Menelikung Peraturan

Posted on February 1, 2014

0


“Peraturan dibuat untuk dilanggar”.

 

Ini adalah prinsip orang anarkis. Orang macam ini maunya bebas dari semua peraturan. Kalaupun ada peraturan, ya mereka akan berpikir gimana caranya untuk melanggarnya. Mungkin tidak terpikir oleh mereka bahwa peraturan itu dibuat dengan latar belakang pemikiran dan tujuan yang pasti sudah diperhitungkan, tidak ngawur. Kalau peraturan itu ternyata terbukti mempersulit, ya dirembug bersama untuk mengubah atau bahkan meniadakannya, tapi tidak dengan cara melanggarnya. Betul kan?

 

Saya menulis ini karena terkesan dengan seribu satu cara dari beberapa orang untuk menelikung peraturan. Di sebuah kantor, sudah dibuat peraturan bahwa jam kerja adalah jam 8 pagi sampai jam 5 sore, (yang berarti setara dengan 40 jam seminggu), dengan istirahat makan siang 1 jam. Nah, beberapa orang yang sudah menyimpan bibit-bibit anarkis tadi terus mengutak-atik peraturan ini dan menggugatnya dengan masuk kerja jam 10 siang, kemudian pulang jam 7 malam. “Lho, kan sama aja, kalau ditotal ya 40 jam seminggu toh?” kilah mereka.

 

Padahal kalau mereka mau lebih cermat dan memang bermaksud baik, mereka akan berpikir kenapa harus hadir jam 8 sampai jam 5. Ya, karena sebagian besar pelanggan mereka aktif pada jam-jam tersebut, dan semua pelanggan tahunya ya jam kerja adalah jam 8 sampai jam 5.

 

Jadi, dengan cara semau gue pokoknya 40 jam itu,  para pelanggan yang mau menemui mereka jam 9 pagi akan mendapati bahwa  karyawan itu tidak berada di pos nya. Bagaimana ini? Sementara itu, si karyawan  merasa tidak bersalah mau datang kapan saja, pokoknya kalau menurut hitungannya jam hadirnya sudah 40 jam seminggu ya sudah, dilarang protes.

 

Maka kecewalah para pelanggan tersebut dan mulai menularkan kekecewaannya dari mulut ke mulut. Akhirnya nama kantor itu pun menjadi kurang baik di mata pelanggannya, karena alasan sederhana tapi menyebalkan: “karyawannya sulit ditemui; datangnya semau gue”.

 

Demikianlah, manusia memang selalu cerdik. Sayang, pada beberapa orang,  kecerdikannya belum beranjak jauh dari rasa egoisnya, sehingga apapun yang digariskan dalam peraturan dirasa membelenggu dirinya, dan mulailah mereka berpikir untuk menelikungnya.

 

 

 

Posted in: Uncategorized