Pendidikan Karakter Gagal?

Posted on April 9, 2014

3


Pendidikan Karakter Gagal?

Kemarin saya mengisi acara gathering karyawan dengan topik tentang bagaimana menulis tentang pendidikan karakter. Pada prinsipnya, saya bertujuan untuk menyemangati dan menginspirasi mereka untuk menulis sebuah karya ilmiah tentang bagaimana mendidik dan mengembangkan karakter anak didik.

Sayangnya alur itu agak dibuat membingungkan oleh pembicara kedua yang sejak awal sudah mengatakan ‘saya tidak percaya pada pendidikan karakter’. Lalu beliau menguraikan beberapa hal yang membuat dia skeptis terhadap pendidikan karakter. Saya akan menguraikannya satu persatu dan mengemukakan sanggahan saya.

Yang pertama tentang definisi. Dia katakan bahwa definisi karakter itu tidak ada. Untuk yang ini sanggahan saya jelas: ada! Di kamus ada, di google ya pasti langsung ketemu. Kan sudah saya katakan sebelumnya bahwa karakter adalah tindakan yang didasari oleh seperangkat nilai yang dipercaya sebagai kebajikan. Jadi kesimpulannya, karakter itu bisa didefinisikan.

Yang kedua, dikatakannya bahwa pendidikan karakter di Amerika sudah gagal. Sanggahan saya, ya, kalau sudah gagall disana, apakah terus kita mau menyerah begitu saja? Kalau cara pandang ini yang dianut, saya khawatir semua upaya lembaga ini untuk berkembang bisa dimentahkan dengan argumen sangat dangkal dan fatalis itu: ‘wong orang lain aja gagal masa iya kita masih mau mencoba?’. Kalau ini menjadi cara pandang kita, kita sudah tamat bahkan sebelum berbuat apapun. Tambahan lagi, kenapa mesti menengok Amerika? Bangsa itu besar badannya tapi dalamnya ada pengeroposan juga. Kenapa tidak menoleh ke pesantren, atau asrama, atau sekolah yang sudah terkenal berhasil mengembangkan karakter anak didiknya?

Yang ketiga, beliau mengatakan dengan gamblang bahwa dia sudah skeptis dengan pendidikan karakter. Nah, ini bisa gawat. Secara psikologis, orang-orang muda yang masih memandangnya sebagai figur yang bijaksana bisa kehilangan pegangan, atau minimal bingung.

Maka saya tetap pada pendirian saya: karakter itu bisa didefinisikan, bisa dikembangkan, dan bisa ditularkan.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized