Tri Dharma: Kenapa Bukan Penelitian

Posted on January 29, 2014

0


Di Kompas beberapa hari yang lalu ada seorang penulis mengemukakan argumennya bahwa dari Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat), penelitian lah yang paling penting dan oleh karena itu harus mendapat prioritas utama. Saya tidak setuju dengan hal ini.

 

Pertama, universitas adalah lembaga pendidikan, bukan lembaga penelitian. Itu artinya kegiatan mendidik lah yang harus diberi perhatian dan porsi dana yang paling besar. Betul bahwa menyuruh mahasiswa mengetahui seluk beluk penelitian dan bahkan terlibat di dalamnya adalah kegiatan mendidik, tapi itu tidak berarti lalu menjadikan penelitian sebagai panglima utama. Anda harus menyadari bahwa kegiatan pendidikan itu mencakup spektrum sangat luas, mulai dari membaca buku, mendengarkan dosen, berdiskusi, menulis paper, merancang solusi untuk suatu tugas yang diberikan, mendesain, plus  semua aspek penunjangnya: membagi waktu, mencatat, berpikir kritis, menjaga hubungan interpersonal, berorganisasi, mencamkan feedback, dan banyak lagi.   

 

Kedua, penulis di Kompas berpendapat bahwa kalau dosen tidak meneliti, lantas mau mengajarkan apa? Dia berkeras bahwa materi yang layak diajarkan adalah yang sudah diteliti oleh dosennya. Baik. Sekarang kita lihat secara praktis saja: berapa waktu yang  diperlukan oleh  seorang dosen untuk melakukan penelitian sampai selesai? Paling tidak satu semester, bukan? Penelitian dengan skema Dikti malah bisa makan waktu tahunan. Nah, kalau penelitiannya belum selesai, sementara mengajarnya minimal setiap minggu sekali, lalu apa yang mau diajarkan? Dihadapkan dengan  pertanyaan simpel seperti itu saja, argumen si penulis di atas itu sudah rontok.

 

Tataran praktis memang selalu menghadapkan idealisme pada pertanyaan sederhana namun mematikan: bisakah seorang dosen membagi waktunya dengan baik untuk mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian pada masyarakat? Kalau penelitian menjadi yang utama, apakah mereka bisa membagi waktunya dengan efektif, setidaknya untuk penelitian dan pendidikan/pengajaran? Jangan mengangap enteng pembelajaran; pembelajaran itu juga memakan waktu lama untuk mempersiapkan materi, merevisi materi, mengoreksi karya mahasiswa, membimbing penulisan karya ilmiah/tesis, dan semua konsekuensi  yang melekat padanya baik secara mental, fisik, maupun kognitif. Nah, bisakah seorang dosen yang sudah terperas di semua itu mengkonsentrasikan sumber dayanya secara optimal untuk penelitian, yang notabene juga setara dalam hal beban kerjanya?

 

 

Dengan menulis ini, saya tidak sedang mengungkapkan bahwa saya anti penelitian. Sebagai dosen yang (konon) sudah guru besar, saya harus meneliti dan memang suka meneliti, setidaknya satu penelitian dalam satu tahun ajaran. Saya hanya mencoba mendudukkan Tri Dharma dalam proporsi yang wajar sehingga visi dan misi kampus sebagai wadah pendidikan insan muda dan lahan untuk mengembangkan ilmu tidak menjadi berat sebelah. Semua harus diletakkan dan disikapi secara proporsional. Kalau kampus misi utamanya adalah mendidik, ya saran saya, letakkanlah porsi terbesar pada upaya-upaya pendidikan. Kegiatan penelitian tetap harus dilakukan  karena itu menjadi sarana memajukan ilmu pengetahuan, namun   jangan sampai menjadi yang utama sehingga unsur pendidikan dan pengabdian masyarakatnya “tertelan” olehnya. 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized