Assalamualaikum dan ???

Posted on January 12, 2014

0


Assalamualaikum dan ???

Sapaan ‘assalamualaikum’ lazim diucapkan pada saat seseorang memulai sambutan atau pidato, bahkan ketika bertelpon. Masalahnya, karena ucapan itu umumnya dikaitkan dengan agama tertentu dan bahkan negara dan budaya Arab, cara menyikapinya oleh penerimanya pun beragam. Dari sekian banyak hadirin yang nota bene beragam itu, ada sebagian yang menjawab ucapan dengan ‘walaikumsalam’, dan ada sebagian lagi yang diam saja. Saya termasuk yang diam saja. Kenapa? Tunggu, ikuti saja uraian saya berikut ini:

Sebenarnya posting ini dipicu oleh status fesbuk seorang mahasiswa yang juga merasa bingung apa yg harus dia jawab ketika seorang temannya menyapa ‘assalamualaikum’. Ada yang menerangkan itu adalah sapaan yang bisa ditujukan kepada hadirin dari golongan agama tertentu, dan bisa juga ditujukan kepada semua orang. Keduanya, menurut hemat saya, agak aneh. Satu, kalau itu ditujukan kepada golongan tertentu, lho kok gitu ya? Bukannya si pembicara tahu bahwa hadirin di depannya tidak semuanya beragama itu. Dua, kalau itu ditujukan kepada semua hadirin, ya aneh juga. Kenapa harus memakai bahasa Arab? Bukannya kita punya bahasa indah nan agung yang sudah sangat fungsional dan komunikatif yang bernama bahasa Indonesia ya? Kenapa bukan ‘selamat pagi dan salam sejahtera’?

Seorang fesbuker lain menanggapi: ‘itu hanya masalah bahasa. Udah, dibuat gampang aja’.

Maka pertanyaan saya kembali seperti yang di atas: kenapa harus memakai bahasa Arab? Masak iya bahasa Indonesia sudah sedemikian parahnya sampai mengungkapkan salam sejahtera saja ndak bisa??

Nah, saya balik sekarang. Seandainya saya yang membuka pidato dengan ucapan ‘shaloom’, yang dalam bahasa Israel artinya ‘salam’, bagaimana reaksi hadirin?

Nah, saya memang termasuk yang diam saja kalau disapa seperti itu, atau membalas dengan salam dalam bahasa Indonesia. Kenapa? Saya tidak mau peristiwa memalukan ketika saya praktek mengajar di sebuah sekolah berlabel agama terulang. Ketika itu, setiap guru harus memulai pelajaran dengan salam bahasa Arab tersebut. Karena saya tidak beragama itu, saya kagok bukan main, dan akibatnya menjadi tertawaan seluruh murid karena ketika seharusnya mengucapkan ‘assalammualaikum’ malah bilang ‘walaikumsalam’, dan sebaliknya. Alasan kedua, masih sama seperti argumen saya tadi: kenapa harus memakai bahasa Arab? Kenapa tidak bahasa Indonesia?

Ada keberatan?

Demikian dari saya. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk semua.

Sent from my iPad

Tagged: , ,
Posted in: Uncategorized