Komunikasi dan Ego Kita

Posted on May 7, 2014

0


Komunikasi itu hal gampang. Kalau dua gadget yang notabene benda mati saja bisa berkomunikasi lewat wi-fi, Bluetooth, atau jaringan nirkabel lainnya, masak manusia tidak bisa? Ternyata jawabannya mengejutkan: tidak bisa!

 

Ya, bukannya saya mau pesimis atau skeptis mati, tapi harus saya akui bahwa selama berkarir di berbagai tempat, hal komunikasi ini menjadi hal sangat vital yang banyak didengung-dengungkan namun jarang digarap dengan tekun dan niat. Apa ya kira-kira penyebabnya? Kalau dua gadget tidak bisa berkomunikasi, itu barangkali karena baterenya mau habis, atau jaringannya kolaps, atau memang sudah amsiong. Lha kalau manusia apa kendalanya? Bukan batere, bukan power supply, bukan jaringan tapi ini: EGO.

 

Komunikasi itu harus langsung

Ya, saya percaya bahwa komunikasi itu harus langsung. Semakin panjang jarak yang ditempuh dan semakin banyak perantaranya, semakin kabur isi dan nada komunikasi itu, dan akibatnya pesan pun tidak tersampaikan dengan baik, atau malah disalah pahami sehingga makin ndak karuan situasinya. Kalau saya punya sesuatu yang ingin saya katakan kepada staf admin Fakultas, maka sedapat mungkin saya berbicara langsung dengan dia, tidak melalui perantaraan wakil saya atau kaprodi saya. Dengan demikian, inti pesan maupun cara penyampaian dan bahasa tubuh saya bisa langsung diterima oleh yang bersangkutan. 

 

Anda boleh tidak setuju dengan pendapat ini dan berargumen: “tapi bukankah ada hirarki jabatan di lembaga manapun? Apa jadinya kalau untuk masalah meja kotor saja sang direktur harus berbicara langsung dengan office boy?”. Ya, bisa juga sih Anda berpendapat seperti itu, tapi saya tetap yakin bahwa semakin langsung komunikasi itu, semakin kecil kemungkinan salah paham atau — ini yang sering saya alami — pesannya lambat sekali tersampaikan: “Beri tahu Dekan ya bahwa acara kunjungannya nanti harus begini, begini, begini”. “Siap, Pak”. Lantas tunggu punya tunggu sang Dekan tidak juga kunjung melakukan pesan itu. Kenapa? Selidik punya selidik, sang wakil pimpinan yang dititipi pesan tadi harus training ke luar kota dan lupa menyampaikan hal itu kepada sang dekan sampai akhirnya tinggal dua jam dari acara kunjungan. Rusak lah semua rencana dan mood para pelaku komunikasi yang tidak efektif itu. 

 

Komunikasi tanpa ego

Kalau sudah bicara soal kerja sama dan koordinasi dalam suatu lembaga, ego itu lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya. Tidak jarang seorang pemimpin menyuruh bawahannya untuk menyampaikan instruksi atau pesan kepada seorang pejabat lain dengan alasan: “saya males ketemu orang itu. Saya sedang sakit hati sama dia,” atau “orang itu serem. Serius luar biasa. Dah, kamu aja yang ngomong sama dia.” Bisa ditebak, perjalanan komunikasi tadi akan bernasib sama seperti yang di atas tadi: jalannya jauuuh, melingkar-lingkar, tertunda-tunda, dan ketika toh sampai ke alamat malah sudah terlalu terlambat atau disalahpahami.

 

Anda seorang pemimpin atau sedang dipercaya untuk menjadi pemimpin sebuah tim atau lembaga? Kerjaannya gimana? Lancar atau tersendat-sendat? Kalau tersendat-sendat, ada baiknya diperiksa lagi cara Anda berkomunikasi dengan tim Anda.

 

 

Posted in: Uncategorized