoul.) Perjalanan 7 jam dari Malaysia dimulai jam setengah dua pagi waktu setempat, dan kami mendarat di bandara Incheon, Seoul, sekitar jam 9 waktu Korea (lebih awal 2 jam dari WIB). Suhu udara di Korea menjelang musim panas memang tidak ekstrim, yaitu sekitar 20 – 29 derajad celcius. Udaranya kering, sehingga tidak menyiksa bagi saya yang alergi udara lembab dan kadang bahkan sampai harus absen ngajar karena bersin-bersin ndak karuan.

 

Tempat kami menginap namanya Mago Guest House. Letaknya agak tersembunyi di deretan belakang daerah pertokoan. Satu kamar bisa didiami sampai 4 orang, asal rela tidur umpel-umpelan karena memang tidak besar.

Di ruang makannya tersedia roti, juice jeruk, susu, telor, kopi dan susu yang bisa dinikmati secara swalayan (alias mangan ngombe sak waregmu mari gitu korah-korah dewe):

IMG_2384

Guest House ini cukup laris, mungkin juga karena letaknya di dekat pusat kota (namanya Myong dong), dan tarifnya yah lumayan terjangkaulah, 100.000 won per malam (1 won = Rp 12 saat itu), kamar ber AC dan berpemanas, sarapan lengkap, dan kamar mandi dalam.

 Ini adalah gambar pintu masuknya. Buka pintunya pake kunci dengan PIN, jadi mau jalan sampai pagi pun ndak masalah.

 

Image

 

 

IMG_2386

Hari pertama setelah istirahat sebentar di Mago, kami pergi ke Namsam Tower yang bisa dicapai sekitar 45 menit dari Chungmuro (Chungmuro adalah nama daerah dekat Mago situ, yang merupakan salah satu lokasi terminal kereta subway dan bis). Sekitar jam 7 petang di Seoul, tapi terangnya kayak di Malang jam 4 sore. Namsam Tower ini adalah nama sebuah menara, yang bisa dicapai dengan jalan kaki menaiki dataran menanjak. Dengan kemiringan sekitar 30 an derajad, jalur pendakian  itu mah enteng aja buat kami-kami dari Indonesia. Ini foto-fotonya di jalur tersebut:

 Image

 

 

 

Di bawah menara terdapat lahan luas penuh dengan aneka toko, Teddy Bear Museum (yang ternyata toko tempat jualan boneka Teddy), dan sebuah taman. Dari sini kami bisa melihat kota Seoul yang mulai bermandikan cahaya lampu menjelang petang. Ada juga yang namanya gembok cinta, yaitu kumpulan gembok yang dibuat oleh pasangan-pasangan dari seluruh dunia. Gembok itu ditulisi nama pasangan itu, lalu digembokkan dan kuncinya dibuang. Ya, itulah  simbol ikatan kekal antara sepasang kekasih atau suami istri. Saya dan istri saya wis ora mikiri gembok-gembokan, karena kami langsung asyik makan, memotret sana-sini, dan menikmati suasana sekitar yang hidup dan ceria itu:

 

IMG_2376

IMG_2375

IMG_2348

 

Ini adalah gambar menaranya yang mulai kelihatan anggun bermandikan cahaya lampu:

 
IMG_2362

 

 

 

 

Orang-orang Korea rata-rata berwajah dingin, tanpa senyum, berjalan dengan cepat, tidak suka memandangi orang asing, tapi sangat mau membantu ketika ditanya, bahkan dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah. Mereka pun juga korban keganasan gadget dan semboyan “menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh”. Hampir semua orang sibuk dengan gadgetnya atau dengan earphones terpasang di telinga, sehingga jadilah pemandangan yang menyedihkan itu di kereta bawah tanah dan tempat-tempat umum lainnya. Sekarang saya tahu kenapa saya tidak kawatir kecopetan di kereta api di Seoul: ya karena semua penumpangnya sibuk gadgetan! Mana sempat cari mangsa untuk dicopet, bwa ha ha!

 

 

Mereka bahkan tidak peduli ketika saya yang berwajah Melayu berpotongan tubuh bonsai ini diam-diam mengamati perilaku mereka.

20140528_111858

Para ceweknya suka berpakaian trendi, rata-rata dengan celana pendek atau rok mini.

1401487788970

IMG_2351

Beberapa dari mereka wajahnya mirip. Saya curiga itu semua karena operasi plastik yang konon di Korea memang biasa dilakukan dengan biaya terjangkau. Pantas, mata dan hidung mereka seperti sama satu sama lain. Di bawah ini gambar iklan oplas di dalam bis kota. Hebat kan, bisa jadi cantik kayak gitu? :

20140528_111810

Kalau dibilang cantik sih ya memang cantik, ditambah dengan badan ramping tinggi dan tungkai panjang bercelana pendek kadang terbalut stocking, mereka memang sangat menawan. Nah, yang cowok lain lagi. Dengan mata sipitnya yang khas, tanpa kumis sedikitpun,  tinggi tubuh rata-rata 180 an cm,  dan gayanya yang cool dan cuek itu, pantas lah sekarang saya paham kenapa mereka banyak digilai cewek-cewek Indonesia. Tapi ada juga beberapa cowok yang terkesan manis. Ada satu dua yang sempat kami lihat menyaputkan bedak ke wajahnya sambil berjalan terus. Biyuuh, nyentrik tenan!

 

 

 

Hari kedua kami ke Everland di kota yang namanya Yong In. Dari stasiun Chungmuro, naik kereta subway no 3 jurusan Ogeum dan turun di Yangjae, lalu keluar lewat Exit 9 naik lagi ke bis nomer 5002. Perjalanan dengan bis ini yang lama, sekitar satu setengah jam. Di Everland Stops kami turun, lalu naik bis gratis ke Everland.

 

Everland sendiri tidak jauh beda dengan kombinasi BNS, Jatim Park dan Secret Zoo di Batu. Memang tidak sespektakuler Universal Studios di Singapore yang kami kunjungi tahun 2012, namun anak-anak saya tetap menyukainya dan betah sekali disitu melihat aneka satwa, pertunjukan anjing laut dan drama panggung penuh dengan atraksi bela diri dan nyanyi-nyanyi. Gambar di bawah ini saya suka karena menampilkan kontras antara suasana mencekam di roller coaster lengkap dengan jeritan penumpangnya di latar belakang dengan keceriaan pertunjukan di latar depannya. Jadi agak surealistik gimanaaa gitu:

IMG_2405

 

 

 

Nah, ini pasti lokasi favorit penggila bunga. Namanya Rose Garden. Ribuan bunga terhampar disitu ditata dalam petak-petak yang cantik atau dirangkai menjadi berbagai bentuk. Bagus sungguh, mengingatkan saya pada taman yang sama di Wellington hampir seperempat abad yang lalu ketika saya masih muda:

 

1401411098834
IMG_2398

IMG_2390

Gambar di atas ini adalah pintu masuknya:

 

 

 

 

O ya, disini kami sempat nonton konser Bigbang, Korea boy band yang terkenalnya melebihi Ariel itu. Jangkrik, bahkan saya yang sudah masuk golongan “manula muda” pun masih terkesan dengan gaya panggung dan nyanyian mereka. Boom sha ka lakaaaa! Air pun muncrat membasahi penonton yang lalu histeris kesurupan kayak orang kena lempar aji-aji Jaran Kepang.

 

 

Nah, seusai konser, ndak tahu gimana salah satu personelnya tahu kalau ada turis dari Indonesia. Lalu dia pun mendekat ke saya setelah menerobos kerumunan penonton yang masih menggila dengan susah payah. Dia menyapa saya dan dengan gaya artisnya bertanya: “Could you tell me what Indonesia is like? Do they know Bigbang?”. Nah, ini gambar dialog singkat yang historis, komikal,  plus histerikal itu:

 

1401291196240

 

 

Saking kagetnya saya, saya bahkan tidak tahu menjawab apa saat itu. Saya bahkan tidak tahu namanya sampai dia memperkenalkan diri: “I am G-Dragon from Big bang”.

 

 

Woowww! G Dragon friom Bigbang. Yeaaaaahhh! Boom-sha ka la kaaaaa!!!!! You’re fantastic, baby!

 

 

Hari ketiga kami ke Nami Island, sebuah pulau kecil 63 km dari Seoul. Berangkat dari Mago hampir jam 12 siang. Dari stasiun kereta Chungmuro ke Danggogae turun di Dongdaemoon, terus transfer ke Cheongnyangni, dan dari situ naik kereta yg lebih bagus yg mereka sebut ITX ke Gapyeong. Tarif keretanya 4000 won per orang sekali jalan.  Keretanya sangat tepat waktu, bersih, dan sangat nyaman, seperti terekam di gambar ini:

IMG_2416

 

 

 

 

Nami Island dicapai dengan feri dari stasiun Gapyeong. Feri kecil itu memuat banyak bendera, dan ya pasti karena mereka tahu sedang ada seorang dosen Indonesia sedang berkunjung, mereka kibarkan bendera Korea dan Indonesia di haluan kapal. Keren ora?:

IMG_2473

Nami Island ini diambil dari nama seorang jendral bernama Nami yang punya reputasi sebagai figur kontroversial namun gagah berani. Salah satu keterangannya berani memposisikan pulau itu sebagai tempat dimana manusia bisa bersahabat dengan ekosistem alami. Memang benar. Hawa yang sejuk, tumbuhan alami dimana-mana, membuat beberapa ekor tupai pun tak takut untuk mendekat. Pulau kecil itu padat dengan taman dan pepohonan alami, restoran, aneka toko suvenir, kafe.

IMG_2428

Di bawah ini si bungsu sedang makan sate Nami Island. Satenya enak, dagingnya empuk dan gurih:

IMG_2432

Satu hal yang juga merupakan bukti kecerdasan orang Korea dalam membangun industri kreatifnya adalah membuat pulau itu sebagai tempat syuting drama Korea terkenal: Winter Sonata. Sampe segitunya, sampai dibuatkan patung dua sejoli sedang berpelukan dan ada posternya yang langsung jadi rebutan para turis penggila drama Korea untuk lokasi berpose.

 

IMG_2440

Omong2 tentang gaya pacaran muda mudi Korea, satu komentar saya: agak lebay, terutama yang cewek. Sering saya lihat mereka merajuk dengan nada manja ke pacarnya, atau minta dipijit kakinya, atau menggelayut di bahu cowoknya, dielus2, atau mengelus2 wajah prianya, halah! Saya tidak tahu apakah itu yang membuat drama Korea jadi meledak di seluruh dunia, atau karena gaya pacaran mereka diilhami oleh drama termehek2 buatan negerinya sendiri.

 

 

Hari berikutnya kami lanjutkan petualangan ke Mount Seorak. Bacanya ‘Sorak’, dalam bahasa setempat disebut Seoraksan National Park. Dari Seoul naik metro ke Express Bus Terminal, lalu dari situ naik bis antar kota ke Sokcho, sebuah kota kecil dimana gunung itu berada. Bis yang nyaman dengan tempat duduk yang lapang membuat perjalanan selama hampir 3 jam itu terasa menyenangkan:

 

 

Sepanjang jalan saya dibuat kagum oleh barisan perbukitan yang penuh pepohonan menghijau. Pohon-pohonnya khas daerah subtropis. Jalan mulus dan lebar itu benar2 tidak padat. Bis melaju dengan tenang dengan satu sopir berseragam dan tempat duduk tidak penuh terisi. Ini gambarnya dan latar belakang pegunungan hijau yang saya ambil ketika bis beristirahat 15 menit di rest area setelah hampir 1  jam melaju.

 

1401487484740

Mount Seorak merupakan sebuah taman luar biasa luas yang bisa dijelajahi sampai ke puncaknya. Saat itu udara cukup dingin, mungkin sekitar 20 an derajad atau kurang dikit. Untung tidak begitu ngefek ke badan saya. Jadi saya cukup berbaju kaos Perang tinggalan dari acara Perang di Machung dan jeans. Setelah meletakkan barang2 di sebuah guest house dekat situ, kami lanjut ke area gunungnya dengan bis nomer 7 atau 7-1 yang membawa kami ke pintu masuk taman. ONgkos bisnya 1000 won per orang dewasa, dan lebih murah untuk remaja dan anak2. Begitu tiba sudah jam makan siang lewat banyak,,jadi saya makan dulu. Pesan kimchi terus saya campur nasi, jadilah sego campur kimchi. Rasa masakan ini agak kecut dan pedas, tapi segar. Ini tampangnya:

1401411226788

 

Tiket masuk ke area gunung cukup murah, dan itupun–sebagaimana umumnya tarip di Korea-masih dibedakan antara dewasa dengan anak-anak. Jalanan setelah pintu masuk sangat lebar, penuh dengan turis keluar masuk. Ada patung Buddha sangat besar, lalu beberapa ratus meter setelahnya ada jembatan yang dibawahnya terdapat dua buah ceruk di dalam air penuh dengan koin. Konon sih itu koin permohonan. Setelah mengucap satu harapan, saya lempar koin kesana, eh, masuk pas ke dalam ceruk lantas mencelat keluar! Apa itu pertanda? Halah, emang aku pikirin, namanya juga hanya sekedar percaya atau tidak, ha ha.

 

IMG_2497

Lalu setelah itu mulailah pendakian yang sesungguhnya. Banyak para pendaki yang berbekal peralatan pendaki. Saya sih berbekal ransel punggung dan kamera SLR Canon jenis low-end aja. Jalurnya tidak terlalu curam, diapit rerimbunan pohon dikiri kanan, dan sinar mentari sore menerobos lewat dedaunan. Udara yang tidak terlalu dingin dan tidak lembab membuat saya nyaman saja berjalan ratusan meter di jalur mendaki itu.

 

 

 

Kami berhenti beberapa kilometer dari puncak. Karena kawatir hari mulai gelap, saya putuskan berhenti saja sampai disitu dan mengambil beberapa foto. Yaah, gak seru ya ceritanya karena ndak sampe ke puncak. Ya kalau mau pergi aja sendiri ke sini dan rasakan sensasinya sampai ke puncak. Yang jelas perjalanan seperti itu benar-benar sehat untuk kaki dan jantung.

 

IMG_2501

20140530_182358

 

Guest House kami di dekat Mount Seorak bahkan lebih fantastis. Kamar luas, lengkap dengan ruang makan dan dapur, plus komputer terkoneksi Internet, dan ranjang besar untuk dua orang plus beberapa lembar matras untuk tidur di bawah. Gaya tidur ini konon disebut “Ondol” di Korea.

 

 

 

1401487623249

 Soal makanan, saya sempat mencicipi beberapa jenis masakan Korea yang selama ini hanya saya dengar dari kiri kanan. Yang pertama ini adalah kimchi. Dasar wong Jowo, saya makannya pake nasi sehingga jadilah sego campur kimchi. Rasanya agak asam, sedikit ada pedasnya, tapi segar. Saya habiskan kimchi itu baik ketika di pesawat dan di salah satu resto Korea di Nami Island:

1401411226788

 

 

Nah yang di bawah ini adalah Soba Mie. Ini sekilas enak, padahal ketika dimakan ngooekss! Dingin dan berasa kayak karet pentil ban sepeda jaman dulu. Ini pesanannya si sulung, sih. Mungkin dia mengira rasanya kayak pangsit mie Bromo di Malang yang uenak itu, ha ha ha:

 

1401411622492

 

 

Panganan yang satu di bawah ini aneh pol. Kayak irisan Kraken. Tau Kraken? Itu lho, cumi2 raksasa di film “Pirates of the Carribean” yang suka memangsa kapalnya Jack Sparrow. Hari pertama saya makan malam dengan menu sliced Kraken ini, dan akibatnya satu jam sebelum tidur saya mendadak diserang gatal-gatal di bagian paha dan kaki. Wah, alergi nih! Salahe dewe Kraken mbok pangan. LOL.:

1401487720232

 

Di bawah ini adalah Bibimbap dengan telor ceplok setengah matang.

1401487565412

Saya makan ini sebelum mendaki Mount Seorak. Kayak pecel, kata mahasiswa saya yang melihat foto ini di Twitter saya:

 

 

 

 

Orang Korea tidak bisa berbahasa Inggris, namun mereka paham maksud kita kalau kita berbicara atau bertanya dalam bahasa Inggris. Beberapa dari mereka bahkan tidak segan mencoba menerangkan dalam bahasa Inggris, walaupun kadang-kadang saya yang jadi kebingungan karena pengucapannya jadi lain sekali dengan yang sudah saya pelajari selama belasan tahun di bangku sekolah. Menurut pemilik Guest House disitu, buat orang Korea memang sulit belajar bahasa Inggris, terutama karena pengucapan dan grammarnya. Yah, tapi itu lebih baik dibanding orang Tiongkok yang terkesan anti sama bahasa Inggris dan bahkan tidak tahu blas ucapan Inggris yang paling sederhana sekalipun.

 

 

Saya heran kenapa orang Korea dikabarkan sebagai salah satu bangsa yang tidak bahagia dalam hidupnya. Kalau buat saya pribadi, lingkungan dan tata kotanya sudah melebihi cukup untuk membuat saya bahagia hidup disini: tidak padat penduduk, transportasi lancar, tepat waktu, bersih, dan aman, sarana kota lengkap dan nyaman, taman luas, kesenjangan sosial tidak sangat menusuk, yang kesemuanya secara keseluruhan menjamin hidup yang nyaman dan sejahtera. Jadi apa yang kurang? Mungkin faktor tekanan untuk berprestasi ya. Saya dengar lulusan SMA di Korea harus berjuang luar biasa keras untuk bisa menempuh studi di universitas; saya sering baca juga betapa kerasnya industri pop nya menempa anak-anak muda berbakat (seperti G-Dragon) untuk bisa menembus dan membuat  hiruk pikuk dunia tertuju ke arah mereka. Kerja keras dan keberhasilan itu ternyata harus dibayar dengan ketidakbahagiaan, tidak seperti orang Indonesia yang biar kualitas lingkungannya awut-awutan ternyata masih bisa bahagia. Tapi sekali lagi itu hanya dugaan kasar saya saja.

 

Dalam perjalanan ke Everland, seorang pria tua Korea yang baik hati menerjemahkan pengumuman di stasiun subway untuk saya. Lalu dia bertanya beberapa hal tentang saya dan keluarga yang saya bawa, plus sedikit curcol. Dia bilang anaknya yang pria sudah berusia 30 tahun lebih, namun belum menikah. “Padahal saya ya kepingin punya cucu,” katanya sambil menatap lekat anak saya yang masih kecil. “Tapi anak muda Korea sekarang ogah nikah. Dan itu adalah masalah besar.”

 

 

Di hari terakhir kami mampir ke Istana Geongbyukyung di dekat stasiun subway di Seoul. Ini istana penguasa Korea jaman dulu kala. Karena mentari yang terik menyengat dan udara agak panas, kami hanya berhenti di pelatarannya saja:

IMG_2505

Hari Senin pagi kami pun berbenah untuk pulang. Setelah menyusuri perjalanan panjang kembali lewat Kuala Lumpur, akhirnya jam 11 malam kami tiba di rumah. Perjalanan sudah berakhir, dan walaupun kuesel saya senang bisa menambah satu lagi wawasan tentang budaya bangsa lain.

Kamsahamida!

Tagged: , ,
Posted in: Uncategorized