Jalan-Jalan ke Guangzhou

Posted on May 4, 2014

3


 

Tidak pernah bermimpi, tidak pernah berangan-angan, tapi akhirnya sampai juga saya ke negeri Tiongkok. Itulah kisah perjalanan saya ke Guangzhou (dibaca: “kwangchou”), ibukota provinsi Guangdong (bacanya “kwangtung”) di negeri tirai bambu bagian Selatan.

 

Saya datang atas undangan Dekan College of Chinese Culture and Language (CCCL) dari Jinan University, dalam upaya membahas kelanjutan Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin di Universitas MaChung.

DSCN1026

Dengan Garuda, saya terbang pagi2 benar tanggal 27 April dari Surabaya ke Jakarta, lalu lanjut dengan Garuda juga ke Guangzhou. Perjalanan 4 jam dari Jakarta itu terasa singkat karena saya tidur melulu di atas setelah paginya harus bangun jam 2 untuk ke Juanda. Di Guangzhou, seorang pemuda berdiri di barisan penjemput membawa kertas bertuliskan nama saya. Nama orang ini Harry Peng Fei. Dengan pembawaannya yang ramah dan cekatan, saya cepat merasa betah di negeri yang sebagian besar penduduknya ndak bisa berbahasa Inggris itu. Harry sendiri lulusan English Translation, jadi bahasa Inggrisnya sangat fasih.

 

Guangzhou kota modern dengan gedung2 tinggi dan jalanan lebar yang wooow bebas sepeda motor dan galian di jalan! Namun saya baru sadar bahwa penduduknya sebagian besar tinggal di apartemen di gedung-gedung tinggi sekitar 15 – 25 lantai, dengan jendela dipagari oleh teralis kokoh dan jemuran pakaian melambai-lambai dari sela-selanya. Teralis itu dipasang untuk mengusir maling, kata Harry, dan orang Tiongkok ogah beli mobil karena ndak punya garasi atau lahan parkir. Ya iyalah, dengan rumah seperti itu mana bisa punya garasi. Hanya orang sangat kaya yang bisa membeli rumah di atas tanah dengan halaman di belakang atau depan rumah seperti layaknya kita di Indonesia. Kalau sudah begini bersyukur rasanya hidup di Indonesia, karena masih bisa punya rumah dengan garasi dan halaman tempat bercocok tanam, sekalipun ukurannya kecil dan belinya aja kredit sampai belasan tahun.

 

DSCN1041

Hotel tempat saya menginap namanya J.Hotel (iya, pakai titik di tengahnya). Entah kenapa namanya kayak gitu. Yang jelas hampir semua manajer dan stafnya ndak bisa berbahasa Inggris. Jadi bisa dibayangkan betapa sengsaranya saya ketika harus memesan makan malam. Setelah susah payah, akhirnya mereka paham bahwa saya mau nasi goreng. Not much, okay? Mereka mengangguk aja, tapi begitu datang porsinya nyaris bikin saya semaput. Uakeh pol! Ciloko tenan, iki njur piye ngenteknone??

 

Kok ya kebangeten ya Tiongkok ini. Sudah bisa bikin satelit dan roket ke Bulan, ternyata bahasa Inggris aja ndak bunyi blas.

 

 

Paginya setelah sarapan saya dijemput Harry dan kami jalan kaki ke kampus CCLC. Kampus itu letaknya persis di depan hotel, bahkan ini lho saya bisa memotretnya dari jendela kamar saya.

 

Image

 

 

 

Jalan kaki ndak ada sepuluh menit sampailah kami di kampus yang baru saja merayakan hari jadinya yang ke 100.

 

 

Ini gambar monumen di depan CCLC. Ini melambangkan 5 benua di dunia. CCLC memang kampus dengan jumlah mahasiswa mancanegara terbesar.

 

Image

 

Saya disambut oleh Prof. Shao Yi, Dekan CCLC, dan 4 orang ketua jurusan, plus seorang mahasiswi Indonesia yang sedang kuliah disitu sebagai penerjemah. Ini suasana perundingan di pagi itu.

 Image

 

Setelah perundingan selesai, saya diantar oleh Harry keliling kampus. Kampus ini termasuk salah satu college terkemuka di Jinan University. Kalau di Indonesia ini setara dengan Faculty, atau Fakultas. Di kampus yang luas dan asri karena banyak daerah terbuka hijau itu terdapat asrama mahasiswa, apartemen dosen, klinik, lapangan tennis, kolam renang, perpustakaan, dan tentu saja ruang kelas. Nah, ini adalah mottonya. Saya tidak ingat keempat nilai utama itu, tapi yang jelas salah satunya adalah integritas.

 Image

 

Ini gambar salah satu kamar di asrama mahasiswa. Satu kamar ditempati empat orang. Ranjangnya di atas, di bawahnya ada meja belajar. Ringkas dan ajang sosialisasi yang bagus, kan? Bangun tidur kuterus belajar, habis belajar kunaik tangga terus tidur. Pantas lah mahasiswa Tiongkok tergolong tekun dan pintar.

 

Image

 

 

Ada juga kamar yang ditempati oleh 2 orang, bahkan 1 orang. Ya tentunya uang asramanya lebih mahal. Cuci pakaian swalayan alias umbah-umbah dewe. Menurut Yuli, biaya hidup setahun untuk mahasiswa bisa 22 juta rupiah; ya tergolong tidak mahal lah.

 

 

Ini ruang kelasnya. Bangkunya dipantek mati ke lantai sehingga tidak memungkinkan untuk diputar-putar buat diskusi kelompok. Papannya masih greenboard yang menggunakan kapur tulis. Murah dan efektif. Tapi kelas dilengkapi pula dengan komputer, speakers, dan LCD plus layar. Sekalipun bahasa yang dipakai adalah Mandarin, saya sempat melihat seorang dosen mengajar dengan slides penuh bahasa Inggris. Yaah, di Machung juga begitu kan, kecuali di prodi Sastra Inggris tentunya. Mahasiswanya sekilas terkesan lebih patuh dan tenang ketika mendengarkan kuliah, walaupun sempat saya lihat ada satu mahasiswa yang sembunyi sembunyi menelpon temannya ketika dosennya sedang sibuk menerangkan.

Image

 

Para mahasiswa disini nampaknya tidak harus patuh pada dress code. Yang cewek bisa memakai celana pendek atau rok mini yang memamerkan kulitnya yang sekuning dan semulus mentega baru itu. .  . .atau legging yang ketat membalut tungkainya yang panjang dan langsing itu dah . . . . Menurut Yuli, mahasisiwi pendamping itu, dosen juga bisa berpakaian seenaknya, alias pakai sepatu kets atau kaos oblong tanpa kerah, apalagi kalau habis ngajar mau langsung futsal. Yang dilarang disini hanya sandal jepit. Ya memang seharusnya demikian lah kita memperlakukan manusia dewasa. Ndak usah sampai segitunya mengatur cara berpakaian mereka, yang penting penanaman karakter dan ilmu pengetahuan jalan terus lewat tindakan nyata.

 

 Siang hari saya diajak makan di Mao Jiao Fan Tien. Konon ini adalah restoran dengan menu favorit Mao Zhe Dong di jaman revolusi kebudayaan dulu. Mereka memesankan masakan dari Hunan yang khas dengan cita rasa pedasnya. Menu pertama yang datang adalah daging babi merah yang benar-benar membuat gairah berkobar. Nih fotonya:

 Image 

DSCN1015

Tapi tibaknya (ternyata), yang mereka bilang pedas itu enteng2 aja di lidah saya. Memang kok, di Tiongkok ini ndak ada saus tomat atau saus sambal yang biasa menemani orang Indonesia makan mie, pangsit, nasi goreng dan semacamnya. Kita yang biasa makan dengan pedas2an kayak itu pasti kelimpungan kalau makan di Guangzhou. Makan serasa kurang nikmat tanpa sambal jahanam itu.

 

 

Pak Dekan dan stafnya yang semua pria seusia saya nampak menikmati sekali acara makan itu. Mereka ngobrol santai sambil tangan tak henti menjelajah hidangan dengan sumpit, dan sesekali menghirup teh hijau panas tawar. Nampaknya yang namanya minuman waktu makan di restoran ya teh hijau itu. Lain kan dengan di Indonesia yang bisa beragam, kayak es jeruk manis, juice apokat atau apalah yang lain. Namun teh hijau ini seolah ndak ada habisnya. Setiap kali mereka mengedarkan pocinya untuk mengisi cangkir cangkir yang sudah mulai berkurang isinya. Katanya sih teh ini berkhasiat menghancurkan lemak yang kita makan dari hidangan yang memang kaya lemak itu. Yang jelas, saya meminumnya berkali-kali untuk membuang rasa eneg dari makanan yang penuh kalori itu.

 Image

 

Yang di bawah ini adalah mmenu dari restoran Kanton, tempat kami bersantap malam. Ada tahu dengan kuah gurih, ada dim sum (tuh yang roti-rotian itu; yang ungu itu kayak ketan dan dalamnya kacang hijau manis), ada ikan yang ditaburi semacam acar yang tampangnya kayak areng tapi rasanya kecut-kecut segar:

DSCN1048 DSCN1049
DSCN1050

Sore harinya saya diajak ke kampus utama Jinan di pusat kotanya. Kampus ini jauh lebih luas. Ini adalah gedung Main Teaching Building yang menampung banyak sekali  ruang kelas. Guedhe to?

 Image

 

Lalu ini perpustakaan utama. Ada tempat khusus untuk mahasiswa pasca sarjana dan dosen,  berupa meja lengkap dg komputer terkoneksi Internet. Bahkan sampai ada ruang khusus perawatan naskah2 kuno. Mahasiswa bisa mengakses layanan di perpus ini dengan kartu mahasiswanya, yang juga berfungsi sebagai kupon makan di kantin dan tiket bis. Oya, mereka punya bis ulang alik yang menghubungkan CCLC dengan kampus utama ini. Semoga MaChung juga bisa punya dua kampus kelak. Pake bis juga? Ya endaklah, masa sama dengan Jinan. Ya nanti saya usulkan pake helikopter ulang alik. Lhoo, ojok ngguyu aa, kan masuk akal soalnya Malang kan makin macet, jadi harus ada helikopter untuk menghubungkan antar kampusnya.

DSCN1039

 

Kota besar ini bebas sepeda motor. Menyenangkan melihat jalan rayanya hanya dilalui mobil. Yang lebih menyentuh, ada beberapa orang yang naik sepeda. Bahkan di sebuah jalan saya lihat banyak sepeda diparkir seperti gambar ini.

 

Image

 

Sore harinya Harry mengajak saya ke cruise sungai Pearl dengan ferry. Ini mirip seperti di Palembang menyusuri sungai Musi dengan kapal feri. Bedanya, di sepanjang tepian kita bisa melihat gedung-gedung modern yang menunjukkan geliat perkembangan kota Guangzhou. Semua kapal ferinya bersolek menawan dengan lampu lampu menghiasi sekujur tubuhnya.

 Image

 Image

 

Makin malam pemandangannya makin menawan. Ada tiga landmark kota ini, yaitu gedung IFC, lengkung jembatan Guangzhou, dan sebuah gedung elok serupa pinggang ramping perempuan Tiongkok. Pada sudut tertentu, ketiganya bisa disatukan dalam satu foto seperti ini:

 Image

 

Hari berikutnya kami diajak ke Lingnan Impression, tempat penuh benda bersejarah dari berbagai periode Tiongkok dan berbagai suku. Ada rumah khas suku Khek, ada pertunjukan wayang potehi seperti di Klenteng Eng An Kiong di Malang, dan ini yang menyegarkan: tarian dan atraksi menawan dari anak2 muda Guangzhou. Gambar mereka yang kinyis kinyis bak roti susu isi kismis di bawah ini:

 Image

Image

 

Ini wayang potehi. Menarik juga melihat Generasi Y yang serba gadget itu masih mau nonton boneka kaku kayak ginian. Tapi memang pintar yang memainkan. Ceritanya lucu, penuh aksi, dan hanya 10 menitan sehingga yang nonton ndak jenuh

 Image

 

Nah, ini tempat pengadilan. Ingat film Judge Bao yang adil dan berwibawa itu kan? Nah, disini latarnya. Kebetulan saat itu Judge Baonya mau menampakkan diri untuk saya foto. Ini dia gambar Judge Bao di panggung pengadilannya lengkap dengan kaca matanya. Keren bukan?

 Image

 

Tanggal 30 April saya ke daerah pusat aneka macam barang dijual. Wis ojo takon jenenge opo. Lupa lah saya, ha ha ha! Yang jelas daerah itu mirip Pecinan di Malang atau  Malioboro di Yogya. Ini gambar saya berdiri di salah satu sudutnya.

 Image

Dan ini gambar2 sudut lain.

 ImageImageImage

Di fotonya kelihatan ndak rame ya. Ya memang iya. Rame sih, tapi kok tetap aja terkesan lebih rame di Indonesia ya? Disini kita masih bisa santai nyebrang jalan. Di Malioboro atau di Pecinan Malang? Ndak kira bisa sesantai itu wong lalu lintasnya padat. Padahal penduduk Guangzhou ini 16 juta lho.

Mungkin pembaca bertanya: “kenapa di foto fotonya kok selalu ada cewek2nya?” Yo babahno aaa, kan kameranya kamera sayaaa, ha ha ha!

Omong-omong soal makhluk yang satu itu, perempuan Tiongkok luar biasa bagus kulitnya. Kuning mulus, nyaris tanpa cacat. Kalau foto mereka pasti ndak usah di fotosyop kayak orang-orang bule yang ndak punya pigmen itu. 

 

Jadi begitulah, tempat itu pastilah serasa surga bagi istri saya dan mahasiswi penerjemah itu. Tiga jam penuh mereka keliling tempat itu membeli aneka kaos, tas, aksesoris, baju dan embuh opo maneh. Disini penjualnya kebanyakan wanita muda, dan gaya pakaiannya mirip2 kayak anggota girl band macam SNSD atau JKT48 gitu dah. Istri saya banyak dibantu oleh mahasiswi itu, yang memang fasih sekali bahasa Mandarinnya dan pintar menawar. Setiap kali penjual mengatakan ‘bu, la la la’, itu artinya harga yang ditawar akhirnya dia kasihkan setelah tawar menawar alot.  Ada toko serba 10 yuan. Semua barang peralatan rumah tangga dari payung sampai ransel harganya 10 yuan. Pantes rame uyel2an didalam

 

DSCN1102

Kami pulang sekitar jam 4 naik taxi. Taxinya unik: antara jok depan dengan jok belakang dipisahkan oleh teralis aluminium. Tujuannya pasti: untuk mencegah kejahatan penumpang terhadap sopir takxinya.

 

Penduduk Guangzhou terkesan datar, wajahnya cenderung tapres (tanpa ekspresi), dan mahal senyum. Kalau sudah begini saya mengerti sekarang kenapa bangsa kita disebut sebagai bangsa yang ramah: ya karena kita suka tersenyum.

 

O ya, buat para wanita kalau ke daratan Tiongkok lebih baik sangu tisu basah dan air botolan kalau ke toilet, sebab toilet-toilet wanita disini jarang menyediakan air bersih dan tisu.

  

Tanggal 1 Mei kami kembali ke tanah air. Kunjungan ke Guangzhou ini sangat berkesan bagi saya. Sayang masih ada yang terasa mengganjal: orang Tiongkok tidak bisa berbahasa Inggris. Bahkan di tempat2 vital seperti hotel dan layanan publik yang lain, kami harus mengandalkan penerjemah, atau kalau tidak ada ya terpaksa berbahasa seadanya plus salah paham disana sini. Saya hanya bisa bilang ‘ wo bu shuo zhongwen’ sementara mereka bilang ‘I dont speak English’. Klop dah. Yah, supaya adil, kedua belah pihak juga harus mau belajar bahasa masing-masing. Jin jai laaah, ha ha ha! Saya merasa sudah saatnya saya belajar bahasa Tionghoa sehingga bisa tahu omongan orang atau bisa mengucapkan kalimat lebih panjang daripada sekedar “Xie xie!”.

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized