Kram Otak atau Magical Brain?

Posted on February 6, 2014

0


Otak kita itu benda luar biasa ajaib. Konon komputer secepat dan sesuper apapun belum bisa menyaingi kecepatan dan keakuratannya dalam mengolah informasi, mulai dari sekedar mengenali tulisan sampai mengambang di luar batas kesadaran ke alam bawah sadar. Iya lah, Google yang konon super pinter itu masih tetap aja blo’on manakala saya mengetikkan sesuatu kata di kolom “Search” nya. Masa baru ngetik kata “May” aja langsung disuguhi kata “Mayabi”. Blah, siapa juga mau nyari informasi soal Mayabi??

 

Nah, otak kita itu sering diasosiasikan dengan pikiran. Yang istimewa dari pikiran ini adalah dia ndak pernah berhenti. Sulit sekali menghentikannya, kecuali kita bermeditasi dalam-dalam. Bahkan pada saat kita tidur pun otak masuk pada tahap-tahap tertentu yang sebenarnya masih aktif memproses informasi. Itu sebabnya kita bermimpi. Kalau bukan kerja otak, siapa lagi yang bisa menghadirkan dunia mimpi yang penuh warna itu.

 

Saya akhir-akhir ini sering berpikir tentang berpikir. Saya amati, otak saya ini aneh. Di tengah-tengah sibuk kerja atau sudah dalam keadaan istirahat, dia kayak nyangkut pada satu hal yang terus digumulinya seperti seolah-olah kekasih yang lama ndak ketemu. Akhir-akhir ini otak saya nampaknya sedang kasmaran berat sama yang namanya catur online. Pikiran seolah tidak mau lepas dari bayangan papan catur dan berbagai strategi catur. Mau diajak mikir tentang artikel, atau penelitian, atau hal-hal rumah tangga, eh, larinya ke catur lagi! Bandel bener ini otak. Nah, karena saya dianugerahi kemampuan berpikir, maka saya kerahkan pikiran saya uintuk mengalahkan dirinya sendiri: saya sengaja main  catur sebanyak mungkin pada suatu malam. Karena dasarnya saya pemain kacangan pol (rating saya hanya 900 an; itu kalau TOEFL PBT ya setara satus seket lah, ha ha haa!), maka saya pun kalah ndak karu-karuan. Setiap kali kalah, rasanya jera. Karena berulang-ulang kalah, akhirnya otak itu mandeg sendiri berpikir tentang catur, karena dia tidak sanggup menerima sakitnya kalah. Ha ha, mampuslah pikirannya tentang catur, dan saya mulai bisa berpikir tentang hal-hal lain lagi.

 

Begitulah, otak memang ajaib. Pernah ndak mengalami kejadian dimana Anda sudah berpikir keras untuk menyelesaikan suatu masalah dan sudah hampir menyerah, ketika tiba-tiba cetrhhaarrrr! begitu saja ada ide luar biasa muncul di benak Anda. Anda seolah menemukan pencerahan mendadak, sebuah momen “eureka!” yang bahkan tidak Anda sadari kemunculannya. Saya pernah membaca kisah nyata seorang programmer komputer yang sudah berminggu-minggu bersama timnya memeras otak untuk membuat sebuah desain dasar sebuah chip. Berminggu-minggu solusi belum ketemu juga. Eh, ketika suatu saat  dia sedang mandi, mendadak ide luar biasa itu mak jegagik muncul begitu saja di benaknya. Dia cepat ambil kertas dan menuliskan apa yang   dibisikkan oleh pikirannya itu, lalu menghubungi timnya. Begitu datang dan melihat solusi itu, mereka takjub dan bertanya: “wih, darimana kamu dapat ide dahsyat seperti ini?”. Nah, sekarang giliran dia yang kebingungan: “Wah, gak tau ya. Ide itu muncul begitu saja. It pops up just like that in my mind!”.

 

Saya juga beberapa kali mengalami momen aneh seperti itu. Berbulan-bulan memikirkan suatu masalah dalam penelitian atau lembaga, dan sudah pada titik wis embuh lah, ketika tiba-tiba solusi itu datang. Aneh, karena ketika ditelusuri kembali, solusi itu nyaris tidak tersentuh oleh alur logika saya. Itu artinya dia datang dari luar ranah sadar saya yang mementingkan logika dalam penalaran yang saya lakukan. Jadi kalau ada yang bertanya” dapat ide itu darimana?”, ya saya akan menjawab serupa seperti programmer tadi: “wah, ndak tau ya? Nongol begitu saja”. 

 

Tubuh kita terdiri dari soul body and mind: jiwa, tubuh, dan pikiran. Mungkinkah sang Jiwa yang membisikkan solusi itu ketika tubuh dan pikiran sudah kehabisan akal? Ya, walahuallam, saya juga ndak tahu.

 

Nah, satu lagi: otak ternyata butuh rekreasi. Kalau sedang butuh rekreasi, dia akan ngeluyur kemana2 dan bergumul di satu bayangan dan berasyik masyuk disitu. Jangan harap bisa menyuruhnya keluar, karena dia akan kembali ke situ lagi. Jadi, kalau sekarang otak saya sedang suka sama catur, maka saya biarkan saja dia membayangkan biji-biji catur itu bergerak kesana kemari di sebuah papan bujur sangkar bermotif hitam putih. Kadang-kadang juga dia suka balapan; maka ya sudah biar aja dia membayangkan adegan seru di trek F1. Ntar kalau sudah bosan dia pasti akan kembali bersama saya. Ada kalanya, mungkin karena sedang senang, dia bisa mencetuskan suatu ide tak dinyana dari bidang itu yang ternyata berguna untuk masalah aktual yang sedang saya hadapi. Itu seperti seolah-olah dia sedang texting saya dari tempat ngeluyurnya sana dan mengatakan: “ini, aku belikan  oleh-oleh buat kamu”.

 

Keren.

 

 

 

 

Tagged: ,
Posted in: Uncategorized