Dunia Makin Aneh

Posted on April 15, 2014

0


Suatu ketika, seorang pria datang mengunjungi sebuah tempat penampungan. Di pintu masuk, dia mendapati seorang anak muda sedang duduk terpekur menekuni sebuah pancing yang ujungnya tergeletak di lantai. Keheranan, dia bertanya: “kamu sedang ngapain?”. Si anak muda menjawab: “sedang mancing, Mas”.  Si pria kaget. “Gila,” pikirnya. “Wong mancing kok di lantai??”.

Lalu dia berjalan lagi. Eh, di dekat ruang pertemuan dia melihat lagi adegan yang sama. Kali ini seorang ibu paruh baya sedang memancing di lantai. Ketika dia bertanya, jawabannya sama: “lho, tidakkah Mas lihat saya sedang memancing?”

Makin lama makin banyak orang yang dia jumpai di tempat itu sedang memancing di lantai. Akhirnya dia tak tahan dan keceplosan mengatakan bahwa mereka semua pasti gila. “Kalian gila! Mancing itu ya mestinya di kolam, bukan di lantai!”. Eh, mereka balas mengatakan: “lho, yang gila ya Anda; kami semua memancing di lantai, hanya Anda yang mengatakan mau mancing di kolam.”

Si pria pun bingung tidak karuan, dan akhirnya hanya bisa tertegun-tegun: “sebenarnya yang gila ini aku atau mereka tho ya?”

 

Demikianlah, ilustrasi di atas menggambarkan hidup di jaman sekarang. Banyak hal yang secara pribadi saya anggap “nyeleneh” tapi toh pada akhirnya saya yang tertegun-tegun sendiri karena sedemikian banyaknya orang yang melakukan hal nyeleneh itu sehingga sayalah yang merasa gila, bukan mereka.

 

Salah satu contoh paling anyar adalah kelakuan banyak orang muda menjadi caleg. Untuk jadi caleg mereka harus bermodalkan duit ratusan juta (antara 250 – 700 juta, yang saya dengar) untuk membiayai kampanye dan pernik-perniknya, termasuk menyogok mulut calon pemilihnya supaya mereka menang. Wis jangan ditanya masalah ideologi atau gagasan cemerlang yang mereka usung untuk kesejahteraan rakyat; itu mah ndak penting di mata mereka. Yang penting adalah pencitraan, polesan wajah yang tampil di baliho-baliho atau poster di pinggir jalan, di pohon-pohon, bahkan di tempat-tempat ibadah. Ketika akhirnya perolehan suara mereka ternyata jeblok, cita-cita menjadi  caleg pun gagal. Tinggallah mereka kalang kabut karena harus membayar hutang sekian ratus juta tadi. Lalu karena tidak kuat menahan tekanan mental itu, mereka pun jatuh depresi dan harus dirawat di rumah sakit jiwa. 

 

Jadi jelas “road map” mereka-mereka ini: kalau menang jadi caleg, mereka pasti main kayu supaya dapat duit banyak dari rakyat dengan manuver politik dan kebijakannya yang tidak pro rakyat; sebaliknya, kalau gagal mereka berakhir mengenaskan di rumah sakit jiwa. Lha mosok kepada orang-orang begini kita percayakan nasib kita sebagai rakyat? Kan gila namanya.

 

Karena masih tidak mau gila, sayapun malas memilih. “Jangan!” kata seorang teman, sebut saja si A. “Harus memilih! Soalnya kalau endak, nanti surat suara yang kamu ndak coblos itu akan digunakan oleh pihak lain untuk memenangkan partainya”. Saya pikir, masa iya semudah itu menggunakan kertas suara yang masih utuh untuk mendongkrak suara seseorang? Lagipula, bagaimana saya mau memilih, wong kenal aja ndak sama caleg-caleg itu?

Si B, teman saya yang lain, berpikir (hampir) selaras dengan saya. “Apanya yang dipilih? Semua jelek” katanya.

 

Eh, pada hari pemilihan, kedua-duanya berangkat ke TPS dan memilih. “Lho kok?” tanya saya keheranan kepada si B. “Kamu memilih juga tho akhirnya?”. “Ya iyalah,” jawabnya. “Kan warga negara yang baik”.

 

Lalu dia cerita bagaimana dia memilih caleg. “Aku cari yang ndak pake kumis atau jambang, dan yang mukanya paling mirip sama mantanku dulu. Aku coblos wis yang itu.”

 

Si A, yang saya tahu mendapat sogokan duit 50 rebu dari seorang caleg, bercerita lain lagi. “Iya, tentu aku terima duit dari pak Anu tadi pagi, tapi waktu di TPS tadi aku nyoblos gambar caleg wanita yang cakep. Ya, lumayanlah, untung dua kali, he he he!”

Bwa ha haaa! Ya udahlah, daripada pusing karena berpikir siapa yang gila, lebih baik ketawa saja. Ha ha ha!

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized