Kenapa Etnis Tionghoa Pinter Dagang

Posted on March 8, 2014

2


Kenapa Etnis Tionghoa Pinter Dagang

Sadar atau tidak, suka atau tidak, kita hidup berbagi ruang dengan sedulur-sedulur yang mencari nafkah dengan berdagang. Lebih dramatisnya lagi, saudara-saudara kita itu adalah satu golongan, yaitu etnis Tionghoa. Secara umum, orang Indonesia seperti sudah bersatu kata bahwa etnis Tionghoa memang dilahirkan untuk berdagang dan hidup (sejahtera) dari situ. Ya, memang ada argumen yang mengatakan bahwa sedidkit banyak itu disebabkan oleh politik Orde Baru yang memang membatasi mereka untuk menekuni profesi lain. Tapi lebih daripada itu, sebenarnya banyak juga dari antara mereka yang tanpa ada politik2an pun memang sudah berniat berdagang. Doing business and selling things is in our blood, demikian kata seseorang dari mereka yang lulusan MBA dari Amrik.

Ketika masih remaja, saya pernah ngobrol berkepanjangan dengan orang tua dan saudara yang lain tentang kenapa teman-teman kami yang dari etnis Tionghoa rata-rata punya orang tua yang profesinya berdagang, dan kenapa kebanyakan dari mereka kaya. Ayah saya pernah bilang bahwa mereka itu pintar berdagang. Lha pintarnya dimana? Ya mereka itu hemat, dan kesetiakawanan diantaranya sangat kuat. Jadi kalau ada yang ndak punya modal, yang lain kasih dia modal untuk usaha. Kalau sudah punya toko, mereka bisa dapat diskon banyak dari suppliernya karena belinya juga banyak. Karena dapat diskon, barang yang mereka beli bisa mereka tawarkan kembali dengan harga yang lebih bersaing, sehingga banyak pembeli datang. Begitu.

Saudara saya bilang bahwa rata-rata kaum pedagang itu ulet dan bermuka tebal. Itu artinya ‘dia ndak malu menawarkan barang ke orang lain, dan kalau ditolak pun tidak lantas patah hati atau mutung, tapi berusaha lagi dengan lebih giat.’. Lalu ayah saya cerita bahwa dia dulu juga pernah jualan gula kacang waktu masih di SD. ‘Kalau nawarkan ke orang dan ditolak, ya wis, diam aja. Lantas menjelang siang, gula kacangnya masih banyak yang belum laku. Ya, sudah, dimakan sendiri.’ Kontan semua ngakak mendengar cerita konyol itu. Mungkin itu sebabnya ayah saya memilih jadi profesor saja. Coba dia milih dagang pasti nasibnya mengenaskan, lha wong nek ora payu dipangan dewe, bwa ha ha!

Lepas dari konyolnya, barangkali cerita itu mengilustrasikan perbedaan sikap dan mental dagang antara etnis Tionghoa dengan etnis Jawa.

Jadi kami semua sepakat untuk menyimpulkan obrolan itu tentang kenapa orang Tionghoa hidup (makmur) dari berdagang. Makmur? Belum tentu juga sih. Tidak sedikit yang usahanya kembang kempis dan akhirnya bangkrut. Itu masih ditambah lagi dengan anggapan yang kurang enak didengar: yang makmur itu biasanya berkolusi dengan penguasa (yang mayoritas etnis Jawa dan lainnya) supaya usahanya bisa diproteksi dan dijadikan pemasok utama sehingga melesatlah profitnya.

Tapi itu sama saja dengan mengatakan bahwa tidak semua dosen baik dan jujur. Beberapa dosen juga culas, suka memeras mahasiswa, nyolong copas supaya naik pangkat, dan bahkan korupsi.

Yah, life is like that. Begitulah hidup. Dijalani saja.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized