Ceramah di Al Falah Islamic Course Sidoarjo

Posted on May 14, 2014

0


Tanggal 10 Mei yang lalu saya diajak beberapa rekan untuk melakukan pengabdian masyarakat di sebuah lembaga kursus bernama Al Falah Islamic Course (FIC), di Sidoarjo. Ini tempat istimewa karena didirikan oleh sepasang suami istri muda, Mas Zamroni dan Mbak Ida, yang punya idealisme tinggi mendidik anak-anak dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Di daerah perkampungan itu mereka mendirikan lembaga tersebut pada tahun 2006, dan sampai sekarang terus berlanjut dengan jumlah murid yang makin banyak. Mas Zamroni, pendirinya, mengatakan bahwa jumlah muridnya sudah sekitar 500 orang dari berbagai jenjang usia dan pendidikan. Luar biasa! Itu berarti kalangan bawah juga punya kehausan besar untuk menimba ilmu dan memperluas wawasan, dan Tuhan menciptakan orang-orang seperti Mas Roni dan Mbak Ida ini untuk menyediakan sarana pendidikan buat mereka.

IMG_5072

Kami tiba di lokasi sekitar tengah hari. Udara panas dan lembab membuat gerah. Namun suguhan berupa es cincau dan es nanas membuat kami tetap segar. Belum lagi setelah itu tuan rumah menyediakan makan siang berupa sayur bening dengan jagung, bakwan jagung, bothok, dan kerang, plus sambel yang nendang bener. Diakhiri dengan segelas kopi panas dan beberapa batang Gudang Garam dan Marlboro, plus guyon-guyon rekan-rekan yang tak jarang membuat ngakak, lengkap lah suasana siang yang panas itu nikmat benar.

Hari itu acaranya ada 2, yaitu ceramah saya dari jam 3 sampai jam 5 tentang Kedaulatan Berbahasa, dan jam 6.30 – 8.30 petang tentang Penguasaan Bahasa Asing. Saya berceramah dengan bantuan laptop dan LCD ditengah-tengah sebuah gazebo dari bambu, di kanan ada kali kecil mengalir, dan di sekitarnya pepohonan dan semak-semak mengelilingi. Rasanya beda benar dengan medan tempur saya di Ma Chung yang selalu berupa kelas dengan 4 sisi tembok dan jendela kaca.

DSC_0427

Para siswa dipisahkan berdasarkan jenis kelaminnya: yang putri di gazebo lain di depan gazebo yang saya tempati, dan yang putra duduk melantai di gazebo tempat saya berceramah. Ada sekitar 17 an anak yang hadir. Dengan tekun mereka mendengarkan saya berceramah, sambil sesekali mencatat di buku catatannya.

IMG_4922

Tidak  banyak dari mereka yang bertanya atau mengemukakan komentar. Menurut salah satu rekan saya beberapa hari setelah acara ini, mereka semua agak sungkan karena tahu bahwa saya profesor, dan karena saya memang bergaya dosen yang mengajar tanpa humor. Yah, tahu begitu saya bisa melarang panitia untuk mencantumkan gelar saya. Tapi yang soal humor itu saya ndak bisa berbuat apapun: gaya saya ya memang sudah begitu: kering humor, walaupun tetap jelas dan mudah dipahami.

IMG_4930

Lepas dari hal itu saya sangat terkesan dengan antusiasme mereka mengikuti keseluruhan sesi tersebut. Hampir semua tekun menyimak. Jarang ada yang sibuk sendiri dengan gadgetnya atau ngomong sama temannya sehingga berisik. Kok lain ya murid-murid disini dengan yang di “sana” itu? Saya berhipotesa bahwa karena mereka dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan, mereka justru terdorong untuk menimba ilmu selagi sempat dengan sungguh-sungguh.

O ya, mereka di lembaga ini belajar bahasa Inggris dan beberapa ketrampilan lain seperti komputer, seni, menulis, dan sejenisnya dengan biaya murah, bahkan ada yang gratis sama sekali. Lembaga ini memang non formal, jadi tidak bisa mengeluarkan ijazah seperti layaknya SMA. Namun, karena hasil pembelajarannya memang terasa, dan mungkin juga karena itikad baik dan tulus dari pendirinya, maka surat keterangan pembelajarannya sudah bisa meyakinkan banyak pihak luar.

Inti dari ceramah saya di sesi itu adalah bahwa kita harus merawat dan menjaga penggunaan bahasa Indonesia, karena bahasa itu adalah simbol kebanggaan kita sebagai  bangsa Indonesia.

Setelah makan malam gurih pedas sampai hah huh hah, ngerokok dan ngopi, acara dilanjutkan jam setengah tujuh. Kali ini temanya adalah “Penguasaan Bahasa Asing untuk Meningkatkan Kapasitas Diri”. Kali ini saya berhasil membuat para siswa itu tertawa terbahak-bahak dengan beberapa humor yang sengaja saya bawa dari rumah. Lucu banget sih, saya aja masih ketawa ini karena mengingatnya, wa ha ha!

Saya paparkan strategi belajar bahasa Inggris dan sikap mental yang baik untuk bisa belajar bahasa. Di akhir ceramah, saya sampaikan pesan ini dari keseluruhan ceramah pada hari itu: “Sebagai bangsa Indonesia, kita harus menjaga martabat dan merawat bahasa Indonesia, dan pada saat yang sama mengasah kemampuan berbahasa asing supaya bisa menyumbangkan pikiran dan karya untuk dunia yang lebih baik”.

Ketika memberikan kata penutup setelah menerima cendera mata dari Mas Zamroni, saya mengatakan: “Di wajah-wajah Anda sekalian saya melihat masa depan bangsa Indonesia. Dua puluh atau tiga puluh tahun dari sekarang saya akan melihat kalian sebagai pemimpin-pemimpin bangsa ini, entah di sekolah, atau di perusahaan, atau di komunitas lainnya. Saya ingin tahu kemana dan bagaimana kalian akan membawa bangsa ini, bahasa kita, dan generasi muda Indonesia.”

Mereka nampak paham walaupun tidak berkomentar. Semoga mereka tetap ingat akan momen itu dan membuat mereka terinspirasi untuk memajukan diri, lingkungan sosial, dan bangsanya.

Sesi terakhir adalah foto bersama. Ini gambar saya dan mereka di depan pintu masuk.

IMG_5064

Waktu itu sudah jam sembilan malam. Tampang saya gimana? Kucel kan? Ya mesti wae wong aku durung adus, ha ha ha! Yah, kalau sudah begitu capeknya terbayar oleh wajah-wajah ceria dan suasana yang akrab dan cair di antara para peserta, dan terutama rasa senang karena saya sudah melakukan sesuatu yang kecil namun insya Allah ada manfaatnya untuk mereka.

Posted in: Uncategorized