Kerja Kelompok

Posted on January 11, 2014

0


Kerja Kelompok

Kerja kelompok ternyata tidak sesederhana yang selama ini diperkirakan dan dipraktekkan. Sudah lazim bahwa guru atau dosen yang sudah mulai kehabisan kreativitas lalu begitu saja menyuruh kelasnya untuk bekerja dalam kelompok. Pengelompokannya pun dibuat sembarangan. Umumnya deret ini kelompok satu, deret berikutnya kelompok dua dan seterusnya. Ternyata setelah diam diam mengamati dan bahkan meneliti perilaku mahasiswa ketika bekerja kelompok, saya makin menyadari ada beberapa hal yang harus diperhatikan kalau ingin pengelompokan itu menghasilkan kinerja yang efektif.

Pertama, kelompok harus punya tujuan yang dipahami bersama oleh semua anggotanya. Tujuan itu bisa menemukan solusi suatu masalah, meringkas isi bab, atau menyiapkan presentasi.

Kedua, kelompok sebaiknya terdiri dari anggota-anggota yang mempunyai kecakapan berbeda namun bisa saling mengisi. Seorang Lionel Messi yang punya daya dobrak luar biasa di jantung pertahanan lawan hanya bisa demikian kalau dia mendapat suplai umpan terobosan yang matang dari pemain tengah atau sayapnya. Sang pemain tengah juga baru bisa berkiprah kalau pemain belakangnya menjaga supaya bola mengalir ke depan. Seorang mahasiswa yang pintar menulis rumusan kalimat bisa efektif kalau ada pemimpin yang bisa mengarahkan jalannya diskusi kelompok, dan ada rekannya yang kritis melihat dari berbagai sudut pandang supaya kelompok itu tidak gegabah mengambil keputusan.

Ketiga, dan ini yang tidak mudah, adalah mempunyai anggota-anggota yang memang merasa cocok dan pas satu sama lain. Kecocokan ini, percaya atau tidak, ternyata lebih bertumpu pada faktor emosi. Saya pernah mogok bicara dan berfungsi dalam suatu kelompok karena merasa ada satu orang rekan yang sangat mendominasi baik dalam giliran bicara maupun mengambil keputusan. Kalau ndak percaya tanyakan bu J yang sudah keluar dari lembaga saya. Dia saksi mata kengambekan saya itu. Dalam kelompok yang tidak efektif, akan ada satu orang yang cenderung mendominasi dan kalau sudah begitu yang lain jadi merasa ogah mau bicara dan bertindak. Ini sama sekali bukan faktor intelektual; ini adalah hal pengendalian faktor afektif atau emosi, bukan?

Yg juga destruktif adalah anggota kelompok yg tidak peka dan punya sifat mendompleng. Jadi, mereka akan lebih banyak diam atau bekerja dengan gaya minimalis, lalu ketika hasil sudah terbentuk ikut-ikutan menikmati buahnya. Ini juga pasti akan membuat geram anggota lain yang berupaya lebih keras. Ini masalah klasik. Kelompok mentoring saya pernah mengalami yang beginian, dan akibatnya sang anggota yang merasa jadi kuda beban itu menyumpah serapahi teman-temannya yang malas di depan umum!

Nah, apakah kerja kelompok itu kewajiban untuk semua? Ya, tidak selalu. Sekalipun di dunia nyata manusia harus bekerja sama, nyatanya ada beberapa gelintir individu yang akan berkinerja lebih kinclong ketika bekerja sendirian. Saya pernah punya mahasiswa yang sangat pintar, namun tidak disukai ketika kerja kelompok karena sikapnya yang kasar. Masak temannya pernah dipisuhi ketika melakukan kesalahan kecil saja. Ya sudah, akhirnya kami sepakat membiarkannya kerja sendirian, dan toh hasilnya bagus. Memang dunia ini selalu mengandung yang unik-unik seperti itu. Ya sudahlah, dipelihara aja manfaatnya.

Jadi mengatur manusia untuk bekerja kelompok memang perlu kepekaan dan ilmu tersendiri. Tapi setidaknya ada tiga hal yang bisa disarikan dari uraian saya tadi: kecocokan emosional, serta tujuan dan peran yang jelas dan saling mengisi, dan kepekaan masing2 elemennya.

Sent from my iPad

Tagged:
Posted in: Uncategorized