Menguji Skripsi

Posted on January 22, 2014

4


Kalau mau dilihat-lihat, pengalaman menjadi penguji skripsi ternyata bermacam-macam juga. Setidaknya, ada beberapa hal yang bisa diangkat menjadi satu post untuk blog ini.

 

Aturan tak tertulis mengatakan bahwa seorang pembimbing skripsi yang ikut menjadi tim penguji tidak boleh “membantai” anak bimbingnya sendiri. Kalau itu dia lakukan, sang bimbingan bisa merasa “dikhianati” dan kalau dia lepas kendali, sang dosen pembimbing bisa menjadi sasaran kemarahannya di media sosial online, seperti yang pernah saya saksikan sendiri beberapa tahun silam: “Kenapa dosen pembimbingku malah membantaiku di forum ujian?? Kenapa kok nggak dari dulu bilang bahwa desain itu salah??”, dsb. Ya, masuk akal, namanya aja dosen pembimbing. Kalau sampai dia menewaskan anak bimbingnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat kalang kabut, berarti reputasinya sebagai pembimbing  juga jelek dong.

 

Seorang pembimbing juga tidak boleh membuat anak bimbingnya patah semangat atau panik sampai nangis di depan kelas. Celakanya, secara tidak sengaja itu saya lakukan beberapa waktu yang lalu. Karena tiba-tiba mendapati hal yang aneh dalam naskah proposalnya, saya menanyakan hal itu, dan tanpa terasa pertanyaan saya makin lama makin gencar dan memang bernada menyudutkan. Nah, mahasiswa itu langsung memerah mukanya dan menangislah dia. Saya tertegun karena sama sekali tidak menyangka bahwa reaksinya akan seperti itu.  Ini baru pertama kalinya dalam hidup dan karir saya, saya membuat seorang mahasiswa bimbingan menangis di depan kelas. Saya merasa sangat tidak enak dan menyesal, karena selama ini saya dianggap sebagai dosen pembimbing yang super serius tapi hampir tidak pernah membuat anak bimbing grogi dan bahkan sampai menangis. Sampai beberapa hari perasaan bersalah itu masih menghantui. Saya bukan tipe dosen yang menikmati kepuasan membuat mahasiswa menjadi KO saat ujian di depan kelas. Saya jauh sekali dari gambaran itu. Maka beberapa hari kemudian ketika si mahasiswa datang untuk konsultasi, saya sediakan waktu ekstra untuk benar-benar membantunya merevisi naskahnya. Sampai-sampai saya tulis sendiri apa yang seharusnya dia tulis, seolah-olah saya mau menebus “kebengisan” saya di forum seminar proposal . Yah, semoga dia bisa lulus semester ini setelah mendapat sentuhan tersebut.

 

Hal lain dari dosen penguji adalah ketika mereka berebut jatah bertanya. Jadinya agak lucu. Beberapa dosen penguji yang mendapat giliran pertama untuk melontarkan pertanyaan memborong semua pertanyaan bermutu, sehingga rekannya yang kebagian giliran terakhir kehabisan bahan untuk ditanyakan. Saya pernah–sekali lagi tanpa sengaja–mengalaminya sendiri ketika menguji tesis seorang calon Master. Karena kelemahan-kelemahannya begitu menyolok, saya lontarkan semua pertanyaan di daerah vital tersebut. Begitu rekan saya dapat giliran berikutnya, dengan muka masam dia mengatakan: “Semua yang mau saya tanyakan sudah ditanyakan Pak Patrisius”. Ha ha haaa! Saya  kaget tapi juga tidak bisa menahan geli dalam hati. Lebih geli lagi ketika si rekan itu masih memaksakan diri untuk bertanya, dan karena memang benar-benar sudah habis, akhirnya dia hanya bisa mengomentari kesalahan ketik, kesalahan tanda baca, dan sebagainya yang tidak substantif.

 

Tak jarang juga dua orang dosen penguji menjadi tengkar sendiri ketika menguji. Tidak heran, karena mereka manusia-manusia yang egonya kadang tumbuh jauh lebih besar daripada pengetahuannya. Jadi masing-masing tidak ada yang mau mengalah. Ketika mereka sibuk berdebat satu sama lain, sang mahasiswa pun hanya tertegun-tegun di bangkunya di depan ruang ujian. Saya pernah mengalami hal seperti ini, tapi sebagai dosen pembimbing. Saya menyaksikan kedua penguji berdebat sendiri. Ketika akhirnya selesai dan mereka memutuskan untuk memberi bimbingan saya nilai B, eh, gantian saya yang protes: “kenapa kok hanya B? Saya kira dia lebih baik daripada sekedar B; seharusnya minimal A minus”. Maka jadilah kami bertiga berdebat sendiri, membiarkan si mahasiswi teronggok agak lama di luar ruang ujian, ha ha ha!

 

 

Tapi bagi seorang dosen penguji, tidak ada momen lebih menyeramkan ketika menguji seorang mahasiswa cemerlang yang naskah tesisnya sudah sangat bagus mendekati sempurna. Maka teror pun beralih dari sang teruji ke sang penguji, karena yang belakangan ini lantas sibuk berpikir-pikir: ‘ntar aku mau tanya apa yaaa??”

 

Selamat menulis skripsi!

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized