Kesalahan Umum dalam Skripsi

Posted on January 21, 2014

0


Setelah sekian lama menjadi dosen pembimbing tesis, saya menengarai setidaknya ada dua kesalahan yang sering dilakukan oleh para mahasiswa penulis tesis/skripsi:

 

Pertama, menyajikan rumusan masalah yang bisa dijawab tanpa harus mengadakan pengumpulan data dan analisis data. Rumusan masalah seperti: “apakah paralinguistik itu?”, atau “apakah makna dari emoticon?” sekilas seperti suatu rumusan masalah yang menarik, namun setelah dicermati ternyata pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa dijawab tanpa harus menggali data. Untuk menjawab kedua ‘masalah penelitian’ tersebut, si mahasiswa cukup membuka kamus linguistik, atau Wikipedia, atau kamus emoticon, kemudian meringkas informasi yang ada disitu, dan selesailah semuanya. Langkah tersebut tidak memerlukan  kegiatan pemilihan responden, pembuatan instrumen penggali data, uji coba, pengambilan data lewat angket, interview, tes, atau observasi, apalagi analisis data. Maka, rumusan masalah seperti itu jelas-jelas sangat lemah dan harus diganti atau dirombak.

 

Sekilas gejala tersebut menggelikan, ya, dan mungkin Anda bertanya? “ah, apa iya ada proposal tesis yang seperti itu?”. Yah, kalau ndak ada mah saya tidak akan menulisnya disini sebagai kelemahan paling menyolok dalam pembuatan tesis.

Untuk mengatasi  kemungkinan terjebak pada kesalahan pertama, coba ketika menulis proposal, Anda bayangkan atau bahkan Anda simulasikan secara sangat singkat/mini bagaimana Anda akan menganalisis data untuk sampai pada jawaban terhadap rumusan masalah, Jadi, kalau Anda mau meneliti tentang metafora sebuah novel dan mengajukan rumusan masalah “metafora jenis apakah yang ada dalam Novel A karya si B?”, coba ambil novel itu dan bacalah; ambil beberapa kalimat dan tandai mana ungkapan metafornya. Kalau Anda bisa menemukannya dan dengan demikian menjawab sendiri rumusan masalah tersebut, berarti Anda berada di jalur yang benar.

 

Kesalahan umum kedua adalah mengacaubalaukan pengertian data dan analisis data. Data adalah apapun yang ditarik atau digali dari lapangan (responden, situasi, buku, teks), kemudian dianalisis;  dari analisis muncullah pola-pola tertentu yang kemudian dilaporkan sebagai temuan atau hasil penelitian. Data bukan informasi yang didapatkan dari kita membaca buku-buku penunjang teori. Jadi, kalau Anda sedang meneliti tentang metafor dalam sebuah novel, ya datanya berasal dari novel tersebut. Data itu berupa kalimat demi kalimat yang tersusun dalam novel tersebut, yang kemudian harus Anda analisis (pilah-pilah) sehingga ketemulah ungkapan-ungkapan metaforis yang menjadi tujuan utama penelitian Anda. Anda tidak bisa mengatakan bahwa data berasal dari buku-buku di perpustakaan, materi online, atau literatur tentang metafora. Itu BUKAN data. Informasi yang Anda dapatkan dari materi-materi tersebut TIDAK akan akan Anda analisis, makanya tidak bisa disebut data. Informasi itu hanya akan Anda gunakan untuk menambah wawasan dan pengetahuan Anda tentang obyek penelitian yang sedang Anda ingin temukan. 

 

Mungkin Anda akan tertawa dan spontan berkata: “Halah! Masa ada sih peneliti sampai sedemikian kelirunya?”. Lhoh, lha kalau saya ndak melihat kesalahan itu dilakukan berulang kali oleh para mahasiswa ya ndak akan saya tulis disini toh?

 

Apa sih analisis itu? Analisis adalah tindakan memecah-mecah sebuah gugus data menjadi beberapa komponen penyusunnya, kemudian menentukan bagaimana komponen tersebut berhubungan satu sama lain. Untuk sementara, cukup ini dulu definisinya;  penjelasan selanjutnya nanti tunggu saja posting saya berikutnya atau ikut kelas Metodologi Penelitian sekalian.

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized