Lao Shi

Posted on January 9, 2014

0


Ketika masuk Ma Chung 1 Februari 2008, saya tidak pernah bermimpi bahwa pada suatu hari saya akan diserahi tanggung jawab menjadi atasan beberapa dosen dari negeri Tirai Bambu. Tapi itu terjadi sejak saya menjadi Dekan Fakultas Bahasa dan Seni. Rasanya seperti mendadak saja saya digiring oleh seorang pendiri yayasan ke sebuah ruang rapat dimana para lao shi dari China itu menunggu. “Nah, ini adalah para lao shi yang mulai saat ini harus patuh pada arahan Anda”, demikian bapak pendiri itu mengatakan. Di depan saya berdiri sekitar selusin dosen berusia sekitar 25 sampai awal 30 an tahun, sebagian besar wanita, beberapa pria, dengan sikap hormat berdiri di dekat meja kerjanya masing-masing. Saya menyapa mereka dan dengan singkat memperkenalkan diri saya serta meminta identitas diri mereka satu persatu. Nama-nama mereka yang khas itu dengan susah payah harus saya ingat-ingat, baik nama maupun cara pengucapannya. Belakangan baru saya tahu dari salah satu di antara mereka bahwa nama saya, Patrisius, sungguh mati sangat sulit buat diingat maupun diucapkan oleh mereka. Yah, kita impas kalau begitu, kawan, ha ha!

Itulah awal interaksi saya dengan para lao shi. Karena saya belum bisa berbicara bahasa Mandarin dan mau kursus hanya berhenti sampai level “promising” (alias berjanji mau kursus tapi tetap aja ndak jadi-jadi), maka mereka lah yang mengalah berbicara bahasa Inggris dengan saya. Bahasa Inggrisnya pun beragam, mulai dari yang praktis nol putul seperti pelatih wu shu kapan hari itu, sampai yang sangat lancar seperti koordinator Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin dari Jinan itu. Secara umum, komunikasi dengan mereka cukup baik, walaupun kadang-kadang ada beberapa momen dimana kami sama-sama bingung apa maksudnya masing-masing, dan terpaksa memanggil dosen Indonesia yang sudah mahir berbicara bahasa China untuk menerjemahkan.

Yang saya salut dari mereka ini adalah komitmennya yang kuat untuk memperkenalkan budaya Tiongkok ke segenap masyarakat baik di kampus maupun di luar kampus. Banyak kali saya sering melihat mereka tekun mempersiapkan atribut seni, entah itu berupa kaligrafi, paper cutting, knitting, bahkan memasak. Kalau sudah sampai pada pengenalan kesenian budaya mereka, kayaknya mereka seperti mendapat suplai energi tambahan. Saya beberapa kali melihat mereka latihan koor di saat sudah larut sore dan kantor sudah tutup karena para dosen lain sudah pulang. Itu belum termasuk kegiatan mencari segala pernak-pernik hiasan Tionghoa seperti lampion, kue bulan dan banyak lagi yang bahkan saya sendiri tidak tahu dimana mencarinya di kota Malang ini.

Karena komitmen yang sangat kuat ini, pada saat tertentu terasa mereka seperti terlalu mendesakkan keinginannya kepada kalangan mahasiswa yang selama ini mendampingi mereka. Suatu kali, mahasiswa saya curhat panjang lebar lewat sms, mengatakan bahwa dia dimarahi habis-habisan oleh seorang lao shi yang menjadi dosen pengasuh Chinese Corner karena dianggap kurang mati-matian mempersiapkan suatu acara. “Lha kan saya ya ndak bisa segitunya, pak, wong saya dan teman-teman ya masih harus ikut kuliah”, demikian dia bilang. Karena nampaknya dia sudah mulai patah arang, saya terpaksa memanggil si lao shi itu ke kantor saya untuk saya beri pengarahan. Dia tampak patuh dan mau memahami. Nah, begitu sudah selesai, kami pulang dan sampai di rumah si mahasiswa itu sms lagi: “Pak, saya dimarahi lagi sama dia karena dianggap mengadu.” Hadeeeehhh!

Ternyata sudah banyak juga lao shi yang saya kenal sejak gelombang pertama dulu. Beberapa masih saya lihat status dan peragaan diri mereka di fesbuk. Ada yang sempat menjadi dekat semasa mereka bekerja di bawah saya dulu. Salah satunya adalah WKY, seorang dosen pria, yang banyak menghabiskan waktu bersama saya ketika kami mendampingi mahasiswa study tour ke Yogya. Masih ada lagi tapi berhubung sudah pernah saya ceritakan di blog ini wis ndak usah ya. Tapi yang satu ini adalah yang pernah membuat saya sangat terkesan. Ketika jatuh hari ulang tahun saya, dia berlari dari gedung Bhakti Persada untuk menyusul saya yang sedang berjalan melintasi teras untuk dengan manisnya mengucapkan selamat ulang tahun sambil memberikan sebuah hiasan khas negerinya. That was an act sooo sweet I was completely blown away by her.

Budaya apa yang bisa saya serap dari mereka? Karena sebagian besar adalah perempuan dan saya pria, rasanya bisa dimaklumi kenapa tidak banyak yang bisa saya pelajari dari mereka secara dekat. Namun ada juga yang mau dengan berani menembus “tembok psikologis” itu dan menghabiskan waktu seperjalanan bis dari Mojokerto ke Malang untuk mengajari saya cara makan dengan sumpit. Dasarnya saya yang tolol atau mungkin karena grogi, hal yang seharusnya gampang itu jadi terasa suliiiit banget. Entah berapa kali sumpit itu meleset atau makanannya jatuh dari tangan saya karena belum benar juga cara saya menanganinya. Dia dengan telaten mengajari saya sampai tak terasa bis sudah mau sampai Malang. Beberapa hari kemudian, saya cerita hal itu ke seorang mantan mentee saya yang main-main ke kantor. “Gampang kok,” dia bilang, sambil memperagakannya dengan dua buah pensil. Saya tiru caranya. Eh, langsung bisa!

Nah, tahu kenapa saya kok ujug-ujug nulis blog tentang lao shi? Ini ceritanya gini: hari ini ada kunjungan tamu dari Thailand, dan salah satu acaranya di awal sore ini adalah melihat kesenian Tionghoa. Ketika berjalan keluar untuk cari udara segar, saya melihat dua orang lao shi sedang berlatih menari di ujung selasar di luar gedung. Sebagai bapak buah yang baik, rasanya saya perlu melihat mereka dan memberikan semangat atau menanyakan semua lancar atau tidak. Maka sayapun melangkah mendekat. Mendadak, saya merandeg melihat kostum yang mereka kenakan. Yaah, kalau kuliah sudah mulai, rasanya rok sependek itu pasti akan membuat saya bergairah untuk memberikan teguran, ha ha ha! Tapi berhubung ini sedang liburan semester dan lagipula ada acara kunjungan, ya sudahlah ndak mengapa. Tapi kalau begitu rasanya lebih baik saya tidak mendekat deh. Lebih baik balik kanan lalu ngendon lagi dikantor untuk menulis posting ini🙂

Posted in: Uncategorized