Anjing

Posted on January 8, 2014

2


 

Berani taruhan, tidak ada satupun pembaca blog ini yang tidak suka anjing. Itu membuat saya  merana, karena dengan demikian saya resmi menjadi kaum minoritas. Saya tidak suka anjing, sementara keluarga saya, dari keluarga besar maupun keluarga inti bahkan sampai pembantu rumah tangga, semuanya suka anjing. Di rumah, setelah ada satu anjing geladak yang diberi seorang mahasiswi Akuntansi, keluarga saya suatu ketika ditawari anjing ras entah dari jenis apa pom pom atau apalah kayak gitu. Semua bilang “let us adopt her!”, dan hanya saya yang bilang “tidak”. Ya jelas saya kalah melawan suara mayoritas. Maka diadopsilah anjing itu. Masya allah, cerewetnya minta ampun. Semua digonggongi dengan suaranya yang melengking itu, sehingga rumah jadi bising. Belum lagi karena rumah kami ndak punya halaman atau ruang khusus anjing, maka kencingnya pun bisa di garasi rumah atau bahkan di dekat kamar. Makin lama di dekat garasi itu baunya pesing. Maka ketika kesabaran saya sudah habis, saya melarang anjing itu ke lantai dua tempat saya biasa bersantai atau tidur di kamar. “Sampai kencing di lantai dua, tak pateni tenan” saya mengancam. Semua orang rumah menganggap serius ancaman itu sehingga kalau si genit itu naik ke lantai dua mereka dengan susah payah mengusirnya. Pikir mereka, lebih baik diusir sebelum mati di tangan sang bapak. 

 

Orang tua saya memelihara dua  anjing di rumahnya yang dulu, dan sekarang pun ketika sudah pindah ke rumah baru, mereka memelihara satu anjing lagi. Warnanya putih, gonggongannya ngebas, tapi nakalnya alamaak. . . .Saya pernah harus dengan susah payah masuk ke rumah mereka karena sang anjing tidak mau berhenti melonjak-lonjaki saya.

 

Saya diam saja tapres (tanpa ekspresi) kalau melihat rekan-rekan di kantor atau sepupu-sepupu bercengkerama atau saling tukar informasi tentang anjing. Sudah pasti tambah nyata fakta bahwa saya minoritas dalam hal peranjingan ini.

 

Ketika akhirnya kemurahan Tuhan mengijinkan saya punya tempat tinggal sederhana yang baru, dengan serta merta saya memasang larangan: “No dogs, cats, birds, or hamsters allowed!”. Dasarnya anak-anak dan istri saya suka sekali binatang piaraan. Rumah di Sulfat sudah nyaris kayak secret zoo mini ketika mereka memelihara anjing, kucing, hamster, ikan, kura-kura, terus masih ditambah bebek dan burung yang untungnya segera dibuang ketika isu virus flu burung menyebar. Saya ya hanya bisa sedih setiap melewati bagian garasi yang berbau pesing karena ompol anjing-anjing kesayangan keluarga itu. Maka di tempat tinggal yang baru saya ceritakan tadi dijamin Anda tidak akan mendengar kicau atau gonggong satu pun binatang peliharaan. Saya mau rumah saya sepi, berbau wangi alam atau penyejuk ruangan, cocok untuk beristirahat atau menulis buku.

 

 

Tagged: ,
Posted in: Uncategorized